JawaPos.com – Coping mechanism adalah strategi pikiran dan perilaku yang kita gunakan untuk menghadapi masalah, stres, maupun ancaman hidup sehari-hari.
Sebagai contoh kecil, ketika Anda ingin ngopi dan tidak ada uang, Anda akan mencoba untuk meminjam kepada teman. Ini adalah bentuk coping mechanism dari tubuh Anda.
Setiap orang pasti pernah berhadapan dengan situasi sulit yang membuat tertekan, gelisah, atau bahkan kewalahan.
Dii sinilah coping mechanism berperan, sebagai semacam “alat” untuk menyeimbangkan emosi sekaligus membantu kita untuk tetap melangkah maju.
Coping mechanism sendiri memiliki beberapa tipe berdasarkan fokusnya. Ingin tahu lebih dalam tentang cara tubuh bertahan yang satu ini? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Verywell Mind.
Baca Juga: Dari Nol Jadi Sultan! 8 Shio yang Ditakdirkan Menjadi Konglomerat dengan Kekayaan Tak Terbatas
1. Mengapa Kita Melakukan Coping Mechanism?
Dalam keseharian Anda, stress adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan terkadang membuat kita sangat terbebani. Bahkan hal sekecil macet bisa membuat stress.
Pada akhirnya badan Anda akan melakukan coping mechanism seperti mengklakson orang, menyalurkan emosi atau mendengarkan lagu.
Dalam kondisi apa pun, manusia akan cenderung menggunakan coping mechanism sebagai cara untuk bertahan.
Tapi kenapa kita melakukan hal itu? Pertama, coping mechanism membantu kita mengurangi stres dan meminimalkan dampaknya, sehingga kita bisa tetap tegar dan membangun ketahanan diri.
Kedua, coping mechanism berperan penting untuk mengatur emosi supaya kita tidak sepenuhnya dikendalikan rasa takut, panik, atau putus asa dalam kondisi yang lebih ekstrem.
Semua ini dilakukan karena Stres yang dibiarkan menumpuk bisa memicu berbagai masalah serius, mulai dari depresi, gangguan pencernaan, nyeri otot, kenaikan berat badan, hingga penyakit jantung.
Baca Juga: September 2025 Jadi Momen Indah: 11 Weton Ini Diprediksi Akan Diselimuti Berkah Rezeki Tak Terbatas
2. Macam - Macam Coping Mechanism
Secara umum, ada dua gaya utama yang sering digunakan orang ketika berhadapan dengan stres yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping.
Keduanya sama-sama bertujuan membantu kita bertahan dari tekanan dan bahaya, hanya saja cara kerjanya berbeda.
Problem-Focused Coping – Strategi ini berfokus langsung pada akar masalah yang menyebabkan stres. Intinya, kita berusaha mengubah atau menghilangkan sumber tekanan dengan cara menghadapi persoalan tersebut secara nyata.
Sebagai contoh, Anda merasa lemah saat public speaking padahal besok ada presentasi yang harus dilakukan di depan audiens.
Langkah yang Anda ambil mungkin berupa mempelajari materi atau berlatih hingga merasa cukup percaya diri dengan kemampuan Anda.
Emotion-Focused Coping – Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, emotion-focused coping lebih menekankan pada cara mengelola perasaan saat berhadapan dengan kondisi yang tidak bisa kita kendalikan.
Misal Anda sedang galau karena hubungan romantis Anda baru saja berakhir. Langkah yang Anda ambil bisa jadi menuliskan apa yang Anda rasakan pada jurnal atau berusaha merasakan kesedihan.
Namun, coping mechanism tidak selalu berbentuk hal yang positif dan bisa saja memicu tindakan tindakan negatif.
Tindakan negatif ini dapat berbentuk menghindari masalah yang sedang Anda alami atau menyalurkan kemarahan – pada saat macet misalnya – kepada orang sekitar Anda.
Stres yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu masalah serius, seperti penyalahgunaan zat, alkohol, atau tindakan menyakiti diri sendiri.
Pada akhirnya, coping mechanism adalah bagian alami dari cara kita bertahan menghadapi tekanan hidup.
Namun, penting bagi kita untuk mengenali strategi mana yang sehat dan mana yang justru bisa merugikan diri sendiri.
Dengan memahami dan memilih coping mechanism yang tepat, kita bisa menjaga keseimbangan emosi, membangun ketahanan dan terhindari masalah mental.