JawaPos.com - Membesarkan anak yang baik dan percaya diri adalah salah satu tantangan paling berharga yang dapat dihadapi seorang ayah.
Dan meskipun tidak ada buku petunjuk yang sempurna untuk mengasuh anak, psikologi telah mengungkapkan beberapa perilaku utama yang dapat membuat perbedaan.
Cara ayah hadir dalam kehidupan anak lelakinya membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia di sekeliling mereka.
Ini bukan sekadar memberikan pelajaran, ini tentang memodelkan nilai-nilai, membangun kepercayaan, dan menciptakan lingkungan tempat kebaikan dan rasa percaya diri dapat tumbuh subur.
Dalam artikel yang dikutip dari Hack Spirit, Kamis (6/2) ini, kita akan mengungkap sepuluh perilaku hebat yang dapat dipraktikkan para ayah untuk membantu putra-putranya tumbuh menjadi pria yang penuh kasih sayang dan percaya diri.
Ini bukanlah strategi yang rumit, ini adalah tindakan yang sederhana dan disengaja yang meninggalkan dampak yang bertahan lama. Mari kita bahas.
1. Tunjukkan cinta tanpa syarat kepada putra Anda
Salah satu hal paling hebat yang dapat dilakukan seorang ayah adalah membuat putranya merasa dicintai, apa pun yang terjadi.
Ini tidak berarti mengabaikan kesalahan atau perilaku buruk, tetapi ini berarti memisahkan siapa putra Anda dari apa yang dilakukannya.
Ketika seorang anak tahu bahwa harga dirinya tidak bergantung pada pencapaian atau kegagalannya, ia akan tumbuh percaya diri untuk menghadapi dunia tanpa takut dihakimi.
Psikolog Carl Rogers, salah satu pelopor psikologi humanistik, mengatakannya dengan tepat, “Paradoks yang aneh adalah ketika saya menerima diri saya apa adanya, maka saya dapat berubah.”
2. Ajarkan ketahanan emosional dengan mencontohkannya sendiri
Psikolog Daniel Goleman, yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional, pernah berkata, “Jika kemampuan emosional Anda tidak terkendali… maka tidak peduli seberapa pintar Anda, Anda tidak akan bisa melangkah jauh.”
Mengajarkan ketahanan emosional bukan tentang melindungi anak-anak kita dari kesulitan, tetapi tentang menunjukkan kepada mereka cara menghadapinya secara langsung tanpa kehilangan kebaikan atau kepercayaan diri mereka sendiri.
Jadi lain kali kehidupan memberi Anda tantangan, ingatlah, respons Anda adalah mengajari anak Anda cara menangani kesulitannya sendiri suatu hari nanti.
Tetap tenang, tetap terbuka, dan tunjukkan padanya bahwa ketangguhan adalah keterampilan yang patut dilatih.
3. Akui kesalahan Anda
Psikolog Brené Brown banyak berbicara tentang kerentanan, katanya, “Kerentanan bukanlah menang atau kalah, tetapi memiliki keberanian untuk muncul ketika Anda tidak dapat mengendalikan hasilnya.”
Saat kita mengakui kesalahan kita kepada anak-anak, kita menunjukkan kepada mereka bahwa tidak apa-apa memiliki kekurangan dan bahwa tanggung jawab merupakan kekuatan, bukan kelemahan.
Dengan mengakui kesalahan kita, kita mengajarkan kepada putra-putra kita bahwa kebaikan dimulai dengan kesadaran diri dan kejujuran.
Ini bukan tentang menjadi sempurna, ini tentang menjadi nyata. Dan sejujurnya? Itulah yang paling mereka butuhkan dari kita.
4. Dorong kemandirian sambil tetap memberikan dukungan
Daripada berkata tidak saat anak kita meminta izin untuk menjelajah alam, bantulah anak kita dalam memetakan rute yang paling aman, mengingatkannya untuk melapor saat sudah tiba, dan melepasnya dengan senyuman lebar (dan rasa terharu).
Melepaskannya sedikit tidaklah mudah, tetapi melihatnya pulang dengan berseri-seri penuh percaya diri sepadan dengan semua kekhawatirannya.
Mendorong kemandirian tidak berarti mundur sepenuhnya, melainkan menciptakan keseimbangan di mana putra Anda tahu bahwa Anda memercayainya tetapi juga bahwa Anda ada di sana jika ia tersandung.
Saat-saat kecil kebebasan inilah yang membantunya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan yakin pada kemampuannya sendiri.
Dan betapapun sulitnya melepaskannya, itu adalah salah satu hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada mereka.
5. Biarkan dia melihat Anda gagal
Ini mungkin terdengar aneh pada awalnya, bagaimanapun juga, bukankah kita seharusnya memberi contoh kesuksesan kepada anak-anak kita?
Tetapi, jika putra Anda hanya melihat Anda melakukannya dengan benar, dia akan berpikir kegagalan adalah sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.
Bagaimana dengan rasa takut gagal? Rasa takut gagal dapat menghancurkan kepercayaan dirinya dan membuatnya enggan mengambil risiko atau mencoba hal baru.
Membiarkan putra Anda melihat Anda gagal bukanlah tentang mengagungkan kesalahan, melainkan tentang menormalkannya.
Ketika dia memahami bahwa kegagalan hanyalah batu loncatan menuju pertumbuhan, dia akan lebih bersedia menghadapi tantangan hidup dengan keberanian dan ketahanan.
6. Prioritaskan waktu berkualitas daripada kuantitas
Entah itu perbincangan selama sepuluh menit tentang video game favoritnya atau menghabiskan sore hari membangun Lego bersamanya, memberinya perhatian penuh telah membuat ikatan kami lebih kuat dari sebelumnya.
Bukanlah gerakan besar atau jam kerja yang tak terbatas yang terpenting, melainkan kehadiran yang konsisten dalam cara yang bermakna.
Ketika ayah memprioritaskan waktu berkualitas, mereka mengajarkan kepada putra-putranya bahwa hubungan dibangun atas dasar koneksi, bukan sekadar kedekatan.
Saat-saat penuh perhatian itu menunjukkan kepada putra Anda bahwa Anda peduli padanya, dan itulah yang membantunya tumbuh menjadi pria baik hati dan percaya diri yang menghargai hubungan bermakna dengan orang lain.
7. Ajarkan rasa hormat dengan menunjukkannya padanya
Seiring bertambahnya usia, kita akan menyadari bahwa rasa hormat bukanlah sesuatu yang dapat Anda tuntut, melainkan sesuatu yang harus Anda contohkan.
Ketika anak-anak merasa dihormati, mereka belajar untuk memberikan rasa hormat yang sama kepada orang lain.
Memperlakukan anak Anda dengan hormat mendorong rasa harga diri mereka dan menumbuhkan kebaikan terhadap orang lain.
Dengan menghargai pikiran, perasaan, dan individualitas putra Anda, bahkan saat Anda tidak setuju dengannya, Anda mengajarinya bahwa setiap orang berhak mendapatkan martabat.
8. Hadirlah, bahkan ketika itu tidak nyaman
Psikolog Carl Rogers pernah berkata, “Ketika seseorang benar-benar mendengarkan Anda tanpa menghakimi Anda, tanpa mencoba mengambil tanggung jawab atas Anda, tanpa mencoba membentuk Anda, rasanya sangat menyenangkan.”
Itulah yang terkadang dibutuhkan anak-anak kita dari kita, bukan jawaban atau solusi, tetapi kehadiran dan empati.
Hadir secara langsung tidak berarti Anda akan selalu memiliki respons yang sempurna atau Anda akan tahu apa yang harus dikatakan.
Artinya, hadirlah sepenuhnya, bahkan di saat-saat yang sulit dan tidak nyaman, dan biarkan putra Anda tahu bahwa emosinya valid dan aman bersama Anda.
Pada saat-saat awal hubungan itu, Anda membantunya membangun kekuatan emosional dan kebaikan yang akan dibawanya seumur hidup.
9. Biarkan dia berjuang
Psikolog Angela Duckworth, yang dikenal karena karyanya mengenai kegigihan, menjelaskan bahwa ketekunan melalui perjuangan adalah kunci untuk membangun ketahanan.
Bila kita membiarkan anak kita menghadapi tantangan tanpa segera menyelamatkan mereka, kita sedang mengajari mereka cara bertahan dan memercayai kemampuan mereka sendiri.
Membiarkan putra Anda berjuang tidak berarti meninggalkannya, itu berarti mendampinginya, mendukungnya secara emosional, tetapi menahan keinginan untuk menyelesaikan segalanya untuknya.
Kepercayaan diri yang diperolehnya dari mengatasi rintangan sendiri akan membentuknya menjadi orang dewasa yang cakap dan percaya diri yang tahu bahwa ia bisa menangani tantangan hidup.
10 Minta maaf ketika Anda melakukan kesalahan
Mengatakan kata-kata maaf tidaklah mudah. Sebagai orang tua, terkadang kita merasa mengakui kesalahan akan melemahkan otoritas kita.
Padahal faktanya, meminta maaf tidak melemahkan ikatan kita, malah memperkuatnya.
Meminta maaf saat Anda melakukan kesalahan menunjukkan kepada anak Anda bahwa hubungan dibangun atas dasar rasa saling menghormati dan percaya, bukan kesempurnaan atau kekuasaan.
Dengan mengatakan “Maafkan aku” saat kita perlu, kita mengajarkan anak-anak kita bahwa orang dewasa pun bisa melakukan kesalahan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bertanggung jawab dan memperbaiki keadaan.
Itu salah satu cara paling sederhana namun paling ampuh untuk mencontohkan kebaikan dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
***