JawaPos.com – Hubungan antara pola makan dan kesejahteraan emosional, khususnya perasaan sedih dan kesepian memang ada.
Oleh karena itu, perlu ditekankan bahwa menjaga pola makan seimbang dan bergizi sangat penting bagi kesehatan fisik dan kesejahteraan mental.
Untuk mengetahui lebih lanjut, inilah penyebab seseorang bisa merasa sedih dan tertekan, seperti dikutip dari Times of India, Sabtu (21/9).
Baca Juga: Ambivert vs Omnivert: Apa Perbedaannya dan Apakah Kamu Salah Satunya, Begini Kata Ahli Psikologi
Kekurangan nutrisi dan suasana hati
Pola makan yang kekurangan nutrisi penting seperti vitamin, mineral, asam lemak omega-3, dan asam amino dapat menyebabkan ketidakseimbangan zat kimia otak yang mengatur suasana hati yakni serotonin dan dopamin.
Ketidakseimbangan ini sering dikaitkan dengan perasaan sedih, cemas, dan bahkan kesepian.
Pola makan kaya buah-buahan, sayuran, protein rendah lemak, dan lemak sehat dapat menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk mendukung fungsi otak dan ketahanan emosional.
Pengaturan gula darah
Ahli gizi Rohini Patil menyebut kadar gula darah tidak stabil akibat pola makan tidak menentu, sering mengonsumsi makanan manis atau olahan, atau pembatasan kalori ekstrem dapat memengaruhi suasana hati.
Oleh karena itu, mengonsumsi makanan dan camilan yang seimbang mencakup karbohidrat kompleks, protein rendah lemak, dan lemak sehat harus menjadi perhatian utama.
Pendekatan ini menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mencegah energi menurun yang dapat menyebabkan perasaan mudah tersinggung, suasana hati buruk, dan bahkan isolasi sosial.
Baca Juga: 7 Cara Orang Berkelas Meraih Rasa Hormat Tanpa Bersusah Payah, Bahasa Tubuh Perlu Diperhatikan
Hubungan otak dan usus
Hubungan otak dan usus menunjukkan adanya komunikasi dua arah antara otak dan usus.
Khususnya, usus memproduksi dan menampung hormon bahagia seperti serotonin dan dopamin, yang secara signifikan memengaruhi suasana hati dan kesejahteraan seseorang.
Hubungan ini dipengaruhi oleh pola makan, di mana makanan olahan dan rendah serat dapat mengganggu kesehatan usus yang berpotensi memengaruhi produksi neurotransmitter.
Baca Juga: Mengenal 8 Rutinitas Harian Orang Bermental Kuat yang Mereka Lakukan Tanpa Sadar, Apa Saja Itu?
Namun, dengan mengonsumsi makanan kaya serat, prebiotik, dan probiotik, ini mendukung mikrobioma usus, membantu produksi neurotransmiter pengatur suasana hati.
Pada akhirnya, menutrisi usus dapat berdampak positif pada kesejahteraan emosional seseorang.
Aspek sosial dan psikologis
Berbagi makanan dengan orang terkasih, memiliki hubungan positif dengan makanan, dan mempraktikkan makan penuh kesadaran dapat berkontribusi pada rasa keterhubungan dan kepuasan emosional.
Baca Juga: Ingin Cantik Berseri-seri? Intip 6 Makanan Kaya Vitamin E untuk Kulit Glowing dan Sehat
Sebaliknya, diet ekstrem, pola makan terbatas, atau menggunakan makanan sebagai mekanisme koping dapat menyebabkan perasaan terisolasi, bersalah, dan kesepian.
Pendekatan yang dipersonalisasi
Kita semua tahu bahwa tidak ada solusi yang cocok untuk semua orang dalam hal nutrisi dan kesejahteraan emosional.
Kebutuhan diet, preferensi, dan pengaruh budaya setiap individu bersifat unik.
Baca Juga: Penting! Ini 6 Obat Alami Meredakan Gejala Asam Urat, Ada Jus Ceri Hitam hingga Minyak Ikan
Akan selalu lebih baik untuk mengambil panduan dari ahli diet atau ahli gizi yang dapat memberikan saran yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan dan tujuan spesifik seseorang.