JawaPos.com – Di era digital saat ini, sangat mudah untuk terjebak dalam dunia like, share, dan retweet.
Bahkan ketika kita terbiasa memposting opini acak atau foto lucu lalu merasa cemas saat tidak ada yang bereaksi.
Media sosial benar-benar pedang bermata dua bukan? Artinya di satu sisi, media sosial sangat bagus untuk terhubung dengan teman dan orang asing yang memiliki pemikiran yang sama.
Namun, di sisi lain, ia memiliki kekuatan untuk mengubah kita semua menjadi makhluk yang terobsesi pada citra.
Banyak orang tidak memahami waktu minta yang sehat terhadap media sosial sudah berubah menjadi obsesi terhadap citra daring seseorang.
Sering kali tanpa menyadarinya, banyak orang terjebak dalam pola perilaku yang didorong oleh keinginan untuk menciptakan pesona yang sempurna untuk dunia digital.
Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai beberapa perilaku orang yang terlalu asyik dengan citra media sosial sebagaimana dilansir dari laman The Expert Editor, Jumat (9/8) sebagai berikut :
1. Terobsesi dengan like dan komentar
Salah satu perilaku orang yang terlalu asyik dengan citra media sosial adalah terobsesi dengan like dan komentar.
Artinya Anda kerap mendapati diri Anda berulang kali, memeriksa ponsel, mencari notifikasi tentang like, share, komentar atau retweet baru.
Bagi orang-orang yang terlalu sibuk dengan citra media sosial mereka, kuantitas like dan komentar menjadi ukuran harga diri mereka dan validasi yang mereka cari.
Jika merasa cemas atau kecewa saat tepuk tangan virtual tidak sekeras yang Anda harapkan maka pertanda harga diri Anda sangat erat kaitannya dengan citra media sosial Anda.
2. Mengalami FOMO
FOMO atau takut ketinggalan adalah fenomena yang semakin umum di era media sosial. Hal ini didorong oleh paparan terus-menerus terhadap cuplikan kehidupan orang lain yang dilihat.
Mulai dari menyoroti kesuksesan, kegembiraan dan petualangan yang intinya melukiskan gambaran yang tidak sepenuhnya realitis.
Perilaku ini bisa terwujud dalam bentuk terlalu sering memposting konten yang menampilkan pencapaian dan aktivitas mereka sendiri.
3. Membandingkan kehidupan Anda dengan orang lain
Tanpa kita sadari, kita semua pernah terjebak dalam perangkap perbandingan pada suatu waktu atau lainnya.
Namun, jika Anda terlalu sibuk dengan citra media sosial Anda, ini dapat menjadi pola kebiasaan.
Anda mungkin mendapati diri Anda terus-menerus mengukur hidup Anda dengan kehidupan yang tampaknya sempurna yang tampaknya sempurna yang digambarkan oleh orang lain di media sosial.
Jika Anda menyadari bahwa Anda menghabiskan lebih banyak waktu untuk membandingkan daripada terhubung sehat di media sosial maka ada baiknya Anda mundur dan istirahat sejenak.
4. Penggunaan filter dan alat pengeditan yang berlebihan
Di dunia media sosial, filter dan alat penyuntingan telah menjadi sahabat terbaik kita yang membuat kita menampilan versi diri kita yang ideal.
Akan tetapi, penggunaan alat-alat semacam itu secara berlebihan dapat menjadi tanda terlalu terobsesinya pada citra media sosial.
Membahas soal kreativitas sebenarnya tidak ada masalah namun menjadi bahaya jika Anda menggunakannya untuk menampilkan gambar yang sempurna. Ini bukanlah cara hidup yang sehat.
Intinya berusaha mencapai standar yang tidak dapat dicapai hanya akan menyebabkan masalah citra tubuh dan harga diri yang rendah.
5. Mengabaikan interaksi kehidupan nyata
Meskipun media sosial merupakan alat hebat untuk terhubung dengan orang lain, ironisnya terkadang media sosial dapat menyebabkan terputusnya hubungan dengan dunia nyata.
Anda mungkin mendapati diri lebih asyik mengabadikan momen untuk cerita Instagram daripada benar-benar mengalaminya atau lebih mengutamakan percakapan daring daripada interaksi tatap muka.