← Beranda
8 Tanda Dirimu Terlahir di Keluarga yang Salah Menurut Psikologi, Salah Satunya Kurang Dukungan
Rabbany WanadrianiRabu, 12 Juni 2024 | 18.05 WIB
ilustrasi orang tua memarahi anaknya. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa telah terlahir di keluarga yang salah? Hal ini mungkin disebabkan oleh perasaan kurang mendapat cinta, dukungan, hingga pengertian.

Selain itu, jika nilai-nilai Anda bertentangan dengan keyakinan keluarga, Anda mulai merasa seperti berada di planet lain.

Dikutip dari Hack Spirit, Rabu (12/6), berikut 8 tanda yang menunjukkan dirimu terlahir dalam keluarga yang salah menurut psikologi.

Baca Juga: Poin Penting Saat Memilih Hewan Kurban untuk Idul Adha 1445 H, Tips dari Baznas hingga Dosen UGM

  1. Nilai berbeda

Teori Disonansi Kognitif menyatakan bahwa ketika keyakinan dan nilai-nilai diri bertentangan dengan orang lain, hal itu dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis.

Dengan kata lain, Anda merasa terasing dan mempunyai keinginan untuk menjauhkan diri dari keluarga. Misalnya dari agama, politik, hingga pilihan gaya hidup.

Seiring bertambahnya usia, Anda menyadari bahwa hal itu juga disebabkan oleh benturan generasi, seperti yang terjadi pada orang terdahulu.

Baca Juga: Asam Urat Sering Kambuh? Coba 8 Minuman Berbahan Alami Ini yang Ampuh untuk Menurunkannya

  1. Pengabaian

Penelitian psikologis secara konsisten menunjukkan dampak berbahaya dari pengabaian terhadap kesehatan mental.

Orang yang mengalami trauma di masa kecil berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis lainnya.

Jadi, Anda merasa tidak aman di rumah, baik karena kekerasan fisik atau pengabaian emosional, hal ini mungkin meninggalkan bekas luka hingga dewasa.

Baca Juga: 6 Alasan Mengapa Banyak Orang Senang Mendengarkan Musik saat Berkendara, Salah Satunya Ternyata Dapat Meningkatkan Fokus

  1. Konflik

Psikologi menunjukkan tumbuh di lingkungan dengan konflik terus-menerus dapat menyebabkan stres dan kecemasan kronis.

Konflik dalam keluarga bisa menghambat perkembangan emosi yang sehat dan menimbulkan ketidakstabilan, sehingga tidak terbentuk ikatan erat dengan anggota keluarga.

  1. Kurang dukungan

Kurangnya dukungan emosional selama masa kanak-kanak bisa mengakibatkan rasa tidak aman dan rendahnya harga diri.

Baca Juga: Jennie BLACKPINK Memukau dalam Debut Runway di Acara Ulang Tahun ke-15 Jacquemus

Tanpa landasan aman yang disediakan oleh keluarga, seseorang sering kali kesulitan membentuk hubungan sehat dan mengelola stres di masa depan.

  1. Merasa tidak terlihat

Teori Identitas Sosial menyatakan bahwa perasaan tidak terlihat atau tidak dikenali dalam keluarga dapat memengaruhi rasa identitas dan memiliki.

Tanpa penegasan dan validasi dari anggota keluarga, Anda akan kesulitan mengembangkan rasa harga diri yang kuat.

Baca Juga: 3 Cara Elegan untuk Menghadapi Rekan Kerja yang Hobi Flexing, Biar Tak Mudah Mengganggu Kehidupanmu

Tidak peduli pencapaian apa yang telah diraih, tak ada seorang pun di dalam keluarga memberikan pujian, perhatian, bahkan peduli.  

  1. Dinamika tidak sehat

Tumbuh di lingkungan dengan dinamika tidak sehat juga dapat memengaruhi hubungan interpersonal dan mekanisme penanggulangannya.

Dinamika keluarga yang dianggap toxic ditandai dengan manipulasi, kontrol, dan perebutan kekuasaan.

Baca Juga: 6 Tips Berhenti dari Kecanduan Berjudi dari Para Ahli, Simak Penjelasan Berikut Ini!

  1. Perbandingan

Teori Perbandingan Sosial berperan dalam keluarga ini, di mana orang tua terus membandingkan diri Anda dengan saudara atau orang lain yang lebih unggul.

Alhasil perlakukan ini dapat mengacaukan rasa harga diri, identitas, membenci diri sendiri, dan berakhir rusaknya kesehatan mental.

  1. Jarak emosional

Beberapa orang merasa ikatan keluarga mereka tidak memiliki kedalaman atau makna nyata seolah hampir tidak ada kasih sayang, namun ada ketakutan akan kerentanan.

Baca Juga: Resep Ayam Goreng Tepung Krispi Ala Willgoz Kitchen, Rasa dan Penampakan Mirip Seperti di Restoran Cepat Saji

Sebagian besar atau seluruh anggota keluarga tidak bisa atau tidak mau mengekspresikan emosi, dan jarak di antara mereka semakin lebar seiring berjalannya waktu.

Akhirnya menuju kedewasaan, Anda mulai merasa hampa, merindukan rasa hangat dan koneksi yang sepertinya selalu di luar jangkauan. 

EDITOR: Hanny Suwindari