← Beranda
6 Alasan Mengapa Beberapa Orang Tidak Bisa Menangis meski Berada dalam Situasi Buruk dan Menyedihkan
Rahma Ariani RoshadiSelasa, 14 Mei 2024 | 20.49 WIB
ilustrasi laki-laki menangis./Freepik

JawaPos.com – Ada waktu di mana kita ditolak oleh pasangan, kehilangan pekerjaan atau orang yang kita cintai meninggal dunia. Pada kondisi ini, menangis adalah hal yang sangat wajar.

Menangis adalah ekspresi emosi yang normal. Bahkan, menangis dibutuhkan tubuh untuk lebih sehat secara fisik dan mental.

Akan tetapi, sebagian orang ternyata mengalami kondisi yang tidak biasa. Menangis menjadi hal yang sangat sulit dilakukan meskipun kesedihan sedang menghantam.

Baca Juga: Jangan Katakan 3 Hal Ini kepada Orang Depresi, Niat Baik Anda Bisa Memperburuk Situasi

Penelitian yang dilansir dari psychologytoday.com memaparkan bahwa ada orang yang bahkan sama sekali tidak dapat melepaskan emosi dengan menangis di depan orang lain, atau dimanapun.

  1. Riwayat Trauma

Tak selamanya riwayat trauma membuat orang menjadi mudah menangis. Adakalanya riwayat trauma emosional dapat mengacaukan ekspresi emosi.

Seseorang dengan trauma psikologis dapat kehilangan kemampuan untuk menangis. Hal ini justru merupakan mekanisme pertahanan psikologis untuk melindungi diri dari perasaan tidak menyenangkan.

Baca Juga: Kenali 12 Sisi Genit dan Menggoda dari Beragam Zodiak saat Kirim Chat WhatsApp ke Gebetan, Leo dan Aquarius Paling Effort

Ada seorang perempuan yang menjalani persalinan dan kehilangan bayinya sehingga membuatnya tidak bisa meneteskan air mata selama beberapa dekade berikutnya.

  1. Gaya Kepribadian

Menangis adalah kondisi yang sangat sulit untuk dipelajari di laboratorium. Namun, penelitian menemukan bahwa mereka yang menangis secara teratur merasa lebih menerima dukungan sosial yang lebih besar.

Dalam penelitian tersebut, orang yang tidak menangis menunjukkan kurangnya koneksi dengan orang lain.

Baca Juga: Bagaimana Membesarkan Anak dengan Kecerdasan Emosional? Berikut 5 Langkah Mengasah EQ Mereka

Secara kepribadian mereka adalah orang yang tertutup, kurang empati dan memiliki kurang respons emosional terhadap bentuk-bentuk seni dan alam.

  1. Konsumsi Antidepresan

Kondisi depresi pada level tertentu membuat seseorang harus mengonsumsi obat antidepresan. Beberapa obat dapat menjadi penyebab tertekannya respons air mata.

Meskipun antidepresan dibutuhkan dalam pengobatan kecemasan dan depresi, obat-obatan ini dapat membuat beberapa pasien merasa lelah.

Baca Juga: Seseorang yang Susah Dimanipulasi Biasanya Punya 9 Ciri-Ciri Ini, Simak Apakah Kamu

Efek ini akan baik menjadi lebih baik atau hilang ketika obat ditarik, atau dosis dikurangi.

  1. Depresi

Kondisi ini barangkali terdengar membingungkan. Bukankah menjadi depresi berarti menangis lebih banyak?

Ternyata beberapa pasien dengan gangguan depresi utama melaporkan perasaan kekosongan daripada kesedihan.

Baca Juga: Begini 12 Zodiak dalam Mengekspresikan Emosinya, Ada Leo Si Paling Terbuka hingga Capricorn yang Suka Memendam Perasaan

Hal ini terutama berlaku untuk jenis depresi yang parah, di mana penderita secara teratur merasa lebih buruk di pagi hari dan mengalami kurangnya kenikmatan.

  1. Kondisi Medis

Ada beberapa kondisi medis yang dapat menghambat produksi air mata. Salah satunya adalah Gangguan autoimun bernama Sindrom Sjogren.

Kondisi ini menyebabkan mata kering hingga memblokir produksi air mata. Gangguan yang lebih langka yaitu Sindrom Moebius bahkan dapat memblokir gerakan otot-otot mata dan menghambat kelenjar air mata.

Baca Juga: Ada Apel dan Pisang, 5 Buah Ini Tinggi Karbohidrat dan Punya Segudang Manfaat untuk Kesehatan Tubuh

  1. Stigma Sosial

Kondisi ini terutama berlaku untuk laki-laki. Meskipun norma-norma sosial telah sedikit berubah, tapi laki-laki menangis masih dianggap tabu.

Kabar baiknya adalah bahwa kondisi-kondisi di atas tetap dapat dikendalikan, bahkan diobati.

Jika Anda frustrasi oleh ketidakmampuan untuk menangis, penting untuk mencari bantuan dari profesional medis atau kesehatan mental yang dapat membantu Anda menuju resolusi.

EDITOR: Hanny Suwindari