← Beranda
BRIN Temukan Hubungan Vape dengan Diabetes, namun Penelitian Luar Negeri Ungkap Hal Lain
Rian Alfianto• Senin, 12 Oktober 2026 | 02.30 WIB
Ilustrasi meneteskan liquid vape ke perangkat vaping. (The Vape Mall)

 

JawaPos.com - Baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan yang cukup menggemparkan. BRIN menyebut, ada kaitan diabetes dengan penggunaan vape.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, berdasarkan pengujian yang dilakukan BRIN, penggunaan vape memiliki dampak terhadap kesehatan seperti diabetes dan paru-paru.

"Vape ini secara medis, dari uji yang dilakukan oleh BRIN, berdampak kepada kesehatan, satu masalah diabetes, kemudian masalah paru-paru, kemudian yang ketiga juga masalah pankreas,' kata Arif dikutip dari ANTARA. 

Benarkan demikian? 

Kajian terhadap lebih dari 2,8 juta orang dewasa di Amerika Serikat, Skotlandia, dan Korea Selatan belum menemukan hubungan signifikan antara penggunaan rokok elektronik atau vape dan diabetes. 

Namun, temuan tersebut tidak berarti vape terbukti aman, karena bukti ilmiah yang tersedia masih memiliki keterbatasan untuk memastikan dampak jangka panjangnya.

Hasil tersebut dipublikasikan dalam kajian ilmiah berjudul Association between electronic cigarette use and prediabetes, diabetes, and insulin resistance: a systematic review and meta-analysis. 

Penelitian yang dipimpin Prof. Riccardo Polosa dari University of Catania, Italia, itu menganalisis hubungan penggunaan rokok elektronik dengan prediabetes, diabetes, dan resistensi insulin.

Kajian tersebut menggabungkan 10 studi observasional untuk menilai apakah penggunaan rokok elektronik berkaitan dengan gangguan pengaturan gula darah. Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara penggunaan vape dan diabetes.

Meski demikian, hasil tersebut perlu dibaca secara proporsional. Tidak ditemukannya hubungan signifikan dalam suatu penelitian bukan berarti risiko kesehatan telah dipastikan tidak ada. Temuan itu juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan rokok elektronik tidak dapat meningkatkan risiko diabetes dalam kondisi tertentu.

Studi Empat Tahun Belum Menemukan Peningkatan Diabetes Tipe 2

Salah satu penelitian yang menjadi bagian dari kajian tersebut menggunakan metode prospective cohort, yakni mengikuti kondisi kesehatan kelompok responden selama periode tertentu untuk melihat kemungkinan munculnya penyakit.

Studi yang melibatkan sekitar 249 ribu responden dan berlangsung selama empat tahun itu tidak menemukan peningkatan kejadian diabetes tipe 2 yang signifikan secara statistik pada pengguna rokok elektronik.

Temuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penilaian hubungan vape dengan diabetes. Namun, penelitian observasional memiliki keterbatasan dalam membuktikan hubungan sebab-akibat. 

Faktor lain, seperti kebiasaan merokok sebelumnya, pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan responden, juga perlu diperhitungkan dalam menilai risiko diabetes.

Karena itu, hasil penelitian tersebut lebih tepat dipahami sebagai belum ditemukannya bukti hubungan yang meyakinkan, bukan sebagai kepastian bahwa vape tidak memiliki dampak terhadap metabolisme tubuh.

Dalam laporan penelitian itu disebutkan, “Bukti yang ada saat ini tidak menunjukkan adanya hubungan independen yang jelas antara penggunaan rokok elektronik dan diabetes yang didiagnosis secara klinis.”

Apa Arti Temuan Ini bagi Risiko Kesehatan?

Untuk memahami hasil penelitian tersebut, penting membedakan antara tidak ditemukannya hubungan statistik dan bukti bahwa suatu produk tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Diabetes merupakan penyakit yang berkaitan dengan gangguan pengaturan kadar gula darah. Diabetes tipe 2, yang merupakan bentuk paling umum, melibatkan resistensi insulin dan gangguan kemampuan tubuh mempertahankan kadar gula darah dalam rentang normal.

Sementara itu, resistensi insulin merupakan kondisi ketika sel tubuh merespons insulin secara kurang efektif. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami prediabetes dan kemudian diabetes tipe 2.

Kajian yang dipimpin Polosa tersebut menilai ketiga indikator itu untuk memperoleh gambaran lebih luas mengenai kemungkinan kaitan penggunaan rokok elektronik dengan gangguan metabolisme.

Pendekatan systematic review dan meta-analysis memungkinkan peneliti menggabungkan hasil sejumlah penelitian yang telah dipublikasikan. Meski demikian, kualitas kesimpulan tetap bergantung pada mutu penelitian yang dianalisis, konsistensi hasil, serta kemampuan masing-masing studi mengendalikan faktor perancu.

Dengan demikian, hasil kajian tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa penggunaan vape bebas dari risiko diabetes maupun risiko kesehatan lainnya.

Peneliti Minta Hasil Dibaca secara Proporsional

Tim peneliti menilai hasil kajian perlu menjadi pertimbangan dalam memahami risiko kesehatan dan menyusun kebijakan berdasarkan bukti ilmiah. Kesimpulan mengenai hubungan antara suatu produk dan penyakit, menurut mereka, harus mempertimbangkan keseluruhan bukti yang tersedia.

Peneliti juga mengingatkan pentingnya membedakan risiko yang sudah terkonfirmasi dengan dugaan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Setiap interpretasi harus dilakukan secara hati-hati, proporsional terhadap bukti ilmiah yang ada, serta membedakan secara jelas antara risiko yang telah terkonfirmasi dan hipotesis yang belum terbukti," tulis tim peneliti dikutip Minggu (11/10).

Temuan ini menegaskan bahwa hubungan antara penggunaan rokok elektronik dan diabetes masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Studi dengan periode pengamatan lebih panjang, pengukuran pola penggunaan yang lebih terperinci, serta pengendalian faktor risiko metabolik yang lebih baik diperlukan untuk memperjelas kemungkinan hubungan tersebut.

Meski demikian, penilaian risiko kesehatan perlu mempertimbangkan keseluruhan bukti ilmiah, termasuk potensi dampak lain yang tidak menjadi fokus penelitian tersebut.

EDITOR: Estu Suryowati