← Beranda
CELIOS: Rupiah Melemah Bisa Untungkan Rumah Sakit Indonesia, Biaya Kesehatan di LN jadi Makin Mahal
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 19 Mei 2026 | 21.05 WIB
Ilustrasi layanan kesehatan di luar negeri jadi terasa lebih mahal seiring pelemahan Rupiah, dolar AS jadi makin mahal. (Istimewa)

 

JawaPos.com – Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai bisa menjadi momentum bagi rumah sakit di Indonesia untuk menarik masyarakat kelas menengah atas yang selama ini memilih berobat ke luar negeri. Sayangnya, kondisi tersebut juga diiringi berbagai tantangan di sektor kesehatan nasional, mulai dari ketergantungan impor alat kesehatan hingga minimnya dokter spesialis.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bima Yudhistira mengatakan, minat masyarakat kelas atas untuk berobat ke luar negeri masih tinggi karena adanya kesenjangan kualitas layanan kesehatan dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

"Emang minat untuk ke luar negeri itu sebenarnya masih cukup tinggi di kelompok yang paling atas. 20 persen kelompok masyarakat yang paling atas karena masih ada gap kualitas dari sisi kesehatan kan dibandingkan di luar negeri, misalkan yang terdekat Malaysia, Penang gitu ya, Singapura," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (19/5).

Kelas Menengah Bisa Terdampak

Namun begitu, Bima menilai pelemahan rupiah justru bisa membuat kelompok menengah mempertimbangkan ulang rencana berobat ke luar negeri. Pasalnya, dengan lemahnya rupiah, biaya kesehatan di luar negeri terasa semakin mahal, termasuk tiket penerbangan.

“Nah, sementara yang yang kelompok menengah itu mungkin ada pertimbangan soal pelemahan rupiah, sehingga rupiah membuat mereka banyak yang menunda untuk bepergian ke fasilitas kesehatan yang ada di luar negeri gitu kan. Apalagi juga biaya tiket penerbangan,” katanya.

Ia menyebut kondisi ini sebenarnya bisa menjadi peluang bagi rumah sakit dalam negeri untuk menarik pasien yang biasanya berobat ke luar negeri.

“Ini sebenarnya potensi sih untuk mengambil yang yang menengah ke atas lah gitu ya, untuk bisa banyak berobat ke dalam negeri,” lanjutnya.

Rumah Sakit Dalam Negeri juga Tertekan Impor

Meski demikian, Bima menilai rumah sakit di Indonesia juga menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan impor.

“Tapi kita juga punya masalah juga gitu, salah satunya kan farmasi itu 90% bahan baku obat-obatan impor,” ucapnya.

Ia juga menyoroti ketergantungan alat kesehatan impor yang membuat rumah sakit ikut terdampak pelemahan rupiah.

“Jadi, bagi rumah sakit yang ada di Indonesia pun mereka masih melihat pelemahan rupiah ini ya bikin alat-alat kesehatan impor jadi lebih mahal,” katanya.

Selain itu, Bima menyebut fasilitas kesehatan di Indonesia masih belum merata, termasuk dari sisi jumlah dokter spesialis hingga riset kesehatan terbaru.

Daerah Perbatasan Dinilai Lebih Potensial

Oleh karena itu, Bima mengatakan bahwa pemerintah dan rumah sakit swasta mestinya memanfaatkan momen ini dengan memperbaiki kualitas pelayanan rumah sakit, khususnya di daerah perbatasan lua negeri.

Sebab, masyarakat di daerah perbatasan seperti Aceh, Medan, Riau, hingga Batam masih banyak yang memilih berobat ke Penang karena aksesnya lebih dekat.

“Jadi yang banyak ke Penang itu, selain orang Jakarta adalah orang-orang yang tinggal di ini, perbatasan. Iya. Aceh, Medan, iya. Sukanya ke Penang karena emang merasa lebih dekat gitu,” katanya.

Karena itu, ia menilai pembangunan fasilitas kesehatan internasional sebaiknya difokuskan di wilayah perbatasan, bukan hanya di Bali.

“Artinya kan pemerintah bisa jadi bukan Bali jawabannya,” ujarnya.

“Itu yang ada pusat-pusat upgrading fasilitas kesehatan internasional di sana, sih,” pungkas Bima.

EDITOR: Estu Suryowati