← Beranda
Jangan Terjebak Kehidupan Sempurna di Dunia Maya, 8 Perilaku Ini Bisa Merusak Harga Diri
Mohammad Maulana Iqbal• Kamis, 15 Oktober 2026 | 04.02 WIB
Perilaku merusak harga diri jika membandingkan hidup dengan orang lain di dunia online

JawaPos.com – Kehadiran media sosial memudahkan siapa saja untuk mengikuti aktivitas, pencapaian, hingga gaya hidup orang lain. Namun, terlalu sering melihat kehidupan orang lain di dunia maya dapat memicu kebiasaan membandingkan diri yang berpotensi mengurangi rasa percaya diri.

Unggahan mengenai liburan mewah, pencapaian karier, hubungan harmonis, atau penampilan menarik terkadang membuat seseorang merasa kehidupannya tidak sebaik milik orang lain. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan yang dialami seseorang.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang sulit menghargai pencapaian sendiri dan semakin bergantung pada pengakuan dari lingkungan. Karena itu, penting untuk mengenali pola perilaku yang dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat delapan perilaku yang perlu diwaspadai karena dapat mengikis harga diri ketika seseorang terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain di dunia online.

1. Terus Menggulir Media Sosial Tanpa Batas

Menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat unggahan orang lain dapat membuat seseorang terpapar berbagai gambaran kehidupan yang tampak ideal. Mulai dari perjalanan ke luar negeri, rumah yang nyaman, hingga pencapaian profesional, semuanya bisa terlihat seolah-olah mudah diraih.

Tanpa disadari, paparan tersebut dapat membentuk standar yang kurang realistis. Seseorang mungkin mulai merasa hidupnya membosankan atau tertinggal hanya karena tidak memiliki pengalaman yang sama dengan orang-orang yang dilihatnya.

Jika kebiasaan ini terus berulang, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, mengembangkan kemampuan, atau menikmati aktivitas pribadi justru habis untuk mengamati kehidupan orang lain.

Salah satu cara mengatasinya adalah menetapkan batas waktu penggunaan media sosial. Pilih waktu tertentu untuk membuka aplikasi dan berhenti sejenak ketika mulai merasa tidak nyaman dengan konten yang dikonsumsi.

2. Terus-Menerus Membandingkan Kehidupan Sendiri

Melihat orang lain menikmati liburan, memperoleh pekerjaan impian, atau merayakan pencapaian tertentu dapat memunculkan pikiran bahwa kehidupan sendiri tidak cukup baik.

Perbandingan semacam ini sering kali tidak adil karena setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Selain itu, unggahan di media sosial biasanya hanya menampilkan momen tertentu, bukan keseluruhan pengalaman seseorang.

Ketika terlalu fokus pada pencapaian orang lain, seseorang dapat melupakan kemajuan yang sudah diraihnya sendiri. Ia juga berisiko menetapkan target berdasarkan standar orang lain, bukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya.

Untuk menghindarinya, cobalah mengukur perkembangan diri berdasarkan tujuan pribadi. Menghargai kemajuan kecil dan menyadari bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing dapat membantu membangun pandangan diri yang lebih sehat.

3. Mengukur Nilai Diri dari Jumlah Likes dan Komentar

Jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut sering kali menjadi tolok ukur popularitas di media sosial. Masalah muncul ketika angka-angka tersebut mulai menentukan apakah seseorang merasa menarik, disukai, atau berharga.

Unggahan yang mendapatkan sedikit respons bisa menimbulkan kekecewaan, sedangkan banyaknya pujian mungkin memberikan kepuasan sementara. Jika pola ini terus berlangsung, kepercayaan diri dapat menjadi terlalu bergantung pada reaksi orang lain.

Padahal, jumlah interaksi di media sosial tidak dapat menggambarkan kualitas pribadi seseorang secara menyeluruh. Banyak faktor yang memengaruhi jangkauan unggahan, termasuk waktu publikasi, jenis konten, dan sistem rekomendasi platform.

Cobalah menikmati media sosial tanpa menjadikan respons pengguna lain sebagai ukuran utama kebahagiaan. Bangun rasa percaya diri melalui hal-hal yang lebih bermakna, seperti kemampuan yang berkembang, hubungan yang sehat, dan nilai-nilai yang dipegang.

4. Terobsesi dengan Kehidupan yang Terlihat Sempurna

Media sosial kerap dipenuhi foto dengan pencahayaan ideal, penampilan menarik, perjalanan menyenangkan, dan kehidupan keluarga yang tampak harmonis. Jika terlalu sering terpapar gambaran tersebut, seseorang bisa merasa bahwa hidupnya juga harus terlihat sempurna.

Akibatnya, kekurangan kecil dalam penampilan, kondisi rumah, pekerjaan, atau hubungan pribadi dapat terasa seperti kegagalan besar. Seseorang mungkin terus berusaha memenuhi standar yang sebenarnya tidak realistis.

Keinginan untuk berkembang tentu tidak salah. Namun, mengejar kesempurnaan demi mendapatkan pengakuan dapat membuat seseorang sulit menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Penting untuk mengingat bahwa setiap orang memiliki tantangan dan masalah yang tidak selalu dibagikan secara terbuka. Menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kehidupan dapat membantu seseorang lebih menghargai dirinya sendiri.

5. Mengabaikan Hubungan Nyata demi Aktivitas Online

Terlalu sibuk mengikuti kehidupan di dunia maya terkadang membuat seseorang mengabaikan hubungan dengan orang-orang yang berada di dekatnya. Waktu berkumpul bersama keluarga atau teman bisa berkurang karena perhatian lebih banyak tertuju pada layar ponsel.

Padahal, interaksi langsung memberikan kesempatan untuk membangun kedekatan emosional, berbagi pengalaman, dan memperoleh dukungan secara nyata. Hubungan semacam ini dapat menjadi sumber rasa aman yang tidak selalu bisa digantikan oleh komunikasi digital.

Jika penggunaan media sosial mulai mengganggu hubungan pribadi, cobalah menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi tanpa gangguan ponsel. Misalnya, saat makan bersama keluarga, bertemu teman, atau melakukan kegiatan yang disukai.

Menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata membantu seseorang tetap terhubung dengan lingkungan yang mendukung kesejahteraannya.

6. Terlalu Terpaku pada Kenangan Masa Lalu di Media Sosial

Melihat kembali foto lama atau unggahan dari masa lalu memang bisa menghadirkan kenangan menyenangkan. Namun, kebiasaan terus-menerus mengenang masa lalu juga dapat memicu penyesalan ketika seseorang merasa kehidupannya sekarang tidak sebaik dahulu.

Sebagian orang mungkin membandingkan penampilan, hubungan, pencapaian, atau kondisi finansialnya saat ini dengan masa sebelumnya. Ada pula yang terus memikirkan kesempatan yang pernah terlewatkan.

Jika dilakukan berlebihan, kebiasaan tersebut dapat mengalihkan perhatian dari kesempatan yang masih tersedia pada masa kini. Seseorang menjadi lebih sibuk memikirkan apa yang telah hilang daripada melihat hal-hal yang masih bisa diperbaiki.

Mengenang masa lalu tidak perlu dihindari sepenuhnya. Namun, cobalah menjadikannya sebagai bahan pembelajaran, bukan standar yang harus selalu dicapai kembali. Fokus pada langkah kecil yang dapat dilakukan hari ini agar kehidupan terus berkembang.

7. Terlalu Mementingkan Pendapat Orang Lain

Media sosial memberi ruang bagi banyak orang untuk menyampaikan penilaian, kritik, maupun pujian. Namun, terlalu memikirkan tanggapan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan.

Misalnya, seseorang memilih pakaian, pekerjaan, tempat liburan, atau gaya hidup tertentu hanya karena ingin terlihat menarik di mata orang lain. Keputusan yang diambil akhirnya lebih berorientasi pada penerimaan sosial daripada kenyamanan dan nilai pribadi.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan tekanan karena seseorang merasa harus terus memenuhi ekspektasi lingkungan. Ia juga mungkin kesulitan mengambil keputusan tanpa mencari persetujuan dari orang lain.

Untuk mengatasinya, kenali kembali hal-hal yang benar-benar penting bagi diri sendiri. Pendapat orang lain boleh dipertimbangkan, terutama jika bersifat membangun, tetapi keputusan pribadi sebaiknya tetap didasarkan pada kebutuhan, tujuan, dan prinsip yang diyakini.

8. Melupakan dan Meremehkan Pencapaian Sendiri

Ketika terlalu sibuk memperhatikan keberhasilan orang lain, seseorang bisa lupa bahwa dirinya juga telah melalui berbagai proses dan mencapai sejumlah kemajuan.

Pencapaian yang sebenarnya berarti mungkin terasa biasa saja karena terus dibandingkan dengan keberhasilan orang lain yang terlihat lebih besar. Akibatnya, seseorang sulit merasa puas dan selalu menganggap dirinya tertinggal.

Padahal, perkembangan tidak selalu harus berupa kenaikan jabatan, penghasilan besar, atau pencapaian yang mendapat banyak perhatian. Berhasil menyelesaikan tugas sulit, mempelajari keterampilan baru, menjaga hubungan baik, atau melewati masa yang menantang juga merupakan bentuk kemajuan.

Luangkan waktu untuk mengevaluasi hal-hal positif yang sudah dilakukan. Menuliskan pencapaian harian atau mingguan dapat membantu mengingatkan bahwa perkembangan diri tidak harus sama dengan perjalanan orang lain.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran mutlak keberhasilan seseorang. Menggunakannya secara bijak berarti mampu menikmati informasi dan hiburan tanpa membiarkan kehidupan orang lain menentukan nilai diri sendiri.

Mulailah dengan membatasi waktu penggunaan aplikasi, memilih konten yang memberikan manfaat, dan lebih banyak memberikan perhatian pada tujuan pribadi. Dengan begitu, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital sekaligus belajar menghargai kehidupannya sendiri.

Tidak perlu memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain untuk merasa berharga. Setiap individu memiliki perjalanan, tantangan, dan pencapaian yang layak dihargai.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho