← Beranda
8 Perilaku yang Tak Ditoleransi Orang Baik dari Teman yang Toxic, Mereka Lebih Suka Jaga Jarak Sehat
Leni Setya Wati• Jumat, 25 September 2026 | 04.52 WIB
Ilustrasi teman yang toxic (magnific/user15285612)

 

JawaPos.com - Persahabatan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang sehat dapat memberikan dukungan emosional, rasa nyaman, serta membantu seseorang melewati berbagai tantangan hidup.

Namun, tidak semua pertemanan memberikan dampak positif. Ada hubungan yang justru menguras energi, menimbulkan tekanan, bahkan membuat seseorang merasa tidak dihargai.

Dalam kondisi seperti ini, menjaga jarak bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa peduli. Justru, keputusan tersebut dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Orang yang dikenal baik dan memiliki empati tinggi terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyadari bahwa sebuah pertemanan sudah tidak sehat.

Namun, ketika menyadarinya, mereka mulai menetapkan batasan dan tidak lagi bersedia mentoleransi perilaku tertentu.

Dilansir dari YourTango, berikut delapan perilaku dalam pertemanan yang biasanya membuat seseorang memilih untuk menjaga jarak.

1. Terus-Menerus Membatalkan Janji

Sesekali membatalkan rencana tentu merupakan hal yang wajar. Setiap orang bisa menghadapi keadaan mendadak atau mengalami masa sulit.

Namun, jika seseorang terus-menerus membatalkan janji tanpa mempertimbangkan waktu dan perasaan temannya, hal tersebut dapat menjadi masalah.

Pertemanan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Ketika hanya satu orang yang selalu berusaha membuat rencana, sementara pihak lainnya berkali-kali membatalkannya, hubungan tersebut lama-kelamaan dapat terasa tidak seimbang.

Terlebih jika alasan yang diberikan tidak jujur atau hanya dibuat untuk menutupi ketidakpedulian. Orang yang menghargai dirinya sendiri pada akhirnya akan menyadari bahwa waktu dan energinya juga berharga.

2. Terus Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta

Tidak semua orang yang sedang bercerita membutuhkan solusi. Terkadang, seseorang hanya ingin didengarkan dan mendapatkan dukungan emosional.

Nasihat yang terus diberikan tanpa diminta dapat membuat seseorang merasa tidak didengarkan.

Situasinya menjadi lebih mengganggu ketika seseorang sudah menjelaskan bahwa ia hanya ingin bercerita, tetapi temannya tetap berusaha memberikan solusi.

Dalam pertemanan yang sehat, kedua pihak seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa merasa dihakimi atau terus-menerus diperbaiki.

Memberikan dukungan tidak selalu berarti menemukan solusi, tetapi bisa sesederhana menjadi pendengar yang baik.

3. Selalu Menjadikan Teman sebagai Tempat Curhat

Menjadi tempat curhat bagi teman bukan sesuatu yang buruk. Bahkan, kemampuan mendengarkan dan memberikan dukungan merupakan bagian dari persahabatan yang sehat.

Namun, masalah muncul ketika hubungan tersebut hanya berjalan satu arah. Satu orang terus datang membawa masalah, membutuhkan dukungan emosional, tetapi tidak pernah memberikan ruang yang sama ketika temannya membutuhkan bantuan.

Orang yang penuh empati sering kali terjebak dalam peran sebagai "terapis" bagi teman-temannya. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan emosional.

Karena itu, menetapkan batasan penting dilakukan. Seseorang tidak harus selalu tersedia untuk menyelesaikan masalah orang lain, terutama ketika kebutuhan emosionalnya sendiri tidak pernah diperhatikan.

4. Menggunakan "Kejujuran" untuk Membenarkan Kekejaman

Kejujuran memang penting dalam sebuah persahabatan. Namun, jujur tidak berarti seseorang bebas mengatakan sesuatu yang menyakitkan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Kalimat seperti "Saya memang orangnya blak-blakan" atau "Saya cuma jujur" terkadang digunakan untuk membenarkan komentar yang sebenarnya tidak perlu disampaikan dengan cara kasar.

Teman yang baik tetap dapat menyampaikan kritik tanpa merendahkan atau mempermalukan. Jika seseorang terus menggunakan alasan kejujuran untuk membenarkan perkataan yang menyakitkan, hal tersebut patut menjadi perhatian.

Orang yang mulai memahami nilai dirinya biasanya tidak lagi merasa harus menerima perlakuan kasar hanya demi mempertahankan sebuah pertemanan.

5. Menuntut Akses dan Respons Setiap Saat

Teknologi membuat komunikasi menjadi jauh lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menciptakan ekspektasi bahwa seseorang harus selalu tersedia.

Teman yang mengharapkan pesan dibalas seketika, ingin teleponnya selalu diangkat, atau merasa tersinggung ketika seseorang membutuhkan waktu sendiri dapat menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap batasan pribadi.

Pertemanan yang sehat tidak mengharuskan seseorang selalu online dan siap memberikan respons kapan pun dibutuhkan.

Setiap orang memiliki pekerjaan, keluarga, waktu istirahat, serta kehidupan pribadi. Menjaga batasan komunikasi bukan berarti tidak peduli, melainkan cara untuk menjaga keseimbangan dalam hubungan.

6. Gemar Bergosip tentang Orang Lain

Gosip terkadang dianggap sebagai bagian biasa dalam percakapan antarteman. Membicarakan kehidupan orang lain bahkan dapat menjadi bahan obrolan yang membuat suasana terasa lebih akrab.

Namun, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi masalah ketika dilakukan secara berlebihan, terutama jika menyangkut rahasia atau hal pribadi seseorang.

Ada alasan sederhana mengapa orang mulai berhati-hati terhadap teman yang gemar bergosip. Jika seseorang terbiasa membicarakan orang lain di belakang mereka, muncul kekhawatiran bahwa hal yang sama suatu hari akan dilakukan kepada kita.

Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam persahabatan. Ketika kepercayaan rusak, hubungan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun pun dapat menjadi sulit dipertahankan.

7. Selalu Menjadikan Pertemanan sebagai Kompetisi

Persahabatan seharusnya menjadi ruang untuk saling mendukung, bukan arena untuk membuktikan siapa yang lebih unggul.

Persaingan ringan terkadang dapat memberikan motivasi. Teman bisa saling mendorong untuk berkembang, mencapai tujuan, atau memperbaiki diri.

Namun, persaingan yang dipenuhi rasa iri, meremehkan pencapaian, atau keinginan untuk melihat teman gagal merupakan hal yang berbeda.

Jika setiap pencapaian justru disambut dengan perbandingan atau komentar negatif, hubungan tersebut dapat menjadi melelahkan.

Orang yang menghargai dirinya sendiri tidak seharusnya terus-menerus mencari pengakuan dari seseorang yang tidak mampu ikut merasa bahagia atas keberhasilannya.

8. Mengharapkan Teman Tetap Stagnan

Persahabatan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkembang. Seiring waktu, seseorang dapat berubah dalam hal pekerjaan, pola pikir, prioritas, lingkungan sosial, maupun tujuan hidup.

Perubahan tersebut terkadang membuat dua orang yang sebelumnya sangat dekat menjadi semakin berbeda. Hal ini tidak selalu berarti salah satu pihak melakukan kesalahan.

Dalam beberapa situasi, perpisahan atau berkurangnya intensitas pertemanan memang menjadi bagian alami dari kehidupan.

Masalah muncul ketika seseorang berusaha menahan temannya agar tetap berada di tempat yang sama hanya demi mempertahankan kenyamanan hubungan.

Orang yang ingin berkembang pada akhirnya mungkin memilih untuk terus melangkah meskipun perubahan tersebut membuat sebagian hubungan menjadi renggang.

EDITOR: Hanny Suwindari