← Beranda
6 Alasan Mengapa Sulit Menjadi Lajang Setelah Melewati Masa Perceraian Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 23 September 2026 | 04.50 WIB
seseorang yang sulit menjadi lajang setelah perceraian./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Perceraian tidak selalu berakhir ketika proses hukum selesai atau ketika dua orang resmi berpisah. Secara psikologis, seseorang masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru setelah kehilangan pasangan, rutinitas, dan identitas yang selama bertahun-tahun mungkin dibangun bersama.

Bagi sebagian orang, salah satu bagian tersulit setelah perceraian justru adalah belajar menjalani hidup sebagai lajang kembali. Kebebasan yang sebelumnya mungkin terasa menyenangkan dapat berubah menjadi kesunyian. Rumah terasa lebih sepi, tidak ada lagi seseorang yang menjadi tempat berbagi cerita, dan berbagai keputusan yang dahulu dibuat bersama kini harus diambil seorang diri.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang belum bisa melupakan mantan pasangan. Dalam perspektif psikologi, kesulitan menjadi lajang setelah perceraian dapat berkaitan dengan proses berduka, keterikatan emosional, perubahan identitas, kebutuhan akan kedekatan, serta hilangnya struktur kehidupan yang selama ini terasa familiar.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat enam alasan mengapa menjadi lajang setelah perceraian bisa terasa begitu sulit.

1. Kehilangan pasangan juga berarti kehilangan rutinitas kehidupan

Ketika seseorang menjalani pernikahan selama bertahun-tahun, kehidupan sehari-hari biasanya terbentuk berdasarkan keberadaan pasangan.

Ada kebiasaan sederhana seperti sarapan bersama, bertukar pesan, makan malam, berbelanja, merencanakan akhir pekan, atau sekadar mengetahui bahwa ada seseorang di rumah ketika hari berakhir.

Setelah perceraian, berbagai kebiasaan tersebut dapat hilang secara tiba-tiba.

Secara psikologis, manusia cenderung menyukai pola dan sesuatu yang dapat diprediksi. Rutinitas memberikan struktur sehingga seseorang tidak harus terus-menerus memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Ketika hubungan berakhir, bukan hanya pasangan yang hilang. Struktur kehidupan yang terbentuk selama hubungan tersebut juga ikut berubah.

Inilah sebabnya seseorang mungkin merasa aneh ketika kembali hidup sendirian.

Pada siang hari, seseorang mungkin terlihat baik-baik saja. Ia tetap bekerja, bertemu teman, mengurus anak, atau melakukan aktivitas lainnya. Namun ketika malam tiba dan rutinitas lama muncul dalam ingatan, rasa kehilangan dapat terasa jauh lebih kuat.

Kesulitan tersebut bukan berarti seseorang terlalu bergantung kepada mantan pasangan. Bisa jadi otak dan kehidupan sehari-harinya masih berada dalam proses menyesuaikan diri dengan perubahan besar.

Karena itu, menjadi lajang setelah perceraian sering kali membutuhkan pembentukan rutinitas baru.

Makan sendiri, pergi sendiri, membuat keputusan sendiri, atau menghabiskan akhir pekan tanpa pasangan pada awalnya mungkin terasa asing. Namun seiring waktu, aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan baru.

2. Perceraian dapat memicu proses berduka

Banyak orang menganggap kesedihan hanya muncul ketika seseorang kehilangan pasangan karena kematian. Padahal, perpisahan dan perceraian juga dapat memunculkan proses berduka.

Seseorang mungkin berduka bukan hanya karena kehilangan orangnya, tetapi juga karena kehilangan masa depan yang pernah dibayangkan.

Sebelum menikah atau selama menjalani pernikahan, seseorang mungkin memiliki gambaran mengenai kehidupan beberapa tahun ke depan. Ada rumah tangga, keluarga, perjalanan, rencana finansial, masa tua, dan berbagai impian yang ingin diwujudkan bersama.

Perceraian dapat membuat gambaran tersebut berubah secara drastis.

Karena itu, seseorang bisa saja merasa sedih meskipun dirinya yang memutuskan untuk bercerai.

Keputusan untuk mengakhiri hubungan dan perasaan kehilangan adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang dapat mengetahui bahwa perceraian merupakan keputusan yang diperlukan, tetapi tetap merasa sedih karena hubungan tersebut berakhir.

Proses ini juga tidak selalu berlangsung secara linear. Ada hari ketika seseorang merasa sudah jauh lebih baik, kemudian beberapa hari kemudian kembali merasa kesepian atau teringat masa lalu.

Perubahan emosi seperti itu tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami kemunduran.

Proses beradaptasi terhadap kehilangan memang dapat naik turun. Yang penting adalah memberikan ruang untuk merasakan emosi tersebut tanpa menjadikannya sebagai bukti bahwa hidup seseorang tidak akan pernah membaik.

3. Rasa kesepian membuat kebutuhan akan kedekatan menjadi lebih terasa

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain.

Setelah perceraian, kebutuhan tersebut bisa terasa lebih kuat karena sumber kedekatan yang selama ini tersedia setiap hari tiba-tiba menghilang.

Sebelumnya, seseorang mungkin memiliki orang yang bisa diajak berbicara ketika mengalami masalah, berbagi kabar kecil, atau sekadar berada di ruangan yang sama.

Setelah menjadi lajang, kebutuhan akan hubungan emosional tersebut tetap ada.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa ingin segera memiliki pasangan baru setelah perceraian.

Keinginan tersebut tidak selalu berarti seseorang belum sembuh dari hubungan sebelumnya. Bisa saja tubuh dan pikiran sedang mencari kembali rasa aman, kedekatan, dan keterhubungan yang sebelumnya diperoleh melalui pernikahan.

Namun, ada perbedaan antara membutuhkan hubungan sosial dan membutuhkan pasangan romantis.

Ketika kesepian terasa sangat kuat, seseorang mungkin tergoda untuk menerima hubungan baru hanya karena tidak ingin sendirian. Padahal, hubungan yang terbentuk terutama sebagai cara untuk melarikan diri dari kesepian belum tentu sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.

Karena itu, masa lajang setelah perceraian juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun kembali hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, dan diri sendiri.

Semakin beragam sumber dukungan sosial yang dimiliki, semakin kecil kemungkinan seluruh kebutuhan emosional ditumpukan kepada satu pasangan.

4. Identitas diri dapat berubah setelah perceraian

Pernikahan bukan hanya hubungan antara dua individu. Dalam banyak kasus, pernikahan juga menjadi bagian dari identitas seseorang.

Seseorang mungkin terbiasa memperkenalkan dirinya sebagai suami atau istri, orang tua dalam sebuah keluarga, atau bagian dari sebuah rumah tangga.

Ketika pernikahan berakhir, pertanyaan yang muncul bukan hanya, "Dengan siapa saya sekarang?"

Tetapi juga:

"Siapa saya setelah semua ini berubah?"

Pertanyaan tersebut dapat menjadi sangat penting.

Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin membuat keputusan berdasarkan kebutuhan pasangan dan keluarga. Setelah perceraian, ia harus mulai menentukan kembali apa yang sebenarnya diinginkan.

Mulai dari hal sederhana seperti bagaimana menghabiskan akhir pekan hingga keputusan besar mengenai pekerjaan, tempat tinggal, keuangan, dan kehidupan sosial.

Bagi sebagian orang, kebebasan tersebut terasa membingungkan.

Ketika selama bertahun-tahun terbiasa memikirkan "kita", seseorang sekarang harus belajar memikirkan "saya".

Proses membangun kembali identitas ini membutuhkan waktu.

Pada awalnya, seseorang mungkin merasa kehilangan arah. Namun secara perlahan, masa lajang dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kembali berbagai bagian diri yang mungkin selama pernikahan kurang mendapat perhatian.

Hobi yang pernah ditinggalkan dapat dicoba kembali. Pertemanan dapat dibangun kembali. Tujuan pribadi dapat ditentukan ulang.

Dengan demikian, menjadi lajang tidak harus dipandang sebagai keadaan "tidak memiliki pasangan". Dalam konteks pemulihan, masa lajang juga dapat menjadi periode untuk membangun kembali identitas pribadi.

5. Ingatan tentang hubungan membuat masa lalu terasa lebih dekat

Setelah perceraian, seseorang mungkin sering mengingat momen-momen tertentu dari pernikahan.

Menariknya, ingatan tersebut tidak selalu berupa konflik atau pertengkaran.

Yang muncul justru bisa berupa momen sederhana: perjalanan bersama, ulang tahun, makan malam, percakapan sebelum tidur, atau saat-saat ketika pasangan memberikan dukungan.

Ketika seseorang sedang kesepian, otak dapat lebih mudah mengarahkan perhatian kepada pengalaman emosional yang kuat.

Akibatnya, masa lalu kadang terasa lebih indah daripada keseluruhan kenyataan hubungan tersebut.

Seseorang mungkin berpikir:

"Seandainya kami masih bersama."

"Seandainya semuanya bisa kembali seperti dulu."

"Apakah saya akan menemukan seseorang lagi?"

Pikiran seperti ini dapat membuat kehidupan lajang terasa semakin berat.

Namun, penting untuk membedakan antara merindukan seseorang dan benar-benar ingin kembali ke hubungan yang sama.

Seseorang dapat merindukan momen tertentu tanpa berarti seluruh hubungan tersebut cocok untuk dijalani kembali.

Oleh karena itu, ketika kenangan masa lalu muncul, seseorang tidak harus melawannya secara agresif. Kenangan dapat diakui sebagai bagian dari pengalaman hidup tanpa harus dijadikan alasan untuk mengabaikan realitas saat ini.

Masa lalu adalah bagian dari cerita seseorang, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya arah kehidupannya.

6. Ketakutan bahwa tidak akan menemukan pasangan lagi

Salah satu alasan paling kuat mengapa masa lajang setelah perceraian terasa menakutkan adalah ketidakpastian mengenai masa depan.

Seseorang mungkin mulai bertanya:

"Bagaimana jika saya tidak menemukan pasangan lagi?"

"Bagaimana jika saya semakin tua dan tetap sendirian?"

"Apakah masih ada orang yang mau menerima saya?"

"Apakah pengalaman perceraian akan membuat saya sulit dicintai?"

Pertanyaan semacam itu dapat muncul terutama ketika seseorang melihat teman-teman atau orang di sekitarnya menjalani hubungan romantis.

Media sosial juga dapat memperkuat perasaan tersebut. Foto pasangan yang terlihat bahagia dapat membuat kehidupan orang lain tampak sempurna, sementara seseorang yang baru melewati perceraian mungkin sedang menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Padahal, masa depan seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kondisi emosional setelah perceraian.

Perasaan takut sendirian hari ini bukan bukti bahwa seseorang akan sendirian selamanya.

Begitu pula keinginan untuk segera mendapatkan pasangan baru tidak selalu berarti seseorang sudah siap menjalani hubungan baru.

Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan dan kondisi diri sendiri.

Ada orang yang membutuhkan waktu panjang sebelum kembali berkencan. Ada pula yang merasa siap lebih cepat. Tidak ada satu jadwal psikologis yang berlaku sama untuk semua orang.

Menjadi lajang bukan berarti gagal

Salah satu hal penting setelah perceraian adalah mengubah cara pandang terhadap masa lajang.

Lajang bukan otomatis berarti kesepian.

Begitu pula memiliki pasangan tidak otomatis berarti seseorang tidak akan merasa kesepian.

Kualitas hubungan sosial, kemampuan mengelola emosi, rasa memiliki tujuan hidup, dan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri juga berperan dalam kesejahteraan psikologis.

Karena itu, masa setelah perceraian tidak harus langsung diisi dengan pencarian pasangan baru.

Ada tahap ketika seseorang perlu belajar menikmati kehidupannya sendiri terlebih dahulu.

Bukan karena hubungan romantis tidak penting, tetapi karena hubungan baru akan lebih sehat jika tidak semata-mata digunakan untuk menutup luka dari hubungan sebelumnya.

Membangun kehidupan yang tetap bermakna tanpa pasangan dapat memberikan fondasi yang lebih kuat apabila suatu hari seseorang memutuskan untuk kembali menjalin hubungan.

Bagaimana belajar nyaman menjadi lajang setelah perceraian?

Prosesnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Pertama, membangun rutinitas baru. Jadwal tidur, olahraga, aktivitas sosial, pekerjaan, hobi, dan waktu istirahat dapat membantu menciptakan struktur baru setelah kehidupan sebelumnya berubah.

Kedua, mempertahankan hubungan sosial. Teman dan keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang penting ketika seseorang sedang beradaptasi dengan kehidupan setelah perceraian.

Ketiga, memberi ruang bagi emosi. Tidak perlu memaksa diri untuk selalu terlihat kuat. Sedih, marah, kecewa, bingung, atau merindukan masa lalu dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian.

Keempat, mengembangkan kembali identitas pribadi. Cobalah bertanya: apa yang saya sukai? Apa yang ingin saya pelajari? Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun sekarang?

Kelima, tidak menjadikan hubungan baru sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Jika suatu hari muncul seseorang yang menarik, hubungan tersebut dapat dijalani berdasarkan ketertarikan dan kecocokan, bukan semata-mata karena takut sendirian.

Dan yang tidak kalah penting, mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Jika kesedihan, kecemasan, atau kesulitan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari terasa berat dan berlangsung lama, berbicara dengan psikolog dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang dialaminya dan menemukan strategi adaptasi yang sesuai.

Penutup

Sulit menjadi lajang setelah perceraian adalah pengalaman yang dapat dipahami secara psikologis. Seseorang bukan hanya kehilangan status pernikahan, tetapi juga dapat kehilangan rutinitas, kedekatan emosional, gambaran masa depan, dan sebagian identitas yang selama ini melekat pada kehidupan bersama.

Karena itu, tidak mengherankan jika masa lajang pada awalnya terasa asing dan bahkan menakutkan.

Namun, kesendirian setelah perceraian tidak harus menjadi akhir dari kehidupan yang bermakna.

Masa tersebut dapat menjadi periode transisi untuk mengenali kembali diri sendiri, membangun rutinitas baru, memperkuat hubungan sosial, dan menentukan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani selanjutnya.

Pada akhirnya, tujuan setelah perceraian bukan sekadar "secepat mungkin mendapatkan pasangan baru".

Yang lebih penting adalah mampu membangun kehidupan yang tetap memiliki makna, bahkan ketika seseorang sedang tidak memiliki pasangan.

Ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan dirinya sendiri, masa lajang tidak lagi selalu dipandang sebagai kekosongan. Ia dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, beradaptasi, dan menemukan kembali siapa dirinya setelah sebuah bab penting dalam hidup berakhir.

EDITOR: Hanny Suwindari