Tidak membalas pesan dengan antusias seperti dulu. Lebih sering memilih diam ketika ada masalah. Terlalu cepat memberikan solusi ketika pasangan sedang bercerita. Atau bahkan terlalu berusaha menjadi pasangan yang "sempurna".
Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar. Namun jika dilakukan berulang-ulang, perilaku kecil dapat memengaruhi rasa aman, kedekatan emosional, dan kualitas komunikasi dalam hubungan.
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kedekatan bukan hanya dibangun melalui momen romantis. Hubungan juga dipengaruhi oleh bagaimana dua orang merespons kebutuhan emosional satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), terdapat tujuh perilaku yang mungkin tidak kita sadari dapat membuat hubungan dengan pasangan semakin renggang.
1. Terlalu sering mengatakan "terserah" untuk menghindari konflik
Sekilas, mengatakan "terserah kamu" terdengar seperti bentuk kompromi.
Namun, ada perbedaan antara benar-benar memberikan kebebasan kepada pasangan dan menggunakan kata "terserah" karena sebenarnya kita sedang kesal, kecewa, atau tidak ingin berdebat.
Misalnya, pasangan bertanya:
"Weekend ini mau pergi ke mana?"
Lalu kita menjawab:
"Terserah."
Ketika pasangan memilih suatu tempat, kita justru menunjukkan ketidaksukaan.
Masalahnya bukan pada satu kata tersebut. Masalah muncul ketika pasangan harus terus-menerus menebak apa yang sebenarnya kita rasakan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan idealnya tidak perlu menjadi "pembaca pikiran". Ketika seseorang terlalu sering menyembunyikan kebutuhan atau ketidaksetujuannya di balik sikap pasif, komunikasi menjadi semakin sulit.
Lambat laun, pasangan bisa merasa:
"Aku tidak pernah tahu sebenarnya dia maunya apa."
Di sisi lain, orang yang sering berkata "terserah" mungkin merasa bahwa pasangannya seharusnya sudah cukup mengenalnya untuk memahami maksud tersembunyi di balik perkataan tersebut.
Padahal, kedekatan emosional bukan berarti seseorang selalu mampu membaca pikiran pasangannya.
Yang lebih sehat
Daripada berkata:
"Terserah."
Kita bisa mencoba:
"Aku sebenarnya lebih suka kalau kita pergi ke tempat yang tidak terlalu ramai. Kalau kamu punya pilihan lain, kita bisa bahas."
Kalimat seperti ini memang membutuhkan sedikit keberanian karena kita harus mengungkapkan keinginan secara langsung.
Tetapi komunikasi yang jelas sering kali jauh lebih mudah dipahami daripada kode-kode emosional.
2. Terlalu cepat memberikan solusi ketika pasangan sebenarnya hanya ingin didengarkan
Ini adalah perilaku yang sering muncul justru karena seseorang ingin membantu.
Pasangan datang dan berkata:
"Aku hari ini benar-benar capek dengan pekerjaan."
Kita langsung menjawab:
"Kalau begitu kamu harus lebih tegas dengan atasan."
Atau:
"Kenapa tidak cari pekerjaan baru saja?"
Secara logika, saran tersebut mungkin masuk akal.
Tetapi secara emosional, pasangan mungkin sebenarnya tidak sedang meminta solusi.
Ia mungkin hanya ingin merasa didengar.
Dalam hubungan, ada perbedaan antara kebutuhan untuk "memecahkan masalah" dan kebutuhan untuk "terhubung secara emosional".
Ketika seseorang sedang bercerita tentang pengalaman yang membuatnya frustrasi, respons seperti:
"Pantas kamu capek."
"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa begitu."
"Berat juga ya hari ini."
kadang justru lebih bermakna daripada sepuluh solusi.
Jika setiap cerita pasangan langsung diubah menjadi sesi pemecahan masalah, ia bisa perlahan belajar bahwa berbicara dengan kita tidak selalu membuatnya merasa dipahami.
Akibatnya, ia mungkin mulai lebih jarang bercerita.
Bukan karena sudah tidak punya masalah.
Melainkan karena ia tidak lagi merasa aman untuk membagikannya.
Yang lebih sehat
Sebelum memberikan saran, cobalah bertanya:
"Kamu mau aku dengarkan saja atau kamu ingin kita cari solusinya bersama?"
Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah dinamika percakapan.
3. Menganggap pasangan akan selalu mengerti tanpa perlu diberi tahu
Semakin lama sebuah hubungan berjalan, semakin mudah seseorang menganggap pasangannya sudah "seharusnya tahu".
"Dia kan sudah mengenalku."
"Harusnya dia tahu aku tidak suka diperlakukan seperti itu."
"Kalau dia benar-benar sayang, dia pasti mengerti."
Pemikiran semacam ini sangat manusiawi.
Namun, hubungan yang sudah lama sekalipun tidak membuat dua orang otomatis memiliki cara berpikir yang sama.
Pasangan mungkin mengetahui banyak hal tentang kita, tetapi tetap tidak dapat mengetahui semua kebutuhan, kekhawatiran, ekspektasi, dan perubahan emosi kita tanpa komunikasi.
Masalah muncul ketika harapan yang tidak pernah diucapkan kemudian dijadikan ukuran untuk menilai rasa cinta pasangan.
Misalnya seseorang berharap pasangannya mengingat tanggal tertentu, memberikan perhatian dengan cara tertentu, atau menyadari perubahan suasana hati.
Ketika pasangan tidak melakukannya, ia merasa kecewa.
Pasangan kemudian bertanya:
"Kenapa kamu tidak bilang?"
Jawabannya:
"Harusnya kamu tahu."
Di titik tersebut, konflik bukan lagi sekadar tentang masalah awal.
Konflik berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar:
"Apakah kamu benar-benar mengenalku?"
Padahal, komunikasi yang sehat justru mengakui bahwa pasangan bukan pembaca pikiran.
Yang lebih sehat
Daripada berharap pasangan menebak, katakan kebutuhan secara spesifik.
Misalnya:
"Aku sedang banyak pikiran. Aku akan merasa lebih tenang kalau malam ini kamu mau mendengarkan ceritaku."
Jauh lebih mudah bagi pasangan untuk merespons kebutuhan yang jelas daripada ekspektasi yang tidak pernah diucapkan.
4. Menggunakan diam sebagai bentuk hukuman
Diam tidak selalu buruk.
Terkadang seseorang memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan.
Masalahnya muncul ketika diam sengaja digunakan untuk menghukum pasangan.
Misalnya, setelah pertengkaran seseorang sengaja tidak menjawab pesan, menghindari kontak, bersikap dingin, atau menunjukkan bahwa ia sedang marah tanpa menjelaskan apa yang terjadi.
Tujuannya mungkin agar pasangan merasa bersalah atau panik.
Dalam jangka pendek, cara tersebut mungkin membuat pasangan mengejar atau meminta maaf.
Tetapi dalam jangka panjang, pola tersebut dapat merusak rasa aman dalam hubungan.
Pasangan bisa mulai bertanya-tanya:
"Kalau aku melakukan kesalahan, apakah dia akan menghilang lagi?"
"Apakah aman bagiku untuk membicarakan masalah?"
"Bagaimana kalau dia tiba-tiba berhenti berbicara denganku?"
Hubungan membutuhkan ruang untuk konflik, tetapi juga membutuhkan kepastian bahwa konflik tidak berarti hubungan akan ditarik secara emosional.
Diam untuk menenangkan diri berbeda dengan silent treatment
Keduanya sering terlihat sama dari luar.
Namun, ada perbedaan penting.
Seseorang yang membutuhkan waktu bisa mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosi. Aku takut kalau kita bicara sekarang malah semakin buruk. Aku butuh waktu sekitar satu jam, setelah itu kita lanjutkan."
Ini adalah bentuk regulasi diri.
Sementara menghilang tanpa penjelasan dengan tujuan membuat pasangan menderita merupakan pola yang berbeda.
Yang lebih sehat
Jika membutuhkan ruang, berikan informasi sederhana:
"Aku masih ingin menyelesaikan masalah ini. Aku hanya perlu waktu untuk menenangkan diri."
Kalimat tersebut memberikan dua hal yang sangat penting: ruang dan kepastian.
5. Terlalu sering mengorbankan diri demi menjaga hubungan tetap tenang
Banyak orang mengira hubungan yang harmonis adalah hubungan yang jarang memiliki konflik.
Akibatnya, mereka mulai menghindari segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan ketegangan.
Tidak suka, tetapi bilang suka.
Kecewa, tetapi bilang tidak apa-apa.
Lelah, tetapi tetap memenuhi semua permintaan.
Ingin menolak, tetapi takut pasangan marah.
Pada awalnya, pola ini mungkin terlihat seperti pengorbanan yang romantis.
Namun jika berlangsung lama, seseorang bisa mulai kehilangan kontak dengan kebutuhan dirinya sendiri.
Dan yang lebih berbahaya, pengorbanan yang terus-menerus terkadang berubah menjadi rasa kesal yang tidak pernah dibicarakan.
Kemudian suatu hari, masalah kecil meledak menjadi pertengkaran besar.
Pasangan mungkin bingung:
"Kenapa tiba-tiba kamu marah sebesar ini?"
Sementara orang tersebut merasa:
"Aku sudah terlalu lama menahan semuanya."
Di sinilah kita bisa melihat bahwa menghindari konflik tidak selalu membuat hubungan lebih sehat.
Konflik yang dibicarakan dengan baik justru dapat membantu pasangan memahami batas, kebutuhan, dan perbedaan masing-masing.
Yang lebih sehat
Belajar mengatakan "tidak" tanpa menyerang.
Misalnya:
"Aku ingin membantu, tetapi malam ini aku sedang terlalu lelah."
atau:
"Aku mengerti kamu ingin pergi, tetapi kali ini aku lebih memilih istirahat."
Hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang selalu mengatakan "iya".
6. Terlalu fokus pada pasangan sampai kehilangan kehidupan pribadi
Ini mungkin terdengar paradoks.
Bukankah hubungan yang dekat berarti menghabiskan banyak waktu bersama?
Tidak selalu.
Kedekatan emosional tidak sama dengan kehilangan seluruh kehidupan pribadi.
Jika seseorang perlahan berhenti bertemu teman, meninggalkan hobi, mengabaikan pekerjaan atau tujuan pribadi, dan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, hubungan dapat menjadi sangat berat secara emosional.
Pasangan akhirnya bukan hanya menjadi kekasih.
Ia juga dituntut menjadi sahabat terbaik, sumber hiburan, tempat mencari validasi, tempat mengatasi semua masalah, sekaligus pusat kehidupan sosial.
Beban tersebut bisa membuat hubungan terasa sesak.
Dalam hubungan yang sehat, dua orang dapat memiliki kedekatan sekaligus mempertahankan identitas pribadi.
Mereka bisa saling mencintai tanpa harus melakukan semuanya bersama.
Memiliki waktu sendiri bukan berarti menjauh.
Memiliki teman sendiri bukan berarti tidak menghargai pasangan.
Memiliki hobi sendiri bukan berarti hubungan tidak penting.
Justru kehidupan pribadi yang tetap sehat dapat membuat seseorang membawa pengalaman, cerita, dan energi baru ke dalam hubungan.
Yang lebih sehat
Pertahankan ruang pribadi secara wajar.
Tetap lakukan aktivitas yang bermakna bagi diri sendiri.
Biarkan pasangan melakukan hal yang sama.
Hubungan bukan tentang membuat dua orang menjadi satu pribadi.
Hubungan lebih sehat ketika dua pribadi tetap memiliki identitas masing-masing dan memilih untuk berjalan bersama.
7. Terlalu sibuk menjaga hubungan sampai lupa menikmati hubungan itu sendiri
Ini salah satu perilaku yang paling sulit disadari.
Seseorang bisa begitu fokus pada pertanyaan:
"Apakah hubungan kami baik-baik saja?"
"Apakah dia masih mencintaiku?"
"Kenapa dia membalas pesan lebih lama?"
"Apakah dia berubah?"
"Apakah hubungan ini akan bertahan?"
hingga akhirnya hubungan lebih banyak dipenuhi evaluasi daripada pengalaman bersama.
Setiap perubahan kecil dianalisis.
Setiap pesan dibaca berulang kali.
Setiap perbedaan perilaku dianggap sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
Tentu saja, memperhatikan kondisi hubungan merupakan hal yang penting.
Namun jika kewaspadaan berubah menjadi kebutuhan untuk terus-menerus memastikan bahwa pasangan masih mencintai kita, hubungan bisa terasa melelahkan bagi kedua pihak.
Pasangan mungkin merasa harus terus membuktikan cintanya.
Sementara kita sendiri tidak pernah benar-benar merasa tenang.
Hubungan akhirnya menjadi seperti proyek yang harus terus diperiksa daripada ruang tempat dua orang menikmati kebersamaan.
Yang lebih sehat
Perhatikan hubungan, tetapi jangan lupa menjalaninya.
Nikmati percakapan sederhana.
Makan bersama.
Tertawa karena hal-hal kecil.
Membuat rencana.
Mendengarkan cerita pasangan.
Tidak semua perubahan suasana hati membutuhkan analisis mendalam.
Tidak semua hari harus terasa romantis.
Hubungan yang nyata memiliki hari yang menyenangkan, hari yang biasa saja, dan hari yang melelahkan.
Kedekatan tidak selalu terasa intens.
Kadang-kadang kedekatan justru terlihat dari rasa nyaman ketika tidak ada sesuatu yang istimewa sedang terjadi.
Pada akhirnya, hubungan sering renggang bukan karena satu kesalahan besar
Hubungan biasanya tidak berubah hanya karena satu kata "terserah", satu malam tidak membalas pesan, atau satu kali pasangan memberikan saran yang tidak kita butuhkan.
Yang lebih berpengaruh adalah pola.
Apakah kita terbiasa menyembunyikan kebutuhan?
Apakah kita menggunakan diam untuk menghukum?
Apakah kita berharap pasangan membaca pikiran?
Apakah kita terlalu takut berbeda pendapat?
Apakah kita sudah kehilangan kehidupan pribadi?
Atau apakah kita terlalu sibuk mencari tanda-tanda bahwa hubungan sedang bermasalah sampai lupa menikmati kebersamaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah.
Justru sebaliknya.
Kesadaran terhadap pola perilaku dapat menjadi kesempatan bagi kedua orang dalam hubungan untuk melakukan perubahan kecil.
Karena hubungan yang dekat tidak dibangun dari dua orang yang selalu benar, selalu romantis, atau tidak pernah bertengkar.
Hubungan yang sehat lebih sering dibangun dari dua orang yang bersedia mengatakan apa yang mereka rasakan, mendengarkan satu sama lain, memperbaiki kesalahan, menghormati batas, dan tetap memberikan ruang bagi masing-masing untuk menjadi dirinya sendiri.
Kadang-kadang, hubungan tidak membutuhkan perubahan yang besar.