← Beranda
Tak Punya Sahabat Dekat, 7 Perilaku Ini Sering Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 18.33 WIB
seseorang yang tidak memiliki persahabatan dekat (Freepik/odua)

JawaPos.com - Memiliki banyak kenalan tidak selalu berarti seseorang mempunyai hubungan pertemanan yang benar-benar dekat. Ada orang yang tampak mudah bergaul dan mengenal banyak orang, tetapi hanya memiliki sedikit hubungan yang memungkinkan dirinya berbagi cerita secara mendalam.

Kedekatan emosional dengan orang lain merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan sosial. Ketika hubungan semacam itu tidak dimiliki, kondisi tersebut terkadang tercermin melalui kebiasaan sehari-hari.

Menariknya, sejumlah perilaku tersebut tidak selalu terlihat sebagai tanda kesepian. Bahkan, orang yang mengalaminya bisa saja tidak menyadari bahwa kebiasaan tertentu berkaitan dengan kurangnya hubungan sosial yang mendalam.

Dilansir dari Geediting, berikut tujuh perilaku halus yang disebut kerap terlihat pada orang yang tidak memiliki persahabatan dekat.

Baca Juga: 6 Perilaku yang Dilakukan Saat Mulai Tidak Semangat Melakukan Hal-Hal Biasanya Dianggap Menyenangkan

1. Terlalu Mengandalkan Media Sosial untuk Merasa Terhubung

Media sosial memang menjadi sarana untuk berkomunikasi dan menjaga hubungan. Namun, bagi sebagian orang, aktivitas di dunia maya juga dapat menjadi cara untuk mendapatkan rasa terhubung ketika interaksi langsung terasa minim.

Mereka mungkin sering mengunggah sesuatu, membalas komentar, mengikuti berbagai percakapan, atau menghabiskan banyak waktu sekadar menggulir layar.

Dalam psikologi, penggunaan interaksi sosial sebagai pengganti atau kompensasi atas hubungan yang kurang terpenuhi di dunia nyata kerap dibahas dalam konteks social compensation.

Meski begitu, aktif di media sosial tentu tidak otomatis berarti seseorang tidak mempunyai teman dekat. Konteks dan pola perilaku secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.

2. Lebih Sering Memilih Percakapan Ringan

Obrolan ringan bukan sesuatu yang buruk. Namun, seseorang yang jarang memiliki hubungan dekat mungkin lebih terbiasa menjaga percakapan tetap berada di permukaan.

Topik seperti pekerjaan, aktivitas sehari-hari, hiburan, atau hal-hal umum terasa lebih aman dibandingkan membicarakan perasaan dan persoalan pribadi.

Salah satu alasannya dapat berkaitan dengan rasa takut menjadi terlalu rentan. Ketika tidak terbiasa memiliki ruang yang aman untuk bercerita, membuka diri kepada orang lain bisa terasa sulit.

Akibatnya, seseorang mungkin tampak tertutup, padahal sebenarnya belum menemukan hubungan yang membuatnya cukup nyaman untuk berbagi lebih dalam.

3. Terbiasa Menyimpan Masalah Sendiri

Ketika menghadapi persoalan, orang yang tidak memiliki teman dekat mungkin cenderung menyelesaikannya seorang diri.

Mereka tidak terbiasa menelepon teman untuk bercerita, meminta pendapat, atau sekadar mencari seseorang yang mau mendengarkan.

Beban tersebut kemudian bisa dialihkan ke berbagai aktivitas lain. Ada yang memilih bekerja lebih lama, menonton film atau serial berjam-jam, bermain gim, maupun mencari kesibukan agar tidak terlalu memikirkan persoalan yang sedang dihadapi.

Kebiasaan menyimpan masalah sendiri tidak selalu berarti seseorang tidak membutuhkan orang lain. Bisa jadi, mereka hanya tidak terbiasa memiliki tempat yang nyaman untuk berbagi.

4. Terlihat Sangat Mandiri

Kemandirian merupakan kualitas yang positif. Namun, jika seseorang selalu menolak bantuan bahkan ketika sedang membutuhkannya, hal tersebut bisa menjadi pola yang menarik untuk diperhatikan.

Sebagian orang terbiasa mengandalkan diri sendiri karena merasa tidak memiliki orang yang dapat dijadikan tempat bersandar.

Dalam konteks psikologi, pola semacam ini terkadang disebut defensive independence, yakni kecenderungan mempertahankan kemandirian sebagai bentuk perlindungan diri.

Mereka mungkin berkata bahwa tidak membutuhkan siapa pun, padahal di balik sikap tersebut bisa terdapat pengalaman atau kebiasaan untuk tidak mengandalkan orang lain.

5. Canggung dalam Kelompok Kecil

Seseorang yang jarang memiliki hubungan dekat dapat merasa kurang nyaman ketika berada dalam situasi sosial yang lebih intim.

Misalnya, ketika beberapa orang berkumpul dalam suasana santai, mereka mungkin kesulitan menentukan kepada siapa harus bergabung atau topik apa yang sebaiknya dibicarakan.

Hal tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa mereka tidak pandai bersosialisasi. Bisa saja mereka hanya kurang terbiasa dengan interaksi yang membutuhkan keterbukaan dan kedekatan emosional.

Menariknya, seseorang yang terlihat pendiam dalam kelompok kecil belum tentu tidak suka bersosialisasi. Faktor kepribadian, pengalaman sosial, dan rasa nyaman juga dapat memengaruhinya.

6. Memenuhi Waktu dengan Aktivitas Sendiri

Orang yang tidak mempunyai teman dekat mungkin tampak sangat sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Mereka menghabiskan waktu dengan berolahraga, membaca, bekerja, memasak, bermain gim, atau melakukan berbagai hobi secara mandiri.

Aktivitas individual tentu memiliki banyak manfaat dan tidak otomatis menjadi tanda masalah sosial. Namun, jika kesibukan tersebut terus digunakan untuk menghindari interaksi dengan orang lain atau menutupi perasaan kosong, kondisinya patut diperhatikan.

Keseimbangan antara menikmati waktu sendiri dan memiliki hubungan sosial yang bermakna dapat membantu menjaga kesejahteraan emosional.

7. Menganggap Persahabatan Tidak Penting

Salah satu perilaku yang cukup halus adalah ketika seseorang terus meyakinkan dirinya bahwa teman dekat sebenarnya tidak diperlukan.

Mereka mungkin mengatakan bahwa pekerjaan sudah cukup menyita perhatian, keluarga sudah menjadi tempat berbagi, atau kehidupan akan baik-baik saja tanpa sahabat.

Pandangan tersebut tentu bisa menjadi pilihan pribadi. Tidak semua orang membutuhkan jumlah teman yang sama dan setiap individu mempunyai kebutuhan sosial yang berbeda.

Namun, kebutuhan manusia untuk merasa diterima, terhubung, dan menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas merupakan aspek yang banyak dibahas dalam psikologi.

Karena itu, ketika seseorang terus meremehkan arti persahabatan sambil sebenarnya merasa kesepian, sikap tersebut bisa menjadi bentuk perlindungan diri dari kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho