JawaPos.com - Tidak semua orang yang bersikap ramah kepada kita benar-benar menyukai kita.
Kadang seseorang bisa tersenyum, tertawa bersama, sering menyapa, bahkan mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan—tetapi di balik semua itu, sebenarnya ia tidak memiliki ketertarikan atau kedekatan emosional yang sama seperti yang kita bayangkan.
Hal ini bukan selalu berarti orang tersebut jahat atau berniat buruk. Dalam banyak situasi sosial, manusia memang cenderung menyembunyikan perasaan sebenarnya demi menjaga hubungan, menghindari konflik, mempertahankan kesopanan, atau mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Masalahnya, ketika kita terlalu berpegang pada kata-kata seseorang dan mengabaikan pola perilakunya, kita bisa salah membaca hubungan tersebut.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa ketertarikan, keakraban, dan sikap positif terhadap seseorang biasanya tercermin bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui konsistensi perilaku, perhatian, respons emosional, dan kemauan untuk berinvestasi dalam hubungan.
Karena itu, jika Anda merasa seseorang hanya berpura-pura menyukai Anda, jangan terburu-buru menyimpulkan hanya berdasarkan satu kejadian. Perhatikan pola yang berulang.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat delapan perilaku yang sering menjadi petunjuk.
1. Mereka ramah kepadamu, tetapi terasa seperti keramahan yang “dipaksakan”
Ada perbedaan antara seseorang yang benar-benar menikmati kehadiran kita dan seseorang yang sekadar bersikap sopan.
Orang yang benar-benar menyukai kita biasanya terlihat lebih natural ketika berinteraksi. Percakapan mengalir, responsnya relatif spontan, dan ada kesan bahwa ia memang menikmati interaksi tersebut.
Sebaliknya, seseorang yang hanya berpura-pura menyukai kita mungkin tetap bersikap baik, tetapi interaksinya terasa kaku atau terlalu formal.
Ia mungkin tersenyum, tetapi senyumnya cepat hilang.
Ia mungkin bertanya, “Bagaimana kabarmu?” tetapi tidak benar-benar tertarik mendengar jawabannya.
Ia mungkin tertawa ketika kita bercanda, tetapi responsnya terasa seperti kewajiban sosial.
Tentu saja, ini bukan bukti mutlak bahwa seseorang tidak menyukai Anda. Ada orang yang memang pemalu, canggung, lelah, atau tidak ekspresif.
Yang perlu diperhatikan adalah konsistensi.
Jika hampir setiap interaksi terasa seperti Anda sedang berbicara dengan seseorang yang ingin segera mengakhiri percakapan, mungkin ada jarak emosional yang perlu Anda sadari.
Kadang-kadang, perasaan seseorang bukan terlihat dari apa yang ia katakan, melainkan dari seberapa nyaman ia terlihat ketika berada di dekat kita.
2. Mereka jarang menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus tentang dirimu
Salah satu tanda hubungan yang sehat adalah adanya rasa ingin tahu dua arah.
Ketika seseorang benar-benar tertarik mengenal kita, biasanya ia ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan, pemikiran, pengalaman, atau hal-hal yang penting bagi kita.
Bukan berarti ia harus mengingat setiap detail kecil.
Namun, secara umum, ia menunjukkan ketertarikan.
Misalnya, Anda pernah bercerita bahwa minggu depan Anda memiliki wawancara kerja. Beberapa hari kemudian, ia mungkin bertanya:
“Jadi, bagaimana wawancaranya?”
Pertanyaan sederhana seperti itu menunjukkan bahwa cerita Anda tidak sekadar lewat begitu saja.
Sebaliknya, jika seseorang selalu berbicara tentang dirinya sendiri, jarang bertanya balik, dan tampak tidak peduli dengan hal-hal yang Anda ceritakan, hubungan tersebut mungkin lebih bersifat satu arah.
Anda mendengarkan ceritanya.
Anda mengingat masalahnya.
Anda bertanya tentang kehidupannya.
Tetapi ketika giliran Anda berbicara, ia cepat mengalihkan topik.
Pola seperti ini bisa menjadi petunjuk bahwa investasi emosionalnya terhadap hubungan tersebut tidak sebesar investasi Anda.
Namun sekali lagi, jangan menilai seseorang hanya dari satu percakapan. Beberapa orang memang komunikator yang buruk. Yang lebih penting adalah melihat apakah pola tersebut terjadi berulang kali.
3. Mereka hanya terlihat menyukaimu ketika ada orang lain
Ini adalah salah satu pola yang cukup menarik.
Seseorang mungkin sangat ramah kepada Anda ketika berada di depan banyak orang.
Ia memuji Anda.
Bercanda dengan Anda.
Bahkan terlihat seperti teman dekat.
Namun ketika hanya berdua, sikapnya berubah drastis.
Ia menjadi dingin, singkat, atau tidak tertarik berbicara.
Perbedaan ini dapat menimbulkan kebingungan.
“Bukankah dia tadi terlihat sangat dekat denganku?”
Perlu dipahami bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh konteks sosial. Ada orang yang lebih hangat di depan kelompok karena ingin mempertahankan citra tertentu, menjaga keharmonisan, atau mengikuti norma sosial.
Karena itu, perbedaan antara perilaku publik dan perilaku pribadi bisa menjadi sesuatu yang patut diperhatikan.
Jika seseorang konsisten memperlakukan Anda dengan hangat ketika ada orang lain, tetapi hampir selalu menjaga jarak ketika tidak ada penonton, mungkin hubungan tersebut tidak sedekat yang terlihat dari luar.
Bukan berarti ia pasti membenci Anda.
Bisa jadi ia hanya tidak memiliki kedekatan emosional yang Anda pikirkan.
Dan memahami perbedaan tersebut dapat membantu Anda mengatur ekspektasi.
4. Mereka sering mengatakan hal-hal positif, tetapi tindakannya tidak mendukung
Ini mungkin salah satu indikator paling penting.
Kata-kata bisa sangat mudah diucapkan.
“Senang bertemu denganmu.”
“Aku menghargai kamu.”
“Kita harus sering bertemu.”
“Kamu orang yang menyenangkan.”
Namun, hubungan tidak dibangun hanya dari kalimat-kalimat positif.
Perilaku juga berbicara.
Seseorang bisa mengatakan bahwa ia menghargai Anda, tetapi terus-menerus mengabaikan pesan Anda.
Ia bisa mengatakan bahwa ia senang bertemu dengan Anda, tetapi selalu membatalkan rencana tanpa berusaha menjadwalkan ulang.
Ia bisa mengatakan bahwa Anda penting baginya, tetapi tidak pernah hadir ketika Anda benar-benar membutuhkan dukungan.
Satu atau dua kejadian tentu tidak cukup untuk mengambil kesimpulan.
Manusia memiliki kesibukan, masalah pribadi, dan keterbatasan energi.
Tetapi ketika ucapan dan perilaku secara konsisten bertentangan, perilaku biasanya memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai kualitas hubungan.
Ini bukan berarti Anda harus menjadi detektif terhadap setiap tindakan seseorang.
Cukup tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah tindakan orang ini secara umum sesuai dengan apa yang ia katakan?”
Jika jawabannya terus-menerus tidak, mungkin sudah waktunya mengurangi ekspektasi.
5. Mereka hanya menghubungimu ketika membutuhkan sesuatu
Hubungan yang sehat biasanya memiliki unsur timbal balik.
Tidak harus selalu 50:50 setiap saat. Dalam kehidupan nyata, ada masa ketika salah satu orang membutuhkan lebih banyak bantuan daripada yang lain.
Namun dalam jangka panjang, hubungan yang sehat biasanya tidak terasa seperti transaksi.
Jika seseorang hanya muncul ketika membutuhkan bantuan, informasi, koneksi, uang, tenaga, atau dukungan, tetapi menghilang ketika Anda membutuhkan sesuatu, pola tersebut patut diperhatikan.
Misalnya:
Ia menghubungi Anda ketika membutuhkan bantuan pekerjaan.
Ia mencari Anda ketika membutuhkan teman untuk pergi ke suatu tempat.
Ia meminta pendapat ketika menghadapi masalah.
Namun setelah kebutuhannya selesai, komunikasi kembali menghilang.
Hal seperti ini dapat membuat seseorang merasa dimanfaatkan.
Tentu saja, seseorang yang jarang menghubungi Anda tidak otomatis berarti berpura-pura menyukai Anda. Bisa saja ia memang tidak terbiasa memulai komunikasi.
Yang perlu dilihat adalah keseimbangan hubungan secara keseluruhan.
Apakah Anda selalu menjadi orang yang memberi?
Apakah Anda selalu menjadi orang yang memulai?
Apakah ia juga pernah bertanya bagaimana keadaan Anda tanpa membutuhkan apa pun?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sering kali memberikan gambaran yang lebih jujur daripada asumsi.
6. Mereka tidak benar-benar hadir ketika kamu berbicara
Perhatian adalah salah satu bentuk investasi sosial.
Ketika seseorang benar-benar menikmati interaksi dengan kita, biasanya ia menunjukkan setidaknya beberapa tanda keterlibatan: mendengarkan, memberikan respons yang relevan, mengajukan pertanyaan, atau mengingat hal yang pernah kita ceritakan.
Sebaliknya, orang yang sebenarnya tidak tertarik mungkin terlihat hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional.
Anda berbicara, tetapi matanya terus mencari ke tempat lain.
Anda menceritakan sesuatu yang penting, tetapi ia hanya menjawab singkat.
Anda mencoba membangun percakapan, tetapi ia terus melihat ponsel.
Anda membicarakan sesuatu yang membuat Anda bersemangat, tetapi responsnya datar dan segera mengalihkan pembicaraan.
Sekali lagi, jangan langsung menganggap ini sebagai tanda ketidaksukaan.
Seseorang bisa saja sedang lelah, stres, memiliki masalah pribadi, atau memang sedang tidak memiliki kapasitas untuk mendengarkan.
Tetapi jika pola tersebut muncul hampir setiap kali Anda berbicara dengannya, hal itu dapat menunjukkan bahwa tingkat keterlibatannya dalam hubungan tersebut memang rendah.
7. Mereka sering membuatmu merasa harus “membuktikan” bahwa kamu layak disukai
Ini adalah tanda yang lebih bersifat emosional.
Pernahkah Anda merasa harus terus membuat seseorang terkesan?
Anda harus selalu lucu.
Harus selalu menarik.
Harus selalu membantu.
Harus selalu mengatakan hal yang benar.
Harus terus mencari perhatian mereka.
Dan ketika Anda berhenti melakukan semua itu, hubungan seolah-olah langsung menjadi dingin.
Jika demikian, mungkin Anda sedang berada dalam hubungan yang membuat Anda terlalu banyak mengejar validasi.
Hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus merasa harus mengikuti audisi untuk mendapatkan penerimaan.
Ketika seseorang benar-benar menghargai Anda, Anda tidak perlu memainkan peran tertentu sepanjang waktu agar hubungan tetap berjalan.
Tentu, setiap hubungan membutuhkan usaha.
Kita semua perlu belajar menjadi pendengar yang baik, menghormati orang lain, dan menjaga komunikasi.
Namun ada perbedaan besar antara berusaha mempertahankan hubungan dan berusaha meyakinkan seseorang agar menyukai kita.
Jika Anda terus merasa harus mendapatkan persetujuan seseorang, mungkin masalahnya bukan sekadar apakah ia menyukai Anda.
Mungkin Anda juga perlu bertanya:
“Kenapa pendapat orang ini begitu menentukan nilai diriku?”
Pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih penting.
8. Intuisi terasa mengatakan ada sesuatu yang tidak konsisten
Ada kalanya kita sulit menjelaskan mengapa seseorang terasa tidak tulus.
Tidak ada satu perilaku yang sangat jelas.
Tidak ada kalimat yang secara terang-terangan menunjukkan penolakan.
Namun setiap kali berinteraksi dengannya, Anda merasa ada sesuatu yang “aneh”.
Perasaan semacam ini sering disebut intuisi.
Dalam psikologi, intuisi tidak selalu berarti kemampuan mistis untuk membaca pikiran orang lain. Sering kali, otak kita mampu menangkap pola-pola kecil dalam perilaku sosial sebelum kita mampu menjelaskannya secara sadar.
Misalnya, perubahan nada suara, ekspresi wajah, respons yang tidak konsisten, cara seseorang menjaga jarak, atau pola komunikasi yang berubah.
Otak kemudian menyatukan berbagai informasi kecil tersebut menjadi sebuah perasaan:
“Sepertinya dia tidak benar-benar nyaman denganku.”
Tetapi intuisi juga bisa keliru.
Pengalaman masa lalu, rasa tidak aman, kecemasan, atau ketakutan akan penolakan dapat memengaruhi cara kita menafsirkan perilaku orang lain.
Karena itu, intuisi sebaiknya digunakan sebagai sinyal untuk mengamati lebih lanjut, bukan sebagai bukti final.
Jangan berkata:
“Perasaanku mengatakan dia membenciku, jadi pasti benar.”
Lebih sehat jika berkata:
“Aku merasa ada sesuatu yang tidak konsisten. Aku akan melihat apakah pola perilakunya memang mendukung perasaan tersebut.”
Dengan begitu, Anda tidak mengabaikan intuisi, tetapi juga tidak menjadi korban asumsi.
Yang Lebih Penting: Jangan Menilai dari Satu Tanda Saja
Delapan perilaku di atas bukanlah alat untuk mendiagnosis apakah seseorang menyukai atau membenci Anda.
Manusia jauh lebih kompleks daripada daftar tanda-tanda psikologi di internet.
Seseorang yang jarang membalas pesan belum tentu tidak menyukai Anda.
Seseorang yang tidak banyak bertanya belum tentu tidak peduli.
Seseorang yang terlihat dingin mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak Anda ketahui.
Karena itu, hal terpenting adalah melihat pola, konteks, dan konsistensi.
Satu kejadian adalah informasi.
Pola berulang adalah data yang jauh lebih kuat.
Cobalah memperhatikan tiga hal:
Pertama, konsistensi. Apakah perilakunya terjadi berulang kali?
Kedua, konteks. Apakah ia memang bersikap demikian kepada semua orang atau hanya kepada Anda?
Ketiga, timbal balik. Apakah hubungan tersebut terasa dua arah atau Anda selalu menjadi pihak yang mengejar?
Tiga pertanyaan tersebut dapat membantu Anda menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.
Jangan Terlalu Sibuk Membuktikan Apakah Mereka Menyukaimu
Ada satu jebakan psikologis yang sering terjadi ketika kita merasa seseorang tidak menyukai kita.
Kita menjadi terlalu fokus mencari bukti.
“Kok dia tidak membalas?”
“Kenapa dia melihat orang lain tetapi tidak melihatku?”
“Kenapa dia tertawa dengan mereka tetapi tidak denganku?”
“Apakah nada bicaranya tadi berubah?”
Semakin kita menganalisis setiap detail, semakin mudah kita terjebak dalam siklus overthinking.
Pada akhirnya, kita menghabiskan lebih banyak energi untuk membaca pikiran orang lain daripada menjalani kehidupan sendiri.
Padahal, Anda tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna.
Jika seseorang memang tidak tertarik membangun hubungan dekat dengan Anda, Anda tidak perlu memaksanya.
Jika seseorang hanya bersikap sopan, Anda juga tidak perlu membencinya.
Dan jika seseorang ternyata tidak menyukai Anda, itu pun bukan tragedi.
Tidak semua orang akan cocok dengan kita.
Tidak semua orang akan memahami kita.
Tidak semua orang akan menganggap kita menarik.
Dan itu berlaku untuk semua manusia.
Bahkan orang yang paling baik, paling ramah, dan paling menyenangkan sekalipun tetap tidak akan disukai oleh semua orang.
Orang yang Tepat Tidak Membuatmu Terus-Menerus Menebak
Hubungan yang sehat memang tidak selalu sempurna.
Ada kesalahpahaman.
Ada hari ketika seseorang sibuk.
Ada saat ketika komunikasi terasa kurang baik.
Tetapi secara umum, hubungan yang sehat memberikan rasa aman dan timbal balik.
Anda tidak harus terus bertanya:
“Apakah dia sebenarnya menyukaiku?”
Anda tidak harus terus mencari cara agar seseorang memperhatikan Anda.
Anda tidak harus mengubah kepribadian hanya supaya diterima.
Ketika seseorang menghargai keberadaan Anda, biasanya ada bentuk investasi yang bisa dirasakan—melalui waktu, perhatian, komunikasi, rasa hormat, dan usaha yang konsisten.
Bukan berarti semuanya harus intens.
Bukan berarti mereka harus selalu tersedia.
Tetapi Anda tidak merasa sendirian dalam mempertahankan hubungan tersebut.
Dan mungkin itulah salah satu pelajaran terpenting dalam memahami perilaku manusia:
Jangan hanya mendengarkan apa yang dikatakan seseorang. Perhatikan bagaimana Anda diperlakukan secara konsisten.
Namun pada saat yang sama, jangan mengubah setiap perilaku kecil menjadi bukti bahwa seseorang tidak menyukai Anda.
Berikan ruang untuk konteks.
Berikan ruang untuk kesalahan.
Berikan ruang bagi orang lain untuk menjadi manusia.
Dan yang paling penting, berikan ruang bagi diri sendiri untuk berhenti mengejar orang yang tidak memberikan energi yang sama.
Karena nilai diri Anda tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang menyukai Anda.
Anda tidak perlu mendapatkan persetujuan semua orang untuk menjadi seseorang yang berharga.
Kadang-kadang, kedewasaan emosional bukan tentang menemukan cara agar semua orang menyukai kita.
Melainkan tentang mampu berkata:
“Aku menghargai dirimu, tetapi aku juga menghargai diriku sendiri. Jika hubungan ini memang tidak berjalan dua arah, aku tidak perlu memaksakannya.”
Dan dari sana, hidup biasanya terasa jauh lebih ringan.