JawaPos.com - Perilaku yang sama bisa saja dianggap sebagai tindakan yang wajar bagi satu generasi, namun dianggap 'malas' bagi generasi lainnya.
Ini karena perbedaan pandangan mereka tentang definisi 'malas' itu sendiri.
Ketahui lebih lanjut perbedaan memandang rasa 'malas' dari berbagai generasi, mulai dari Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z seperti yang dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Selasa (1/9) berikut ini.
Generasi Baby Boomer
Menurut mereka yang lahir 1946 – 1964, malas berarti tidak menjalankan tanggung jawab atau peran dengan semestinya.
Pola pikir seperti ini lahir dari pola asuh orang tua yang hidup di masa-masa depresi luar biasa, seperti perang.
Jadi, sedari dini generasi Baby Boomer sudah ditanamkan prinsip kalau bekerja keras itu sebuah tanggung jawab.
Mereka sudah dituntut untuk hadir tepat waktu, bekerja dalam durasi panjang, serta bertahan pada satu pekerjaan dalam suka maupun duka.
Pedoman utama mereka adalah 'kerja keras akan membuahkan hasil'.
Oleh sebab itu, banyak dari generasi Baby Boomer mengaitkan kemalasan dengan kurangnya usaha, bukan kurangnya hasil.
Seseorang yang sering menghindari tanggung jawab atau tampak enggan bekerja akan dicap pemalas oleh mereka, apa pun alasannya.
Mereka juga memandang konsistensi sebagai sesuatu yang penting.
Itu sebabnya, mereka lebih menghargai orang-orang yang terus bertahan serta bekerja keras, bahkan ketika tugas yang dihadapi sulit atau tidak terlihat bergengsi.
Pada akhirnya, pandangan ini memengaruhi mereka dalam menyikapi tren dunia kerja modern dimana jadwal kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan penekanan lebih kuat pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Semua hal itu cukup asing bagi mereka yang selama berpuluh-puluh tahun menganggap kehadiran fisik sebagai tolak ukur produktivitas.
Jadi, jangan heran bila Anda tidak berada di meja kerja dari pukul 9 pagi sampai 5 sore akan dianggap tidak bekerja atau dengan mudahnya mempertanyakan pekerjaan Anda.
Generasi X (Gen X)
Gen X yang lahir tahun 1965 – 1980 mendefinisikan malas sebagai bentuk ketidakmandirian.
Mungkin karena mereka tumbuh di masa penuh ketidakpastian sehingga mereka belajar bagaimana memecahkan masalah sendiri sejak usia dini.
Itu sebabnya, kemandirian menjadi hal yang penting untuk bertahan hidup.
Ini membentuk cara pandang Gen X tentang tanggung jawab saat beranjak dewasa.
Membuat mereka memandang kemalasan bukan sekadar soal kurangnya usaha, melainkan lebih kepada sikap menghindari tanggung jawab, kegagalan dalam menuntaskan tugas, atau kebiasaan selalu mengharapkan orang lain untuk turun tangan dan membereskan segala sesuatu.
Gen X juga hidup di era ketika kemampuan beradaptasi sangat dihargai.
Mereka menyaksikan kemunculan teknologi dan internet yang sering kali membuat mereka harus terus-menerus mempelajari keterampilan baru sepanjang perjalanan karier mereka.
Tidak heran bila mereka begitu menghargai orang yang berinisiatif dan mampu memecahkan masalah secara mandiri.
Sementara orang yang sekadar menunggu instruksi mengenai apa yang harus dilakukan akan dicap sebagai pemalas.
Berbeda dari Baby Boomer, banyak Gen X yang justru merasa nyaman dengan gagasan bahwa pekerjaan tidak harus menjadi satu-satunya identitas bagi seseorang.
Mereka turut andil dalam mempopulerkan keseimbangan antara ambisi karier dan minat pribadi.
Mereka pun tidak cepat menghakimi orang yang pulang kerja diluar jam pada umumnya.
Generasi Milenial
Bersikap malas berarti menyerah alih-alih belajar, begitu menurut mereka yang lahir di tahun 1981 – 1996.
Generasi ini tumbuh dengan pemahaman bahwa mereka bisa menjadi apa saja asal mau bekerja keras.
Namun, resesi besar saat memasuki usia dewasa memengaruhi cara pandang generasi Milenial terhadap pencapaian secara keseluruhan.
Jadilah mereka yang menghargai kemajuan dan keterbukaan untuk berubah serta cenderung tidak memedulikan berapa jam seseorang bekerja.
Bagi mereka, kemalasan lebih dimaknai sebagai keengganan untuk berkembang atau mengharapkan kesuksesan tanpa melakukan upaya yang berarti.
Budaya kerja keras tanpa henti muncul di generasi ini.
Membuat mereka selama bertahun-tahun mengagungkan pekerjaan sampingan, bekerja hingga larut malam, dan meyakini bahwa mereka harus terus sibuk demi meraih kemajuan.
Disaat yang sama, mereka juga menyaksikan maraknya pembahasan mengenai bahaya kelelahan ekstrem sehingga mereka mulai mempertanyakan apakah terus-menerus bekerja tanpa jeda benar-benar merupakan hal yang patut dikejar?.
Generasi Z (Gen Z)
Menurut Gen Z, kemalasan adalah tindakan mengabaikan hal-hal penting.
Generasi yang lahir tahun 1997 – 2012 ini paling banyak menantang definisi kemalasan.
Mungkin karena mereka terbiasa dengan dunia yang serba praktis, dimana smartphone dan media sosial membuat batas antara pekerjaan, sekolah, dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Dunia yang mereka masuki saat beranjak dewasa penuh dengan tantangan, baik dari segi finansial maupun karier.
Ini membentuk hubungan yang berbeda dari generasi sebelumnya terkait produktivitas.
Kesibukan bukan lagi penanda otomatis kesuksesan, demikian sebaliknya.
Sementara beristirahat tidak serta-merta berarti malas.
Disaat banyak orang menganggap nilai diri ditentukan oleh jumlah jam kerja dan seberapa sibuk dirinya, Gen Z justru memilih bekerja secara efisien dan menyeimbangkan waktu untuk hobi, hubungan sosial, serta kesejahteraan pribadi.
Lingkungan kerja non-tradisional dan penetapan batasan yang tegas dipandang sebagai cara untuk bekerja secara lebih berkelanjutan.
Gen Z cenderung memisahkan produktivitas dari identitas diri.
Jadi, mereka tidak beranggapan bahwa karier harus mendominasi seluruh aspek kehidupan seseorang.
Mereka juga tidak mendukung norma tempat kerja yang lebih menghargai jam kerja panjang dibandingkan hasil kerja yang positif.
Mereka hanya menginginkan pekerjaan yang memiliki tujuan serta memberikan dampak nyata.***
Ini karena perbedaan pandangan mereka tentang definisi 'malas' itu sendiri.
Ketahui lebih lanjut perbedaan memandang rasa 'malas' dari berbagai generasi, mulai dari Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z seperti yang dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Selasa (1/9) berikut ini.
Generasi Baby Boomer
Menurut mereka yang lahir 1946 – 1964, malas berarti tidak menjalankan tanggung jawab atau peran dengan semestinya.
Pola pikir seperti ini lahir dari pola asuh orang tua yang hidup di masa-masa depresi luar biasa, seperti perang.
Jadi, sedari dini generasi Baby Boomer sudah ditanamkan prinsip kalau bekerja keras itu sebuah tanggung jawab.
Mereka sudah dituntut untuk hadir tepat waktu, bekerja dalam durasi panjang, serta bertahan pada satu pekerjaan dalam suka maupun duka.
Pedoman utama mereka adalah 'kerja keras akan membuahkan hasil'.
Oleh sebab itu, banyak dari generasi Baby Boomer mengaitkan kemalasan dengan kurangnya usaha, bukan kurangnya hasil.
Seseorang yang sering menghindari tanggung jawab atau tampak enggan bekerja akan dicap pemalas oleh mereka, apa pun alasannya.
Mereka juga memandang konsistensi sebagai sesuatu yang penting.
Itu sebabnya, mereka lebih menghargai orang-orang yang terus bertahan serta bekerja keras, bahkan ketika tugas yang dihadapi sulit atau tidak terlihat bergengsi.
Pada akhirnya, pandangan ini memengaruhi mereka dalam menyikapi tren dunia kerja modern dimana jadwal kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan penekanan lebih kuat pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Semua hal itu cukup asing bagi mereka yang selama berpuluh-puluh tahun menganggap kehadiran fisik sebagai tolak ukur produktivitas.
Jadi, jangan heran bila Anda tidak berada di meja kerja dari pukul 9 pagi sampai 5 sore akan dianggap tidak bekerja atau dengan mudahnya mempertanyakan pekerjaan Anda.
Generasi X (Gen X)
Gen X yang lahir tahun 1965 – 1980 mendefinisikan malas sebagai bentuk ketidakmandirian.
Mungkin karena mereka tumbuh di masa penuh ketidakpastian sehingga mereka belajar bagaimana memecahkan masalah sendiri sejak usia dini.
Itu sebabnya, kemandirian menjadi hal yang penting untuk bertahan hidup.
Ini membentuk cara pandang Gen X tentang tanggung jawab saat beranjak dewasa.
Membuat mereka memandang kemalasan bukan sekadar soal kurangnya usaha, melainkan lebih kepada sikap menghindari tanggung jawab, kegagalan dalam menuntaskan tugas, atau kebiasaan selalu mengharapkan orang lain untuk turun tangan dan membereskan segala sesuatu.
Gen X juga hidup di era ketika kemampuan beradaptasi sangat dihargai.
Mereka menyaksikan kemunculan teknologi dan internet yang sering kali membuat mereka harus terus-menerus mempelajari keterampilan baru sepanjang perjalanan karier mereka.
Tidak heran bila mereka begitu menghargai orang yang berinisiatif dan mampu memecahkan masalah secara mandiri.
Sementara orang yang sekadar menunggu instruksi mengenai apa yang harus dilakukan akan dicap sebagai pemalas.
Berbeda dari Baby Boomer, banyak Gen X yang justru merasa nyaman dengan gagasan bahwa pekerjaan tidak harus menjadi satu-satunya identitas bagi seseorang.
Mereka turut andil dalam mempopulerkan keseimbangan antara ambisi karier dan minat pribadi.
Mereka pun tidak cepat menghakimi orang yang pulang kerja diluar jam pada umumnya.
Generasi Milenial
Bersikap malas berarti menyerah alih-alih belajar, begitu menurut mereka yang lahir di tahun 1981 – 1996.
Generasi ini tumbuh dengan pemahaman bahwa mereka bisa menjadi apa saja asal mau bekerja keras.
Namun, resesi besar saat memasuki usia dewasa memengaruhi cara pandang generasi Milenial terhadap pencapaian secara keseluruhan.
Jadilah mereka yang menghargai kemajuan dan keterbukaan untuk berubah serta cenderung tidak memedulikan berapa jam seseorang bekerja.
Bagi mereka, kemalasan lebih dimaknai sebagai keengganan untuk berkembang atau mengharapkan kesuksesan tanpa melakukan upaya yang berarti.
Budaya kerja keras tanpa henti muncul di generasi ini.
Membuat mereka selama bertahun-tahun mengagungkan pekerjaan sampingan, bekerja hingga larut malam, dan meyakini bahwa mereka harus terus sibuk demi meraih kemajuan.
Disaat yang sama, mereka juga menyaksikan maraknya pembahasan mengenai bahaya kelelahan ekstrem sehingga mereka mulai mempertanyakan apakah terus-menerus bekerja tanpa jeda benar-benar merupakan hal yang patut dikejar?.
Generasi Z (Gen Z)
Menurut Gen Z, kemalasan adalah tindakan mengabaikan hal-hal penting.
Generasi yang lahir tahun 1997 – 2012 ini paling banyak menantang definisi kemalasan.
Mungkin karena mereka terbiasa dengan dunia yang serba praktis, dimana smartphone dan media sosial membuat batas antara pekerjaan, sekolah, dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Dunia yang mereka masuki saat beranjak dewasa penuh dengan tantangan, baik dari segi finansial maupun karier.
Ini membentuk hubungan yang berbeda dari generasi sebelumnya terkait produktivitas.
Kesibukan bukan lagi penanda otomatis kesuksesan, demikian sebaliknya.
Sementara beristirahat tidak serta-merta berarti malas.
Disaat banyak orang menganggap nilai diri ditentukan oleh jumlah jam kerja dan seberapa sibuk dirinya, Gen Z justru memilih bekerja secara efisien dan menyeimbangkan waktu untuk hobi, hubungan sosial, serta kesejahteraan pribadi.
Lingkungan kerja non-tradisional dan penetapan batasan yang tegas dipandang sebagai cara untuk bekerja secara lebih berkelanjutan.
Gen Z cenderung memisahkan produktivitas dari identitas diri.
Jadi, mereka tidak beranggapan bahwa karier harus mendominasi seluruh aspek kehidupan seseorang.
Mereka juga tidak mendukung norma tempat kerja yang lebih menghargai jam kerja panjang dibandingkan hasil kerja yang positif.
Mereka hanya menginginkan pekerjaan yang memiliki tujuan serta memberikan dampak nyata.***