← Beranda
Tetap Elegan Saat Diremehkan, Ini 7 Sikap Orang Cerdas yang Patut Ditiru
Lania MonicaSenin, 31 Agustus 2026 | 02.04 WIB
Ilustrasi orang cerdas saat direndahkan (freepik)

JawaPos.com – Mendapat perlakuan meremehkan dari orang lain tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Komentar yang menjatuhkan, pendapat yang disepelekan, atau sikap seolah keberadaan kita tidak berarti dapat memunculkan rasa marah dan kecewa.

Meski demikian, bagaimana seseorang merespons situasi tersebut sering kali lebih penting daripada penghinaan itu sendiri. Respons yang terburu-buru justru dapat memperbesar konflik dan membuat kita mengatakan sesuatu yang akhirnya disesali.

Dalam konteks psikologi populer, kemampuan mengendalikan emosi, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dan menentukan batasan merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional.

Dilansir dari laman Geediting, berikut tujuh sikap yang dapat membantu seseorang menghadapi perlakuan tidak menghargai tanpa harus kehilangan kendali.

Baca Juga: Jarang Dipeluk Waktu Kecil, Ini 7 Pola Perilaku yang Mungkin Terbawa hingga Dewasa

1. Tidak Langsung Bereaksi

Ketika seseorang merendahkan kita, respons pertama biasanya muncul secara spontan. Rasa marah, malu, kecewa, atau keinginan membalas merupakan reaksi yang cukup manusiawi.

Namun, orang yang mampu mengelola emosinya akan memberikan jeda sebelum berbicara atau mengambil tindakan.

Menarik napas, diam beberapa saat, atau menjauh sementara dari situasi dapat membantu memberi ruang bagi pikiran untuk kembali tenang.

Dengan begitu, respons yang diberikan lebih terukur dan tidak sekadar mengikuti emosi sesaat.

2. Mencari Tahu Maksud di Balik Perkataan

Tidak setiap ucapan yang terdengar menyakitkan selalu merupakan bentuk penghinaan yang disengaja.

Seseorang mungkin salah memilih kata, sedang berada dalam kondisi tertekan, atau memiliki cara komunikasi yang berbeda. Karena itu, sebelum mengambil kesimpulan, penting melihat konteks pembicaraan.

Orang yang mampu berpikir jernih akan mencoba bertanya kepada dirinya sendiri apakah perkataan tersebut memang dimaksudkan sebagai serangan atau terjadi karena kesalahpahaman.

Cara ini dapat membantu menghindari konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

3. Berani Menentukan Batasan

Menjaga ketenangan bukan berarti harus menerima semua perlakuan orang lain.

Jika seseorang berulang kali berbicara atau bertindak dengan cara yang merendahkan, kita tetap berhak menyampaikan keberatan.

Batasan dapat disampaikan secara tegas tanpa harus menggunakan kata-kata kasar. Misalnya, dengan mengatakan bahwa kita tidak nyaman dengan cara bicara tersebut dan mengajak lawan bicara membahas masalah tanpa saling menyerang.

Sikap tegas seperti ini menunjukkan bahwa menghargai orang lain tidak berarti harus mengorbankan harga diri sendiri.

4. Tidak Semua Perkara Harus Dilawan

Orang yang matang secara emosional memahami bahwa tidak setiap komentar layak mendapatkan respons.

Sindiran kecil dari orang yang tidak memiliki peran penting dalam kehidupan kita, misalnya, mungkin tidak perlu dibalas. Meladeni semua provokasi hanya dapat menguras energi dan memperpanjang masalah.

Sebaliknya, ketika tindakan seseorang sudah menyentuh hal yang lebih serius, seperti merusak reputasi, mengganggu pekerjaan, atau melanggar batas pribadi, mengambil tindakan menjadi jauh lebih penting.

Kuncinya adalah mengetahui kapan harus berbicara dan kapan lebih baik melepaskannya.

5. Mencoba Memahami, Bukan Membenarkan

Empati dapat membantu seseorang menjaga jarak emosional ketika menghadapi perilaku buruk.

Orang yang bersikap kasar mungkin sedang menghadapi masalah, merasa tidak aman, atau mempunyai persoalan pribadi yang tidak kita ketahui.

Memahami kemungkinan tersebut bukan berarti membenarkan tindakan mereka. Empati hanya membantu kita agar tidak langsung membiarkan perilaku orang lain mengendalikan emosi kita.

Dengan perspektif tersebut, kita dapat merespons masalah berdasarkan situasi, bukan semata-mata karena merasa tersinggung.

6. Mengubah Pengalaman Buruk Menjadi Bahan Evaluasi

Perlakuan merendahkan memang dapat menyakitkan. Namun, pengalaman tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri.

Seseorang dapat bertanya apakah ada kritik yang sebenarnya berguna meskipun disampaikan dengan cara yang tidak menyenangkan.

Selain itu, pengalaman tersebut dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki cara berkomunikasi, meningkatkan kemampuan, atau membangun kepercayaan diri.

Yang perlu diingat, mengambil pelajaran bukan berarti menerima semua tuduhan sebagai kebenaran. Evaluasi tetap harus dilakukan secara objektif.

7. Tahu Kapan Harus Menjauh

Ada situasi ketika memberikan kesempatan kedua memang layak dilakukan. Namun, tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan segala cara.

Jika seseorang terus-menerus merendahkan, melanggar batasan, atau menciptakan lingkungan yang tidak sehat meskipun sudah diajak berkomunikasi, mengambil jarak bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Meninggalkan pertemanan yang toksik, membatasi interaksi, atau mencari lingkungan kerja yang lebih sehat bukan berarti kalah.

Justru, kemampuan memilih kapan harus bertahan dan kapan harus pergi merupakan bagian dari menjaga diri.

Pada akhirnya, menjadi cerdas dalam menghadapi penghinaan bukan berarti selalu diam atau membiarkan orang lain memperlakukan kita sesuka hati.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho