← Beranda
Tak Selalu soal Finansial, Ini 8 Faktor yang Membuat Orang Menjauhi Restoran Mewah
Irfan FerdiansyahRabu, 26 Agustus 2026 | 21.02 WIB
seseorang yang menghindari restoran mewah./Freepik.

JawaPos.com – Bagi sebagian orang, makan di restoran mewah merupakan pengalaman yang menyenangkan. Interior yang elegan, pelayanan profesional, serta sajian yang dibuat dengan detail menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, pengalaman tersebut tidak selalu dirasakan semua orang. Ada individu yang justru merasa kurang nyaman ketika berada di restoran berkelas dan memilih tempat makan yang lebih santai.

Keputusan tersebut juga tidak selalu berkaitan dengan kemampuan ekonomi. Dalam perspektif psikologi sosial dan perilaku, ketidaknyamanan di lingkungan tertentu dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, karakter pribadi, nilai yang dianut, maupun cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah faktor psikologis yang dapat membuat seseorang memilih menghindari restoran mewah.

Baca Juga: 6 Perilaku Orang yang Mudah Mengantuk saat Hujan Menurut Perspektif Psikologi

1. Takut Dibandingkan dengan Orang Lain

Salah satu penyebab yang mungkin muncul adalah rasa minder ketika berada di lingkungan yang dianggap memiliki standar sosial lebih tinggi.

Seseorang dapat merasa khawatir terhadap pakaian, penampilan, cara berbicara, atau bahkan cara mereka memesan makanan. Mereka takut menjadi bahan perhatian dan membayangkan dirinya akan dibandingkan dengan pengunjung lain.

Kondisi ini berkaitan dengan social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya dengan membandingkannya terhadap orang lain.

Jika lingkungan tersebut dipersepsikan lebih unggul, rasa percaya diri dapat menurun dan berubah menjadi kecanggungan atau kegelisahan.

2. Takut Melakukan Kesalahan di Meja Makan

Restoran kelas atas terkadang memiliki tata cara pelayanan dan etiket yang berbeda dari tempat makan biasa.

Bagi orang yang belum terbiasa, hal sederhana seperti menggunakan peralatan makan, memesan menu, atau berinteraksi dengan pelayan bisa terasa menegangkan.

Mereka mungkin takut salah melakukan sesuatu dan dianggap tidak memahami etika makan di tempat tersebut.

Akibatnya, perhatian yang seharusnya tertuju pada makanan justru tersita untuk memikirkan apakah perilaku mereka sudah tepat.

3. Merasa Pengeluaran Tidak Seimbang

Ada orang yang sebenarnya mampu membayar makanan mahal, tetapi tetap tidak merasa nyaman mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk sekali makan.

Bagi mereka, harga tinggi belum tentu sebanding dengan porsi, rasa kenyang, atau manfaat yang diperoleh. Uang yang sama mungkin dianggap lebih berguna jika digunakan untuk kebutuhan lain.

Situasi seperti ini dapat memunculkan cognitive dissonance, yakni ketidaknyamanan ketika tindakan yang dilakukan tidak sepenuhnya selaras dengan keyakinan atau prinsip pribadi.

Karena alasan tersebut, restoran mahal mungkin tidak memberikan kepuasan meskipun secara finansial sebenarnya terjangkau.

4. Merasa Tidak Menjadi Bagian dari Lingkungan

Lingkungan sosial restoran mewah juga dapat memengaruhi kenyamanan seseorang.

Ketika melihat pengunjung yang memiliki gaya hidup, pekerjaan, atau kebiasaan yang terasa sangat berbeda, seseorang mungkin merasa dirinya tidak cocok berada di sana.

Perasaan seperti "bukan bagian dari kelompok ini" dapat menimbulkan jarak secara psikologis. Hal tersebut berkaitan dengan belongingness, yaitu kebutuhan manusia untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari lingkungan sosial.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, seseorang cenderung memilih tempat yang membuatnya merasa lebih familiar.

5. Merasa Bersalah Setelah Mengeluarkan Banyak Uang

Kemampuan finansial tidak selalu membuat seseorang merasa nyaman membelanjakan uang untuk kemewahan.

Ada individu yang sejak kecil terbiasa hidup sederhana atau memiliki prinsip kuat mengenai pengelolaan keuangan. Bagi mereka, membayar mahal untuk pengalaman makan dapat menimbulkan rasa bersalah.

Perasaan tersebut muncul karena pengeluaran yang dilakukan dianggap tidak sejalan dengan nilai pribadi yang selama ini dipegang.

Dalam psikologi, kondisi semacam ini dapat dikaitkan dengan value incongruence, yaitu ketika perilaku seseorang tidak sesuai dengan nilai atau prinsip yang diyakininya.

6. Tidak Nyaman dengan Suasana yang Terlalu Formal

Suasana restoran mewah terkadang terasa lebih formal dibandingkan tempat makan sehari-hari.

Mulai dari cara berpakaian, volume suara, cara duduk, hingga interaksi dengan staf dapat membuat sebagian orang merasa harus terus menjaga sikap.

Tekanan seperti itu dapat menjadi lebih berat bagi orang yang cenderung introvert atau memiliki kecemasan dalam situasi sosial.

Mereka biasanya lebih menikmati tempat yang memberikan keleluasaan untuk berbicara, berpakaian, dan berperilaku secara natural tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.

7. Pernah Mengalami Perlakuan Tidak Menyenangkan

Pengalaman buruk di masa lalu juga dapat menjadi alasan seseorang menghindari restoran mewah.

Misalnya, pernah mendapat pelayanan yang tidak ramah, merasa diperlakukan berbeda, atau mengalami situasi yang membuat malu di depan orang lain.

Pengalaman emosional yang kuat dapat meninggalkan kesan mendalam. Ketika menghadapi lingkungan yang mirip, seseorang mungkin kembali mengingat pengalaman tersebut dan memilih menjauh sebagai bentuk perlindungan diri.

Dalam psikologi perilaku, pola semacam ini dapat berkaitan dengan proses conditioning, ketika pengalaman negatif membentuk respons terhadap situasi tertentu.

8. Merasa Sulit Menikmati Makanan dengan Santai

Ada pula orang yang sebenarnya tidak menikmati konsep restoran mewah karena terlalu banyak hal yang harus diperhatikan.

Mereka mungkin lebih sibuk memikirkan aturan, suasana, pelayanan, harga, atau bagaimana dirinya terlihat dibandingkan benar-benar menikmati makanan.

Kondisi tersebut membuat pengalaman makan terasa seperti sebuah kewajiban untuk mengikuti standar tertentu, bukan aktivitas yang menyenangkan.

Karena itu, sebagian orang akhirnya memilih tempat makan sederhana yang memungkinkan mereka menikmati makanan secara lebih spontan dan tanpa tekanan.

Pada akhirnya, tidak menyukai restoran mewah bukan berarti seseorang tidak mampu menikmati pengalaman berkualitas atau memiliki masalah tertentu. Preferensi tempat makan dapat dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman, nilai hidup, serta tingkat kenyamanan terhadap lingkungan sosial.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho