JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, ada situasi yang sering membuat seseorang merasa bingung: semakin kita berusaha mendekati pasangan, justru semakin ia menjauh.
Ketika pasangan mulai lebih pendiam, jarang menghubungi, menghindari percakapan serius, atau terlihat tidak tertarik untuk menghabiskan waktu bersama, reaksi yang muncul secara alami adalah berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kita mungkin mulai bertanya berkali-kali, meminta kepastian, mengirim pesan lebih sering, atau mencoba mendapatkan perhatian pasangan dengan berbagai cara.
Namun, ada satu persoalan penting yang sering tidak disadari.
Semakin keras seseorang mengejar pasangan yang sedang menarik diri, terkadang pasangan justru semakin merasa ingin menjauh.
Dalam psikologi hubungan, pola seperti ini dapat muncul sebagai sebuah siklus kejar-menghindar. Satu pihak merasa hubungan semakin jauh sehingga berusaha mendekat, sementara pihak lain merasa semakin tertekan sehingga semakin menarik diri. Ketika yang satu semakin mengejar, yang lain semakin menghindar.
Jika pola tersebut terus berulang, keduanya bisa merasa lelah.
Orang yang mengejar merasa tidak dicintai, tidak diprioritaskan, atau tidak mendapatkan kepastian. Sementara orang yang menghindar merasa terlalu dituntut, dikontrol, atau tidak memiliki cukup ruang.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Bukan berarti Anda harus bersikap dingin atau pura-pura tidak peduli. Justru yang dibutuhkan adalah cara berkomunikasi yang lebih aman, tenang, dan tidak membuat pasangan merasa sedang dikejar.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat delapan perilaku yang dapat membantu mencegah pasangan semakin menghindar.
1. Berhenti mengejar jawaban ketika pasangan sedang membutuhkan waktu
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika pasangan mulai menjauh adalah memaksanya untuk segera menjelaskan semuanya.
"Kenapa kamu berubah?"
"Apa kamu sudah tidak sayang?"
"Aku salah apa?"
"Kamu sebenarnya masih mau hubungan ini atau tidak?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang wajar. Anda membutuhkan kepastian dan ingin memahami apa yang sedang terjadi.
Namun, persoalannya bukan hanya pada pertanyaan tersebut. Waktu dan cara penyampaiannya juga sangat menentukan.
Jika pasangan sedang kewalahan secara emosional, terus-menerus meminta jawaban dapat membuatnya merasa semakin tertekan.
Daripada terus mengejar, cobalah memberikan ruang yang jelas.
Misalnya:
"Aku melihat akhir-akhir ini kamu mungkin sedang membutuhkan waktu. Aku tidak ingin memaksamu bicara sekarang. Kalau kamu sudah siap, aku ingin mendengarkan."
Kalimat seperti ini berbeda dengan sikap mengabaikan.
Anda tetap menunjukkan kepedulian, tetapi tidak memaksa pasangan untuk memberikan respons pada saat ia belum siap.
Memberikan ruang bukan berarti menyerah terhadap hubungan. Terkadang, ruang justru membuat seseorang lebih mampu kembali berkomunikasi dengan tenang.
2. Jangan langsung menganggap sikap menjauh sebagai tanda bahwa cinta sudah hilang
Ketika pasangan berubah, pikiran kita sering mengisi kekosongan informasi dengan asumsi.
Dia tidak membalas pesan.
Berarti dia sudah bosan.
Dia ingin sendiri.
Berarti dia tidak mencintai saya lagi.
Dia tidak banyak bercerita.
Berarti dia sudah punya orang lain.
Padahal, perubahan perilaku bisa memiliki banyak penyebab.
Pasangan mungkin sedang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kelelahan, konflik pribadi, atau sekadar membutuhkan waktu untuk mengatur pikirannya.
Tentu saja, bukan berarti Anda harus mengabaikan tanda-tanda masalah dalam hubungan.
Namun, membedakan fakta dari interpretasi sangat penting.
Fakta:
"Beberapa hari terakhir dia lebih jarang menghubungi saya."
Interpretasi:
"Dia sudah tidak mencintai saya."
Keduanya bukan hal yang sama.
Dengan membedakan keduanya, Anda dapat mengurangi kecenderungan bereaksi berdasarkan ketakutan.
Dan ketika Anda lebih tenang, kemungkinan pasangan merasa tertekan juga dapat berkurang.
3. Gunakan komunikasi yang tidak menyalahkan
Ketika hubungan sedang bermasalah, sangat mudah menggunakan kalimat yang membuat pasangan merasa dituduh.
"Kamu memang selalu seperti ini."
"Kamu tidak pernah peduli."
"Kamu egois."
"Kamu selalu menghindar."
"Kamu tidak pernah mau memahami aku."
Masalahnya, ketika seseorang merasa diserang, respons yang muncul sering kali bukan keterbukaan, melainkan pertahanan diri.
Karena itu, cobalah mengubah cara menyampaikan perasaan.
Daripada:
"Kamu tidak pernah peduli sama aku."
Cobalah:
"Aku merasa sedih dan sedikit tidak aman ketika komunikasi kita berkurang. Aku ingin memahami apa yang sedang kamu rasakan."
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa besar.
Kalimat pertama menyerang karakter pasangan.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman emosional Anda.
Tujuannya bukan membuat pasangan merasa bersalah, melainkan membuka kesempatan untuk berdialog.
Komunikasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling benar. Tujuannya adalah membuat kedua orang cukup aman untuk mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
4. Berikan ruang tanpa menggunakan diam sebagai hukuman
Ada perbedaan besar antara memberikan ruang dan silent treatment.
Memberikan ruang berarti:
"Aku tahu kamu sedang membutuhkan waktu. Aku akan memberimu kesempatan untuk menenangkan diri, tetapi kita bisa membicarakannya ketika kamu siap."
Silent treatment sebagai hukuman lebih menyerupai:
"Kalau kamu tidak mau bicara, aku juga tidak akan bicara denganmu."
Yang pertama menciptakan batas yang sehat.
Yang kedua dapat menjadi bentuk permainan kekuasaan dalam hubungan.
Jika Anda membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, katakan dengan jelas.
Misalnya:
"Aku sedang terlalu emosional untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu. Nanti malam kita lanjutkan."
Ini jauh lebih sehat daripada menghilang tanpa penjelasan.
Hubungan membutuhkan ruang, tetapi juga membutuhkan kepastian mengenai kapan dan bagaimana komunikasi akan dilanjutkan.
5. Tetap memiliki kehidupan Anda sendiri
Ketika pasangan mulai menjauh, seseorang bisa tanpa sadar menjadikan hubungan sebagai satu-satunya pusat kehidupannya.
Setiap beberapa menit memeriksa ponsel.
Menunggu pesan.
Membaca ulang percakapan.
Menganalisis perubahan nada bicara.
Membatalkan kegiatan pribadi hanya untuk menunggu pasangan.
Semakin banyak perhatian diberikan kepada ketidakpastian tersebut, semakin besar kecemasan yang dirasakan.
Karena itu, salah satu hal yang dapat membantu adalah kembali menjalani kehidupan Anda sendiri.
Tetap bekerja.
Tetap bertemu teman.
Tetap berolahraga.
Tetap menjalankan hobi.
Tetap merawat diri.
Bukan untuk membuat pasangan cemburu.
Bukan pula sebagai strategi agar pasangan mengejar Anda.
Tetapi karena hubungan yang sehat seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan seseorang.
Ketika Anda memiliki kehidupan yang seimbang, Anda juga lebih mampu menghadapi jarak dalam hubungan tanpa langsung panik.
6. Dengarkan ketika pasangan akhirnya mau berbicara
Ada ironi dalam hubungan: terkadang kita sangat ingin pasangan terbuka, tetapi ketika ia akhirnya berbicara, kita justru sibuk membela diri.
Pasangan:
"Aku merasa terlalu banyak tekanan akhir-akhir ini."
Kita:
"Tapi aku melakukan itu karena kamu selalu menghindar."
Pasangan:
"Aku merasa tidak punya ruang."
Kita:
"Kalau kamu tidak menghindar, aku juga tidak akan mengejarmu."
Percakapan akhirnya berubah menjadi debat.
Padahal, mendengarkan bukan berarti menyetujui semua perkataan pasangan.
Anda dapat memahami perasaan seseorang tanpa menganggap dirinya selalu benar.
Cobalah menahan dorongan untuk langsung menjawab.
Tanyakan:
"Jadi selama ini kamu merasa terlalu tertekan?"
Atau:
"Apa yang membuat kamu merasa membutuhkan ruang?"
Pertanyaan semacam ini membantu pasangan merasa bahwa perkataannya benar-benar didengar.
Dan ketika seseorang merasa didengar, ia biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjelaskan dirinya secara terbuka.
7. Jangan menggunakan kecemburuan atau permainan psikologis untuk mendapatkan perhatian
Ketika takut kehilangan pasangan, seseorang mungkin tergoda menggunakan berbagai strategi.
Sengaja mengunggah foto dengan orang lain.
Berpura-pura tidak peduli.
Sengaja membalas pesan sangat lama.
Membuat pasangan cemburu.
Mengancam akan pergi.
Mengatakan, "Kalau kamu memang tidak peduli, kita putus saja."
Strategi semacam ini mungkin menghasilkan reaksi sesaat.
Pasangan bisa tiba-tiba mencari Anda.
Pasangan mungkin menjadi cemburu.
Namun, mendapatkan perhatian melalui ketakutan tidak sama dengan membangun kedekatan emosional.
Hubungan yang sehat tidak seharusnya bergantung pada permainan psikologis.
Jika Anda membutuhkan perhatian, lebih baik mengatakan kebutuhan tersebut secara langsung.
"Aku ingin merasa lebih dekat denganmu. Akhir-akhir ini aku merasa komunikasi kita berkurang dan aku ingin mencari cara supaya kita bisa kembali terhubung."
Kejujuran memang terasa lebih rentan.
Tetapi justru kerentanan yang disampaikan dengan sehat dapat menjadi dasar kedekatan.
8. Tetapkan batas yang sehat, bukan mengejar tanpa batas
Memberikan ruang kepada pasangan bukan berarti Anda harus menerima apa pun.
Ini bagian yang sangat penting.
Ada perbedaan antara pasangan yang sedang membutuhkan waktu dengan pasangan yang terus-menerus menghindari komunikasi dan tanggung jawab dalam hubungan.
Anda dapat menghormati kebutuhan pasangan untuk mendapatkan ruang sekaligus menghormati kebutuhan Anda sendiri untuk mendapatkan kejelasan.
Misalnya:
"Aku menghargai kalau kamu membutuhkan waktu untuk sendiri. Tetapi aku juga membutuhkan komunikasi yang jelas dalam hubungan ini. Kalau kita sedang punya masalah, aku ingin kita membicarakannya setelah kita sama-sama lebih tenang."
Ini bukan ancaman.
Ini adalah batas.
Batas yang sehat mengatakan:
"Aku menghargai kebutuhanmu, tetapi kebutuhanku juga penting."
Hubungan yang sehat tidak mengharuskan salah satu orang terus mengejar sementara yang lainnya terus menghindar.
Keduanya perlu mengambil bagian dalam membangun komunikasi.
Yang Perlu Diingat: Anda Tidak Bisa Memaksa Seseorang untuk Dekat
Delapan perilaku di atas bukanlah formula untuk membuat pasangan pasti kembali mendekat.
Tidak ada teknik psikologi yang dapat menjamin seseorang akan mencintai, bertahan, atau membuka diri jika ia memang tidak menginginkan hubungan tersebut.
Yang dapat Anda kendalikan adalah cara Anda merespons situasi.
Anda dapat memilih untuk tidak mengejar secara berlebihan.
Anda dapat belajar mengomunikasikan kebutuhan tanpa menyalahkan.
Anda dapat memberikan ruang tanpa menghilang sebagai hukuman.
Anda dapat tetap memiliki kehidupan sendiri.
Dan Anda dapat menetapkan batas ketika hubungan mulai menjadi tidak sehat.
Pada akhirnya, hubungan yang baik membutuhkan dua orang yang sama-sama bersedia berkomunikasi.
Jika hanya satu orang yang terus berusaha sementara yang lainnya terus menghindar, masalahnya mungkin bukan lagi sekadar tentang "bagaimana membuat pasangan tidak menjauh."
Pertanyaannya bisa berubah menjadi:
"Apakah hubungan ini memberikan ruang yang cukup bagi kami berdua untuk merasa aman, didengar, dan dihargai?"
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Karena tujuan dari hubungan yang sehat bukan membuat seseorang takut kehilangan kita.
Tujuannya adalah menciptakan hubungan di mana dua orang tidak perlu terus-menerus mengejar atau melarikan diri untuk merasa dicintai.