JawaPos.com - Pernahkah Anda berbicara dengan seseorang, tetapi entah mengapa Anda merasa ucapan Anda tidak benar-benar dipercaya? Mereka mungkin tetap mengangguk, tersenyum, bahkan mengatakan, “Iya, saya percaya.” Namun, dari cara mereka merespons, terasa ada jarak yang sulit dijelaskan.
Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, pekerjaan, maupun hubungan romantis. Masalahnya, ketidakpercayaan tidak selalu disampaikan secara langsung. Banyak orang memilih menyembunyikannya karena tidak ingin menimbulkan konflik, merasa sungkan, atau masih ingin menjaga hubungan.
Dalam psikologi, kepercayaan tidak hanya terbentuk dari apa yang seseorang katakan, tetapi juga dari pola perilaku yang konsisten. Ketika seseorang mulai meragukan ucapan kita, perubahan kecil dalam cara mereka berkomunikasi dapat terlihat. Mereka mungkin menjadi lebih banyak bertanya, memeriksa ulang informasi, menjaga jarak, atau tidak lagi mengandalkan perkataan kita sebagai dasar keputusan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu perilaku yang secara otomatis membuktikan seseorang tidak percaya kepada kita. Seseorang bisa bertanya berulang kali karena memang membutuhkan kejelasan, bukan karena menganggap kita berbohong. Karena itu, tanda-tanda berikut sebaiknya dilihat sebagai pola, bukan sebagai bukti tunggal.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat lima perilaku yang patut diperhatikan.
1. Mereka Sering Meminta Penjelasan atau Bukti Tambahan
Salah satu tanda yang paling mudah terlihat adalah ketika seseorang mulai sering meminta penjelasan lebih detail mengenai apa yang kita katakan.
Misalnya, sebelumnya mereka cukup menerima cerita kita dengan sederhana. Namun sekarang, setiap kali kita mengatakan sesuatu, mereka mulai bertanya:
“Benarkah?”
“Terus, bagaimana kejadiannya?”
“Kapan tepatnya?”
“Siapa saja yang ada di sana?”
“Ada buktinya?”
Sekilas, pertanyaan tersebut mungkin terlihat biasa. Tetapi jika frekuensinya meningkat dan muncul terutama ketika kita memberikan informasi tertentu, hal itu bisa menunjukkan bahwa tingkat keyakinan mereka terhadap ucapan kita sedang menurun.
Secara psikologis, ketika seseorang merasa informasi yang diterimanya belum cukup meyakinkan, ia akan mencari informasi tambahan untuk mengurangi ketidakpastian. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan pernyataan verbal kita, tetapi mulai membutuhkan sumber lain untuk merasa yakin.
Contohnya, seorang rekan kerja mengatakan bahwa sebuah pekerjaan sudah selesai. Jika sebelumnya atasan cukup percaya dengan pernyataan tersebut, tetapi sekarang ia selalu meminta melihat hasil, memeriksa dokumen, atau mengecek kembali status pekerjaan, perubahan itu bisa menunjukkan bahwa perkataan saja tidak lagi dianggap cukup.
Namun, jangan langsung tersinggung.
Meminta bukti tidak selalu berarti seseorang menuduh kita berbohong. Dalam beberapa situasi, hal tersebut justru merupakan bentuk kehati-hatian. Perbedaannya terletak pada pola dan konteks.
Jika orang tersebut memang selalu teliti kepada semua orang, perilaku itu kemungkinan besar merupakan bagian dari kepribadiannya. Tetapi jika ia hanya mulai melakukan pemeriksaan kepada kita setelah beberapa pengalaman yang mengecewakan, kemungkinan ada perubahan dalam tingkat kepercayaan.
2. Mereka Lebih Sering Memeriksa Kembali Perkataan Anda
Orang yang percaya biasanya tidak merasa perlu melakukan verifikasi terhadap setiap hal yang kita katakan.
Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai berkurang, seseorang mungkin mulai melakukan double-checking.
Anda mengatakan akan datang pukul tujuh malam. Beberapa jam kemudian, ia bertanya lagi:
“Jadi benar kamu datang jam tujuh?”
Anda mengatakan sudah mengirim sebuah dokumen. Ia kemudian mengecek sendiri apakah dokumen tersebut benar-benar sudah terkirim.
Anda mengatakan suatu informasi berasal dari sumber tertentu. Ia mencari sumber tersebut untuk memastikan kebenarannya.
Jika terjadi sesekali, hal ini tentu bukan masalah. Tetapi jika menjadi kebiasaan, terutama setelah adanya pengalaman bahwa ucapan kita pernah tidak sesuai dengan kenyataan, perilaku tersebut bisa menjadi sinyal bahwa orang tersebut tidak lagi sepenuhnya mengandalkan kita.
Dalam hubungan interpersonal, kepercayaan berkembang ketika perkataan dan tindakan menunjukkan konsistensi.
Sebaliknya, ketika seseorang berkali-kali menemukan ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang terjadi, mereka secara alami dapat menjadi lebih berhati-hati.
Misalnya, seseorang berulang kali berkata akan menyelesaikan sesuatu “besok”, tetapi pekerjaan tersebut terus tertunda. Setelah beberapa kali mengalami hal serupa, orang lain mungkin tidak lagi menganggap kalimat “besok selesai” sebagai informasi yang dapat diandalkan.
Bukan karena mereka membenci kita.
Mereka hanya belajar dari pengalaman.
Karena itu, terkadang masalah kepercayaan bukan muncul karena satu kebohongan besar, melainkan karena banyak ketidakkonsistenan kecil yang terjadi berulang kali.
3. Mereka Tidak Lagi Mengandalkan Perkataan Anda dalam Mengambil Keputusan
Ini merupakan salah satu tanda yang lebih penting daripada sekadar bahasa tubuh.
Bayangkan sebelumnya seseorang selalu meminta pendapat Anda. Mereka bertanya ketika harus mengambil keputusan, meminta saran, atau menjadikan informasi dari Anda sebagai pertimbangan utama.
Kemudian, perlahan-lahan hal tersebut berubah.
Mereka mulai mencari informasi dari orang lain.
Mereka mengecek sendiri.
Mereka membuat keputusan tanpa menunggu penjelasan Anda.
Bahkan ketika Anda memberikan saran, mereka mungkin mengatakan, “Saya cari tahu dulu.”
Perubahan seperti ini bisa menunjukkan bahwa otoritas atau kredibilitas Anda di mata mereka sedang menurun.
Dalam hubungan sosial, kepercayaan bukan hanya berarti percaya bahwa seseorang tidak berbohong. Kepercayaan juga berarti menganggap seseorang cukup dapat diandalkan sehingga perkataannya dapat dijadikan dasar tindakan.
Ketika seseorang masih menyukai kita tetapi tidak lagi mempercayai informasi yang kita berikan, hubungan tersebut bisa memasuki kondisi yang cukup unik: secara emosional mereka mungkin masih dekat, tetapi secara praktis mereka mulai menjaga jarak.
Misalnya, seorang teman tetap berbicara dengan kita seperti biasa, tetapi ketika kita memberikan rekomendasi tertentu, ia selalu mengatakan, “Aku cek dulu, ya.”
Kalimat sederhana tersebut tidak otomatis berarti ia tidak percaya. Namun jika perilaku serupa muncul berulang kali dan hanya kepada kita, ada kemungkinan ia sudah tidak menganggap informasi dari kita sebagai sumber yang cukup dapat diandalkan.
4. Respons Mereka Menjadi Lebih Dingin atau Berhati-Hati
Ketika kepercayaan berkurang, perubahan tidak selalu terlihat melalui pertanyaan. Kadang justru terlihat melalui perubahan gaya komunikasi.
Orang yang sebelumnya terbuka mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika berbicara.
Mereka tidak lagi menceritakan banyak hal.
Jawaban mereka menjadi lebih singkat.
Mereka lebih jarang membagikan informasi pribadi.
Mereka menghindari membuat komitmen berdasarkan ucapan kita.
Atau mereka mulai menggunakan kalimat seperti:
“Ya, lihat nanti.”
“Kita tunggu saja.”
“Saya belum tahu.”
“Saya cek dulu.”
Perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa mereka tidak percaya. Seseorang bisa menjadi lebih pendiam karena sedang lelah, sibuk, mengalami masalah pribadi, atau memang sedang membutuhkan ruang.
Karena itu, konteks sangat penting.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan dari pola sebelumnya.
Jika seseorang yang biasanya sangat terbuka tiba-tiba menjadi sangat tertutup setelah terjadi konflik atau beberapa pengalaman yang membuatnya kecewa, perubahan tersebut mungkin berkaitan dengan menurunnya rasa aman dan kepercayaan.
Dalam psikologi hubungan interpersonal, rasa percaya membuat seseorang merasa cukup aman untuk membuka diri. Ketika rasa percaya terganggu, seseorang dapat meningkatkan kewaspadaan dan membatasi informasi yang diberikan.
Dengan kata lain, mereka mungkin tidak mengatakan, “Saya tidak percaya kepada Anda.”
Tetapi perilakunya seperti mengatakan:
“Saya belum merasa cukup aman untuk mempercayakan hal ini kepada Anda.”
5. Mereka Lebih Mempercayai Tindakan daripada Janji Anda
Ini mungkin tanda yang paling kuat.
Orang yang masih percaya pada ucapan kita biasanya memberikan bobot yang cukup besar pada janji atau pernyataan kita.
Namun, ketika kepercayaan mulai menurun, mereka mungkin mulai berpegang pada prinsip:
“Saya akan melihat apa yang Anda lakukan, bukan hanya mendengarkan apa yang Anda katakan.”
Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, mereka tidak terlalu bereaksi.
Jika Anda mengatakan sudah berubah, mereka menunggu bukti.
Jika Anda berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, mereka tidak langsung percaya.
Mereka menunggu konsistensi.
Sebenarnya, pendekatan ini cukup masuk akal. Kepercayaan yang kuat biasanya tidak dibangun hanya melalui kata-kata, melainkan melalui pengalaman berulang bahwa seseorang dapat diandalkan.
Seseorang mungkin mengatakan:
“Saya akan selalu ada untukmu.”
Tetapi yang membuat orang lain benar-benar percaya bukan kalimat tersebut. Yang membuatnya percaya adalah pengalaman ketika orang itu benar-benar hadir saat dibutuhkan.
Begitu pula dalam pekerjaan.
Seorang karyawan bisa mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab. Namun kredibilitas terbentuk ketika ia secara konsisten menyelesaikan tugas, memenuhi tenggat waktu, mengakui kesalahan, dan menjaga komitmennya.
Karena itu, jika seseorang mulai mengatakan, “Buktikan saja,” atau tidak lagi terlalu terpengaruh oleh janji-janji kita, mungkin yang mereka butuhkan bukan penjelasan yang lebih panjang.
Mereka membutuhkan pengalaman baru yang konsisten.
Mengapa Orang Bisa Berhenti Mempercayai Kita?
Penting untuk memahami bahwa hilangnya kepercayaan tidak selalu disebabkan oleh kebohongan.
Ada beberapa hal yang dapat membuat seseorang menjadi lebih skeptis.
Pertama, ketidakkonsistenan.
Ketika perkataan seseorang sering berubah, orang lain akan kesulitan memprediksi apakah informasi yang diterima dapat dipercaya.
Kedua, janji yang berulang kali tidak ditepati.
Satu janji yang gagal mungkin masih dapat dimaklumi. Tetapi jika pola yang sama terus terjadi, orang lain dapat mengubah ekspektasinya.
Ketiga, pengalaman masa lalu.
Seseorang mungkin tidak percaya bukan karena apa yang kita lakukan hari ini, tetapi karena pengalaman sebelumnya membuatnya lebih berhati-hati.
Keempat, komunikasi yang tidak jelas.
Informasi yang ambigu, terlalu banyak alasan, atau penjelasan yang terus berubah dapat membuat orang lain merasa ada sesuatu yang tidak disampaikan secara utuh.
Kelima, perbedaan antara kata dan tindakan.
Ini adalah salah satu faktor yang paling kuat dalam membentuk persepsi terhadap kredibilitas seseorang.
Jangan Terlalu Cepat Menuduh Mereka Tidak Percaya
Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika kita membaca perilaku orang lain: kita terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Seseorang bertanya berkali-kali, kita menganggap dia menuduh kita berbohong.
Seseorang mengecek informasi, kita menganggap dia meragukan kita.
Seseorang menjadi pendiam, kita menganggap dia sudah tidak percaya.
Padahal, perilaku manusia memiliki banyak kemungkinan penyebab.
Orang yang sering bertanya mungkin memang memiliki sifat teliti.
Orang yang melakukan verifikasi mungkin memiliki pengalaman buruk sebelumnya dengan orang lain.
Orang yang terlihat dingin mungkin sedang menghadapi masalah yang sama sekali tidak berhubungan dengan kita.
Karena itu, satu perilaku tidak cukup untuk membaca kondisi psikologis seseorang.
Yang lebih bermakna adalah pola yang konsisten, perubahan dibandingkan perilaku sebelumnya, serta konteks hubungan.
Jika Anda Merasa Seseorang Tidak Percaya, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Daripada langsung berkata, “Kenapa kamu tidak percaya saya?”, cobalah pendekatan yang lebih tenang.
Anda bisa mengatakan:
“Saya merasa akhir-akhir ini kamu lebih sering mengecek apa yang saya katakan. Apakah ada sesuatu yang membuat kamu merasa kurang yakin kepada saya?”
Kalimat seperti ini membuka ruang untuk percakapan tanpa langsung menyalahkan.
Jika memang pernah melakukan kesalahan, jangan terburu-buru mencari pembenaran.
Akui bagian yang memang menjadi tanggung jawab Anda.
Kemudian, jangan mencoba memperbaiki kepercayaan hanya dengan penjelasan panjang.
Bangun kembali melalui konsistensi.
Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, lakukan.
Jika tidak mampu memenuhi janji, beri tahu lebih awal.
Jika melakukan kesalahan, akui.
Jika tidak mengetahui sesuatu, katakan bahwa Anda tidak tahu.
Ironisnya, terkadang cara tercepat untuk menjadi orang yang dipercaya bukan dengan berusaha terlihat selalu benar, tetapi dengan menunjukkan bahwa kita mampu jujur ketika kita salah.
Pada Akhirnya, Kepercayaan Dibangun dari Pola
Kepercayaan tidak biasanya hilang dalam satu detik.
Begitu pula kepercayaan tidak selalu kembali hanya karena satu percakapan.
Ia terbentuk dari banyak pengalaman kecil: bagaimana kita menepati janji, bagaimana kita berbicara ketika melakukan kesalahan, bagaimana kita menjaga rahasia, bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang mengawasi, dan apakah tindakan kita sesuai dengan perkataan.
Karena itu, jika Anda melihat seseorang mulai sering meminta bukti, memeriksa ulang ucapan Anda, tidak lagi mengandalkan informasi dari Anda, menjadi lebih berhati-hati, atau lebih memperhatikan tindakan daripada janji, jangan langsung menganggap mereka sedang memusuhi Anda.
Mungkin mereka sedang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan mereka telah berubah.
Dan jika memang demikian, pertanyaan yang paling berguna bukanlah:
“Bagaimana cara membuat mereka percaya lagi?”
Melainkan:
“Apa yang bisa saya lakukan secara konsisten agar mereka memiliki alasan untuk percaya lagi?”
Sebab pada akhirnya, kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dipaksa.
Kita tidak dapat memerintahkan seseorang untuk percaya kepada kita.
Kita hanya dapat memberikan cukup bukti melalui perilaku kita, sampai pada akhirnya mereka sendiri merasa bahwa kita memang layak dipercaya.