JawaPos.com – Pengalaman masa kanak-kanak dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan seseorang dalam membentuk cara berinteraksi, memahami hubungan, dan merespons lingkungan ketika dewasa.
Salah satu pengalaman yang menarik perhatian adalah minimnya afeksi fisik, seperti pelukan atau sentuhan penuh kasih sayang. Meski demikian, hubungan antara pengalaman tersebut dengan perilaku ketika dewasa tidak selalu sederhana.
Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, seseorang yang jarang dipeluk saat kecil belum tentu mengalami masalah emosional atau menunjukkan perilaku tertentu ketika dewasa.
Namun, dalam konteks psikologi perkembangan dan hubungan interpersonal, pengalaman awal dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap cara seseorang membangun kedekatan dan memahami rasa aman.
Baca Juga: 6 Perilaku Orang yang Mudah Mengantuk saat Hujan Menurut Perspektif Psikologi
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh pola perilaku yang dikaitkan dengan pengalaman kurang mendapatkan afeksi fisik pada masa kanak-kanak.
1. Merasa Tidak Nyaman dengan Sentuhan
Sebagian orang yang tidak terbiasa mendapatkan sentuhan penuh kasih sayang sejak kecil mungkin merasa canggung ketika menerima kontak fisik dari orang lain.
Pelukan, gandengan tangan, atau sentuhan sederhana bisa terasa kurang familiar, terutama jika dilakukan oleh orang yang belum terlalu dekat.
Namun, respons setiap individu bisa berbeda. Ada pula orang yang justru sangat menghargai sentuhan sebagai bentuk kedekatan setelah dewasa.
Yang penting, kenyamanan terhadap kontak fisik merupakan sesuatu yang bersifat personal dan perlu dihormati dalam setiap hubungan.
2. Sulit Membangun Kedekatan Emosional
Pengalaman masa kecil juga dapat berperan dalam cara seseorang membangun hubungan ketika dewasa.
Sebagian individu mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk mempercayai orang lain dan menceritakan perasaan pribadi. Mereka bisa merasa lebih aman ketika menjaga jarak emosional.
Membuka diri terkadang dianggap berisiko karena terdapat kekhawatiran akan ditolak, disakiti, atau tidak dipahami.
Meski demikian, kemampuan membangun kedekatan dapat berkembang seiring pengalaman dan hubungan yang memberikan rasa aman.
3. Terlalu Peka terhadap Penolakan
Orang yang memiliki pengalaman kurang mendapatkan afeksi dapat menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sikap orang lain.
Komentar sederhana, pesan yang tidak segera dibalas, atau perubahan nada bicara terkadang bisa ditafsirkan sebagai tanda tidak disukai atau ditolak.
Akibatnya, mereka mungkin terlalu banyak memikirkan perkataan dan tindakan orang lain.
Padahal, perubahan perilaku seseorang belum tentu berkaitan dengan dirinya. Belajar membedakan antara fakta dan asumsi dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dalam hubungan.
4. Kesulitan Mengungkapkan Perasaan
Tidak semua orang terbiasa menyampaikan kasih sayang melalui kata-kata. Bagi sebagian individu, mengucapkan kalimat seperti “aku sayang kamu”, “aku membutuhkanmu”, atau bahkan “maaf” dapat terasa sangat sulit.
Mereka sebenarnya dapat memiliki perasaan yang mendalam, tetapi kesulitan menemukan cara untuk mengungkapkannya.
Kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki empati atau tidak peduli terhadap orang lain. Bisa saja mereka membutuhkan waktu untuk belajar mengenali dan mengomunikasikan emosi secara terbuka.
5. Terlalu Mengandalkan Diri Sendiri
Kemandirian pada dasarnya merupakan kualitas yang positif. Namun, dalam beberapa kasus, seseorang dapat menjadi terlalu terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Mereka mungkin enggan meminta pertolongan meskipun sebenarnya sedang membutuhkan dukungan.
Sikap tersebut dapat muncul karena merasa lebih aman ketika hanya mengandalkan diri sendiri. Ketergantungan kepada orang lain mungkin dianggap sebagai sesuatu yang berisiko.
Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut berpotensi membuat seseorang kesulitan menerima bantuan atau menunjukkan sisi rentannya kepada orang yang dipercaya.
6. Lebih Nyaman Menghabiskan Waktu Sendiri
Sebagian individu mungkin merasa lebih tenang ketika berada dalam ruang pribadi daripada berada di tengah banyak orang.
Kesendirian dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan energi, mengatur pikiran, dan menghindari situasi sosial yang terasa melelahkan.
Namun, menikmati waktu sendiri tidak sama dengan menjadi antisosial. Banyak orang memang memiliki kebutuhan sosial yang berbeda-beda.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang sepenuhnya menghindari hubungan sosial karena merasa tidak aman, takut ditolak, atau tidak mampu mempercayai orang lain.
7. Cenderung Meragukan Nilai Diri
Kurangnya pengalaman mendapatkan afeksi tidak selalu membuat seseorang merasa tidak berharga. Namun, pada sebagian orang, pengalaman masa kecil yang kurang mendukung dapat berkontribusi terhadap munculnya keraguan terhadap diri sendiri.
Mereka mungkin sulit menerima pujian, mengecilkan pencapaian, atau terus membandingkan diri dengan orang lain.
Ketika mendapat apresiasi, mereka bahkan bisa merasa bahwa pujian tersebut tidak layak diterima.
Pola tersebut dapat diubah melalui pengalaman positif, hubungan yang suportif, serta proses memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Pada akhirnya, jarang mendapat pelukan ketika kecil tidak bisa dijadikan satu-satunya penjelasan atas karakter atau perilaku seseorang saat dewasa. Hubungan manusia dibentuk oleh banyak faktor, termasuk pola asuh, pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan kepribadian.
Karena itu, seseorang tidak perlu langsung memberi label pada dirinya hanya karena merasa memiliki beberapa tanda di atas. Memahami pengalaman masa lalu dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain.