JawaPos.com – Memiliki banyak uang memang dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan hidup, tetapi kondisi finansial bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan seseorang.
Dalam perspektif psikologi, kesejahteraan juga berkaitan dengan cara seseorang memandang kehidupan, mengelola emosi, membangun hubungan, serta menemukan makna dari apa yang dijalani sehari-hari.
Karena itu, seseorang dengan kondisi ekonomi sederhana tetap dapat merasakan kehidupan yang bermakna dan menyenangkan apabila memiliki pola perilaku yang sehat.
Orang-orang seperti ini umumnya tidak menjadikan kepemilikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Mereka lebih banyak memperhatikan hubungan, pengalaman, rasa syukur, serta kemampuan menghadapi persoalan.
Baca Juga: 7 Perilaku yang Merusak Perkembangan Seseorang di Lingkungan Kerja Remote Menurut Psikologi
Dilansir dari geediting.com, berikut tujuh perilaku yang dikaitkan dengan orang-orang yang tetap merasa bahagia meskipun tidak hidup dalam kemewahan.
1. Lebih Menghargai Pengalaman daripada Barang
Bagi sebagian orang, kebahagiaan tidak harus diwujudkan melalui barang mahal atau mengikuti tren terbaru.
Mereka justru lebih menikmati pengalaman seperti melakukan perjalanan, menjalankan hobi, belajar sesuatu yang baru, atau sekadar berkumpul bersama keluarga dan sahabat.
Barang baru memang dapat memberikan kesenangan, tetapi rasa tersebut bisa berkurang setelah seseorang terbiasa memilikinya. Sebaliknya, pengalaman dapat menghasilkan kenangan yang terus melekat dan menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Karena itu, orang yang bahagia dengan kehidupan sederhana cenderung mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang memberikan makna, bukan hanya kepuasan sesaat.
2. Terbiasa Menghargai Hal-Hal yang Sudah Dimiliki
Rasa syukur dapat membantu seseorang melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Daripada terus memikirkan sesuatu yang belum dimiliki, mereka belajar memperhatikan hal-hal positif yang sudah ada, seperti kesehatan, keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, atau orang-orang yang memberikan dukungan.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah mencatat beberapa hal yang disyukuri setiap hari.
Kebiasaan tersebut dapat membantu mengarahkan perhatian pada sisi positif kehidupan sehingga seseorang tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.
3. Tidak Gengsi Meminta Pertolongan
Tidak semua persoalan harus diselesaikan sendirian. Orang yang memiliki kehidupan bahagia biasanya memahami bahwa menerima bantuan merupakan bagian dari hubungan antarmanusia.
Ketika menghadapi masalah, mereka tidak selalu memaksakan diri untuk terlihat kuat. Mereka bersedia bercerita, meminta saran, atau menerima bantuan dari orang yang dipercaya.
Memiliki orang-orang yang dapat diandalkan juga dapat membuat seseorang lebih siap menghadapi tekanan kehidupan.
Meminta pertolongan bukan berarti tidak mandiri. Justru, kemampuan mengetahui kapan membutuhkan dukungan dapat menjadi bagian dari cara menghadapi masalah secara sehat.
4. Tetap Bertanggung Jawab terhadap Keuangan
Bahagia tanpa kekayaan bukan berarti mengabaikan kondisi keuangan.
Sebaliknya, seseorang tetap perlu mengetahui kemampuan finansialnya dan mengatur pengeluaran dengan bijak.
Membuat anggaran sederhana, menyisihkan sebagian pendapatan, menghindari utang konsumtif, dan tidak memaksakan gaya hidup di luar kemampuan dapat membantu mengurangi tekanan finansial.
Yang terpenting bukan semata-mata berapa besar pendapatan yang dimiliki, tetapi seberapa baik seseorang mengendalikan dan menggunakannya.
Rasa memiliki kendali terhadap keuangan dapat memberikan ketenangan yang tidak selalu diperoleh hanya dengan memiliki penghasilan besar.
5. Menjaga Hubungan dengan Orang-Orang Terdekat
Kehadiran keluarga, sahabat, maupun komunitas dapat menjadi sumber kebahagiaan yang penting.
Orang yang merasa puas dengan kehidupannya biasanya tidak hanya mengejar kesuksesan materi, tetapi juga menyediakan waktu untuk orang-orang yang berarti bagi mereka.
Mereka lebih memilih membangun beberapa hubungan yang benar-benar dekat daripada sekadar memiliki banyak kenalan.
Hubungan yang sehat memungkinkan seseorang mendapatkan dukungan ketika menghadapi masalah sekaligus memiliki tempat untuk berbagi cerita dan kebahagiaan.
6. Gemar Berbuat Baik dan Memiliki Empati
Kebaikan sederhana juga dapat memberikan arti dalam kehidupan.
Membantu seseorang yang kesulitan, mendengarkan teman yang sedang menghadapi masalah, atau memberikan dukungan kepada orang lain merupakan contoh perilaku yang memperkuat hubungan sosial.
Namun, empati tidak hanya ditujukan kepada orang lain. Orang yang bahagia juga perlu memperlakukan dirinya sendiri dengan penuh pengertian.
Mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki hari buruk dan tidak selalu harus tampil sempurna.
Kemampuan menerima diri sekaligus peduli kepada orang lain dapat membantu menciptakan kehidupan yang lebih seimbang.
7. Berusaha Melihat Sisi Positif dari Persoalan
Cara seseorang menafsirkan masalah turut memengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupan.
Orang yang memiliki pola pikir positif bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan atau kesedihan. Mereka tetap menghadapi masalah, tetapi berusaha melihat apa yang bisa dipelajari dari pengalaman tersebut.
Ketika menghadapi keadaan yang tidak dapat dikendalikan, mereka memilih mengarahkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dilakukan.
Sikap semacam ini dapat membantu seseorang menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tekanan dan tidak terlalu larut dalam persoalan yang berada di luar kendalinya.