← Beranda
7 Pola Masa Kecil yang Dapat Membuat Seseorang Lebih Tertutup dalam Menunjukkan Emosi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 01.27 WIB
Ilustrasi seseorang yang jarang menunjukkan emosi

JawaPos.com – Cara seseorang menunjukkan emosi bisa sangat berbeda. Ada orang yang mudah memperlihatkan rasa senang, sedih, kecewa, atau marah, sementara sebagian lainnya cenderung menyimpan perasaan dan terlihat tenang dalam berbagai situasi.

Sikap yang minim ekspresi tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki emosi. Cara menampilkan perasaan dapat dipengaruhi oleh kepribadian, lingkungan, pola asuh, hingga pengalaman hidup yang pernah dilalui.

Masa kanak-kanak menjadi salah satu periode ketika seseorang mulai belajar memahami emosi dan menentukan bagaimana cara meresponsnya. Pengalaman tertentu dapat membuat seorang anak terbiasa mengungkapkan perasaan, sementara pengalaman lainnya justru membuat mereka lebih berhati-hati dalam menunjukkannya.

Dilansir dari Geediting, berikut tujuh pengalaman masa kecil yang dapat berkaitan dengan kebiasaan seseorang menyimpan emosi ketika dewasa.

Baca Juga: Ingin Anak Remaja Berhenti Galau Akibat Sering Scroll Ponsel? Lakukan 7 Perilaku Menurut Psikologi

1. Tumbuh dalam Keluarga yang Tidak Terbiasa Membicarakan Perasaan

Seorang anak belajar banyak hal dari lingkungan terdekatnya, termasuk cara mengelola emosi. Jika di rumah perasaan jarang dibicarakan, anak mungkin tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar mengungkapkan apa yang sedang dirasakan.

Misalnya, menangis dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau menunjukkan kesedihan justru dianggap sebagai tanda kelemahan.

Dalam kondisi seperti ini, anak dapat belajar bahwa menyimpan emosi merupakan cara yang lebih aman atau lebih diterima oleh lingkungan.

2. Pernah Dipermalukan Ketika Menunjukkan Emosi

Pengalaman negatif ketika mengekspresikan perasaan dapat meninggalkan kesan mendalam. Anak yang pernah ditertawakan saat menangis, dimarahi ketika marah, atau dianggap berlebihan ketika merasa takut mungkin menjadi lebih berhati-hati di kemudian hari.

Ia dapat belajar menghubungkan ekspresi emosi dengan risiko mendapatkan penolakan atau rasa malu.

Ketika dewasa, pola tersebut bisa muncul dalam bentuk kebiasaan menyimpan perasaan dan berpikir berkali-kali sebelum terbuka kepada orang lain.

3. Terbiasa Memikul Tanggung Jawab Sejak Dini

Sebagian anak tumbuh dalam keadaan yang membuat mereka harus mengambil tanggung jawab lebih besar dibandingkan anak seusianya.

Misalnya, mereka perlu membantu mengurus adik atau menghadapi kondisi keluarga yang penuh tekanan. Dalam situasi tersebut, anak mungkin belajar untuk mengesampingkan kebutuhannya sendiri agar bisa membantu orang lain.

Kebiasaan itu dapat terbawa hingga dewasa. Mereka mungkin terlihat sangat mandiri dan kuat, tetapi tidak selalu terbiasa meminta bantuan atau menunjukkan ketika dirinya sedang kesulitan.

4. Jarang Mendapat Dukungan Emosional

Ada anak yang tidak banyak mendapatkan respons emosional ketika sedang sedih, takut, atau kecewa. Akibatnya, mereka belajar mencari cara sendiri untuk menghadapi perasaan tersebut.

Lambat laun, muncul pola bahwa masalah emosional harus diselesaikan seorang diri. Ketika dewasa, orang dengan pengalaman seperti ini mungkin merasa kurang nyaman ketika harus menceritakan perasaan atau meminta dukungan.

Bukan berarti mereka tidak membutuhkan orang lain. Bisa jadi, mereka hanya belum terbiasa menunjukkan kebutuhan emosional secara terbuka.

5. Lebih Sering Dinilai dari Prestasi

Dalam sebagian keluarga, keberhasilan akademik, pekerjaan, atau pencapaian tertentu mendapat perhatian yang sangat besar.

Anak kemudian dapat belajar bahwa hasil dan prestasi merupakan hal yang paling penting. Perasaan seperti lelah, kecewa, atau takut mungkin menjadi sesuatu yang dikesampingkan demi mencapai target.

Jika pola tersebut berlangsung lama, seseorang bisa terbiasa memprioritaskan tugas dan tanggung jawab daripada mengungkapkan kondisi emosionalnya.

6. Meniru Figur yang Minim Ekspresi

Anak banyak belajar melalui pengamatan. Cara orang tua atau orang terdekat dalam menghadapi emosi dapat menjadi contoh bagi mereka.

Jika figur yang sering mereka lihat cenderung jarang membicarakan perasaan, anak mungkin menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Seiring bertambah usia, pola yang sama dapat terbentuk. Mereka terbiasa menjaga ekspresi dan memilih untuk tidak memperlihatkan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

7. Pernah Menghadapi Pengalaman yang Membuatnya Merasa Tidak Aman

Pengalaman masa kecil yang sangat menekan dapat memengaruhi cara seseorang merespons emosi. Dalam situasi tertentu, menutup diri atau tidak menunjukkan perasaan dapat menjadi cara untuk menghadapi keadaan yang dirasa sulit atau tidak aman.

Pengalaman tersebut bisa sangat beragam dan dampaknya berbeda pada setiap orang. Tidak semua orang yang mengalami masa kecil sulit akan menjadi tertutup secara emosional.

Namun, pada sebagian individu, pola perlindungan diri yang terbentuk sejak kecil dapat terus terbawa hingga dewasa.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho