JawaPos.com - Menjadi dewasa bukan sekadar bertambahnya usia. Seseorang bisa berusia 30, 40, bahkan 50 tahun, tetapi masih menunjukkan pola perilaku yang membuatnya tampak belum matang secara emosional.
Sebaliknya, ada orang yang relatif muda tetapi mampu menghadapi masalah dengan tenang, bertanggung jawab, dan mempertimbangkan perasaan maupun kebutuhan orang lain.
Dalam psikologi, kematangan tidak hanya berkaitan dengan usia kronologis. Kematangan juga terlihat dari kemampuan seseorang mengatur emosi, menerima kenyataan, mengambil tanggung jawab, menghadapi ketidaknyamanan, dan memahami bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginannya.
Karena itu, ketika kita mengatakan seseorang “tidak pernah dewasa”, sebaiknya istilah tersebut tidak dipahami sebagai diagnosis psikologis. Ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pola perilaku yang menunjukkan kematangan emosional yang belum berkembang secara optimal.
Menariknya, perilaku semacam ini sering kali terlihat dalam kehidupan sehari-hari dan dianggap biasa. Ada orang yang selalu menyalahkan keadaan, mudah tersinggung ketika dikritik, menghindari percakapan sulit, membutuhkan perhatian terus-menerus, atau mengharapkan orang lain menyelesaikan masalahnya.
Berikut enam perilaku yang dapat membuat seseorang tampak belum benar-benar dewasa secara emosional.
1. Selalu Menyalahkan Orang Lain Ketika Sesuatu Berjalan Buruk
Salah satu tanda yang paling mudah terlihat adalah ketidakmampuan mengakui tanggung jawab pribadi.
Ketika mengalami kegagalan, orang yang belum matang secara emosional mungkin segera mencari seseorang untuk disalahkan.
“Kalau dia tidak melakukan itu, saya pasti berhasil.”
“Semua ini karena keluarga saya.”
“Atasan saya memang sengaja menjatuhkan saya.”
“Pasangan saya yang membuat saya seperti ini.”
Dalam situasi tertentu, tentu saja orang lain memang dapat berkontribusi terhadap masalah kita. Tidak semua kegagalan merupakan kesalahan pribadi. Namun, perbedaannya terletak pada kemampuan seseorang melihat bagian yang menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Kematangan emosional membuat seseorang mampu mengatakan, “Saya memang diperlakukan tidak adil, tetapi saya juga perlu memikirkan apa yang bisa saya lakukan sekarang.”
Ini adalah perubahan perspektif yang penting.
Orang dewasa secara psikologis tidak selalu menganggap dirinya sebagai penyebab semua masalah, tetapi juga tidak selalu melihat dirinya sebagai korban dari semua keadaan.
Ia mampu memisahkan dua hal: apa yang berada di luar kendalinya dan apa yang masih dapat ia kendalikan.
Misalnya, seseorang kehilangan pekerjaan. Ia tidak bisa mengendalikan keputusan perusahaan. Namun, ia masih dapat mengendalikan bagaimana mencari pekerjaan baru, memperbaiki keterampilan, mengatur keuangan, dan menghadapi situasi tersebut.
Sebaliknya, pola menyalahkan terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya. Jika semua masalah selalu disebabkan oleh orang lain, maka dirinya tidak memiliki alasan untuk melakukan perubahan.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat menghambat perkembangan pribadi.
Kedewasaan bukan berarti selalu berkata, “Ini salah saya.”
Kedewasaan lebih dekat dengan kemampuan mengatakan:
“Saya mungkin tidak menyebabkan semua ini, tetapi apa bagian saya dan apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Itulah bentuk tanggung jawab yang lebih sehat.
2. Tidak Tahan Mendapat Kritik atau Mendengar Sesuatu yang Tidak Disukai
Semua orang pada dasarnya ingin dihargai. Kritik juga tidak selalu menyenangkan.
Namun, orang yang matang secara emosional mampu membedakan antara kritik terhadap perilaku dan serangan terhadap harga diri.
Sebaliknya, seseorang yang belum matang mungkin menganggap hampir semua kritik sebagai penghinaan.
Ketika diberi masukan, reaksinya bisa berupa marah, defensif, menyindir, diam berhari-hari, menyerang balik, atau berusaha mencari kesalahan orang yang memberikan kritik.
Misalnya, seorang teman berkata:
“Menurutku cara kamu berbicara kepada pasanganmu tadi cukup kasar.”
Orang yang matang mungkin merasa tidak nyaman, tetapi kemudian berpikir:
“Mungkin saya memang terlalu emosional. Apa yang membuat saya berbicara seperti itu?”
Orang yang kurang matang mungkin langsung menjawab:
“Kamu juga sering melakukan hal yang sama!”
Perhatian kemudian berpindah dari isi kritik menjadi usaha untuk mempertahankan harga diri.
Secara psikologis, hal ini dapat berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Ketika kritik terasa mengancam gambaran seseorang tentang dirinya sendiri, ia mungkin secara otomatis mencoba melindungi dirinya dengan menyangkal, membenarkan diri, atau menyerang balik.
Tentu saja, bukan berarti seseorang harus menerima semua kritik.
Kritik bisa saja tidak adil, manipulatif, atau disampaikan dengan cara yang buruk. Kematangan justru terlihat ketika seseorang mampu mengevaluasi kritik sebelum bereaksi.
Ia dapat bertanya:
“Apakah kritik ini benar?”
“Apakah ada bagian yang bisa saya pelajari?”
“Apakah cara orang ini menyampaikannya memang tidak tepat?”
Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi merupakan salah satu bentuk kematangan yang penting.
3. Menginginkan Kenyamanan Sekarang dan Sulit Menunda Kepuasan
Kedewasaan sering kali membutuhkan kemampuan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hari ini demi sesuatu yang lebih baik di masa depan.
Contohnya sederhana.
Menabung berarti menunda keinginan membeli sesuatu.
Belajar berarti menunda hiburan.
Berolahraga berarti memilih ketidaknyamanan sekarang demi kesehatan di masa depan.
Menyelesaikan pekerjaan berarti tetap fokus meskipun kita ingin bermalas-malasan.
Sebagian orang mengalami kesulitan dengan konsep ini. Mereka ingin hasil segera, tetapi tidak ingin melalui prosesnya.
Mereka ingin memiliki hubungan yang sehat, tetapi tidak ingin belajar berkomunikasi.
Mereka ingin kondisi keuangan membaik, tetapi tidak ingin mengurangi pengeluaran.
Mereka ingin karier berkembang, tetapi tidak ingin menghadapi proses belajar dan kegagalan.
Mereka ingin dihormati, tetapi tidak selalu bersedia menunjukkan perilaku yang pantas mendapatkan kepercayaan.
Psikologi perkembangan telah lama membahas kemampuan menunda kepuasan sebagai bagian penting dari pengendalian diri. Kemampuan mengendalikan dorongan tidak berarti seseorang harus hidup tanpa kesenangan. Masalahnya muncul ketika keinginan jangka pendek terus-menerus mengalahkan tujuan jangka panjang.
Orang dewasa bukan berarti tidak pernah impulsif.
Semua manusia bisa membuat keputusan impulsif.
Perbedaannya adalah orang yang lebih matang cenderung mampu berkata:
“Ini memang menyenangkan sekarang, tetapi apakah keputusan ini akan membantu saya beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan?”
Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan adanya kemampuan melihat konsekuensi, bukan hanya mengejar perasaan saat ini.
4. Menghindari Percakapan Sulit dan Berharap Masalah Hilang Sendiri
Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan diam.
Namun, sebagian orang memiliki kebiasaan menghindari konflik sampai masalah tersebut menjadi semakin besar.
Ketika ada persoalan dengan pasangan, mereka memilih menghilang.
Ketika melakukan kesalahan, mereka berharap tidak ada yang membahasnya.
Ketika memiliki masalah dengan teman, mereka memutus komunikasi tanpa menjelaskan apa yang terjadi.
Ketika mendapatkan tugas yang sulit, mereka menunda sampai tenggat waktu hampir habis.
Menghindari sesuatu memang dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek. Kita tidak perlu merasakan kecemasan atau ketidaknyamanan yang muncul ketika menghadapi masalah.
Tetapi masalahnya tetap ada.
Bahkan, penghindaran sering kali membuat kecemasan semakin besar karena otak belajar bahwa situasi tersebut adalah sesuatu yang harus dihindari.
Kematangan emosional bukan berarti seseorang selalu berani menghadapi semua konflik dengan sempurna. Orang dewasa juga bisa takut, gugup, atau membutuhkan waktu sebelum berbicara.
Yang membedakan adalah ia akhirnya bersedia menghadapi masalah.
Ia bisa mengatakan:
“Saya belum siap membicarakan ini sekarang. Beri saya waktu sampai malam, lalu kita bicarakan.”
Itu jauh lebih matang daripada menghilang tanpa penjelasan.
Kemampuan menghadapi percakapan yang tidak nyaman juga berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi. Seseorang perlu menoleransi rasa malu, marah, takut, atau kecewa tanpa langsung melarikan diri.
Pada akhirnya, menjadi dewasa berarti memahami bahwa ketidaknyamanan tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.
Kadang-kadang, ketidaknyamanan justru merupakan bagian dari proses menyelesaikan sesuatu.
5. Membutuhkan Perhatian dan Validasi Terus-Menerus dari Orang Lain
Manusia memang membutuhkan hubungan sosial. Kita semua ingin dihargai, dicintai, dan diakui.
Masalah muncul ketika harga diri seseorang hampir sepenuhnya bergantung pada respons orang lain.
Ia merasa baik ketika mendapatkan pujian, tetapi langsung merasa tidak berharga ketika tidak diperhatikan.
Ia membutuhkan orang lain untuk terus meyakinkan bahwa dirinya menarik, pintar, berhasil, atau disukai.
Dalam kehidupan modern, pola ini dapat semakin terlihat melalui media sosial.
Jumlah “like”, komentar, pesan, atau perhatian dari orang lain dapat menjadi sumber validasi. Ketika respons yang diterima lebih sedikit dari harapan, seseorang bisa merasa dirinya tidak cukup baik.
Sekali lagi, menikmati apresiasi bukanlah tanda ketidakdewasaan.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak mampu mempertahankan rasa berharga tanpa terus-menerus mendapatkan pengakuan eksternal.
Kematangan emosional melibatkan kemampuan mengembangkan validasi diri.
Artinya, seseorang dapat mengatakan:
“Saya memang senang ketika orang lain menghargai saya. Tetapi nilai diri saya tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendapat mereka.”
Ini bukan berarti menjadi egois atau tidak peduli terhadap orang lain.
Justru sebaliknya.
Ketika seseorang tidak terlalu bergantung pada validasi eksternal, ia biasanya memiliki ruang yang lebih besar untuk menerima kritik, mengakui kesalahan, dan membuat keputusan berdasarkan nilai pribadi.
Ia tidak harus selalu terlihat hebat.
Ia cukup berusaha menjadi pribadi yang sesuai dengan prinsip yang ia anggap penting.
6. Mengharapkan Orang Lain Mengurus Masalah yang Seharusnya Menjadi Tanggung Jawabnya
Perilaku terakhir mungkin tampak sederhana, tetapi sangat berpengaruh terhadap hubungan seseorang dengan orang lain.
Contohnya adalah selalu mengharapkan pasangan menyelesaikan masalah emosionalnya, mengharapkan orang tua terus menyelesaikan masalah finansial, menyalahkan rekan kerja ketika tugas terbengkalai, atau berharap teman selalu datang menyelamatkan ketika terjadi masalah.
Menerima bantuan bukanlah sesuatu yang buruk.
Bahkan orang yang sangat mandiri pun membutuhkan bantuan dari waktu ke waktu.
Kematangan bukan berarti harus melakukan semuanya sendirian.
Perbedaannya adalah apakah seseorang menggunakan bantuan sebagai dukungan atau sebagai pengganti tanggung jawab pribadi.
Orang yang matang dapat berkata:
“Saya membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan ini.”
Sementara orang yang kurang matang mungkin berpikir:
“Ini masalahmu juga, jadi kamu yang harus menyelesaikannya.”
Dalam hubungan yang sehat, terdapat keseimbangan antara meminta bantuan dan mengambil tanggung jawab.
Seseorang boleh meminta dukungan emosional, tetapi ia tetap perlu belajar mengelola emosinya.
Seseorang boleh meminta bantuan keuangan dalam keadaan tertentu, tetapi tetap perlu belajar mengatur keuangannya.
Seseorang boleh meminta nasihat, tetapi keputusan akhirnya tetap menjadi tanggung jawab dirinya.
Semakin sering seseorang menyerahkan tanggung jawab pribadinya kepada orang lain, semakin sulit baginya mengembangkan rasa mampu dan percaya diri.
Mengapa Seseorang Bisa Terjebak dalam Pola Seperti Ini?
Penting untuk tidak langsung menghakimi orang yang menunjukkan perilaku-perilaku tersebut.
Kematangan emosional berkembang melalui pengalaman, hubungan, lingkungan, pembelajaran, dan kemampuan melakukan refleksi diri. Seseorang mungkin tumbuh dalam lingkungan yang tidak mengajarinya cara mengelola emosi dengan sehat.
Ada pula orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya sehingga tidak pernah belajar menghadapi frustrasi.
Sebagian lainnya mungkin pernah mengalami pengalaman yang membuat mereka sangat sensitif terhadap penolakan, kritik, atau kegagalan.
Karena itu, perilaku yang terlihat “kekanak-kanakan” belum tentu muncul karena seseorang sengaja ingin menjadi seperti itu.
Kadang-kadang, itu adalah pola yang terbentuk selama bertahun-tahun dan terus digunakan karena terasa familiar.
Namun, memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan perilakunya.
Penjelasan membantu kita memahami.
Tanggung jawab tetap diperlukan untuk berubah.
Dewasa Bukan Berarti Tidak Pernah Salah
Ada kesalahpahaman bahwa orang dewasa adalah orang yang selalu tenang, selalu rasional, tidak pernah marah, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Itu tidak realistis.
Orang yang matang pun bisa menangis.
Bisa marah.
Bisa iri.
Bisa membuat keputusan buruk.
Bisa takut.
Bisa membutuhkan bantuan.
Bisa salah.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah emosi tersebut muncul.
Seseorang mungkin marah, tetapi kemudian menyadari bahwa caranya berbicara terlalu kasar dan meminta maaf.
Seseorang mungkin gagal, tetapi kemudian mengevaluasi kesalahannya.
Seseorang mungkin mendapat kritik dan merasa tersinggung, tetapi akhirnya mempertimbangkan apakah kritik tersebut memang memiliki dasar.
Seseorang mungkin ingin melarikan diri dari masalah, tetapi memilih menghadapinya setelah menenangkan diri.
Inilah salah satu bentuk kedewasaan yang sebenarnya: bukan tidak memiliki emosi, melainkan mampu mengelola emosi tanpa membiarkan emosi sepenuhnya mengendalikan perilaku.
Kesimpulan
Enam perilaku yang dapat membuat sebagian orang tampak tidak pernah dewasa adalah:
Selalu menyalahkan orang lain ketika sesuatu berjalan buruk.
Tidak mampu menerima kritik tanpa merasa diserang.
Sulit menunda kepuasan dan selalu mengejar kenyamanan sesaat.
Menghindari percakapan sulit dan berharap masalah hilang sendiri.
Terlalu bergantung pada perhatian dan validasi orang lain.
Mengharapkan orang lain bertanggung jawab atas masalah yang sebenarnya menjadi tanggung jawab dirinya.
Namun, keenam perilaku ini sebaiknya dipandang sebagai pola yang bisa diubah, bukan label permanen terhadap kepribadian seseorang.
Kedewasaan bukan sesuatu yang otomatis muncul ketika seseorang mencapai usia tertentu.
Ia berkembang ketika seseorang mulai berani melihat dirinya sendiri dengan jujur.
Ketika ia mampu mengatakan, “Saya salah.”
Ketika ia berani menerima bahwa tidak semua orang akan menyukainya.
Ketika ia belajar menunda kesenangan.
Ketika ia berhenti melarikan diri dari percakapan sulit.
Dan ketika ia memahami bahwa hidup memang tidak selalu memberikan apa yang diinginkannya.
Pada akhirnya, salah satu tanda kedewasaan yang paling kuat mungkin bukan kemampuan untuk selalu terlihat kuat, melainkan kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri tanpa harus menyalahkan dunia setiap kali kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.