JawaPos.com – Pengalaman masa kanak-kanak dapat ikut membentuk cara seseorang berinteraksi, mengekspresikan emosi, dan membangun hubungan ketika beranjak dewasa.
Salah satu bentuk kasih sayang yang sederhana adalah sentuhan fisik, termasuk pelukan. Bagi sebagian anak, pelukan dari orang tua atau pengasuh dapat menjadi bentuk rasa aman, perhatian, dan kedekatan emosional.
Ketika seseorang tumbuh dengan minim afeksi fisik, pengalaman tersebut dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan pola tertentu ketika dewasa. Namun, hal ini tidak berarti setiap orang yang jarang dipeluk pasti mengalami masalah yang sama.
Karakter, lingkungan, pengalaman hidup, serta hubungan yang terbentuk sepanjang perjalanan seseorang juga memiliki peran besar dalam perkembangan perilaku dan emosinya.
Baca Juga: Jika Anda Melihat 8 Perilaku Ini dari Pasangan, Anda Hanya Menjadi Pelampiasan Menurut Psikologi
Dilansir dari Geediting.com, terdapat sejumlah perilaku yang dapat dikaitkan dengan pengalaman kurang mendapatkan sentuhan kasih sayang ketika masih kecil.
1. Merasa Tidak Nyaman dengan Sentuhan
Sebagian orang yang sejak kecil tidak terbiasa menerima pelukan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan kontak fisik.
Ketika seseorang menyentuh atau memeluk mereka, respons yang muncul bisa berupa rasa canggung, kaku, atau keinginan untuk menjaga jarak.
Namun, reaksinya tidak selalu sama. Ada pula orang yang justru sangat menyukai sentuhan dan mencari kedekatan fisik karena merasa kebutuhan tersebut belum terpenuhi sebelumnya.
Artinya, pengalaman minim afeksi dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan merespons kedekatan fisik dengan orang lain.
2. Tidak Mudah Membuka Diri Secara Emosional
Kedekatan emosional membutuhkan rasa aman dan kepercayaan. Bagi sebagian orang, membuka diri kepada orang lain bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan.
Mereka mungkin memilih menyimpan masalah sendiri, enggan menceritakan perasaan, atau membutuhkan waktu lama sebelum benar-benar percaya kepada seseorang.
Sikap tersebut terkadang menjadi bentuk perlindungan diri. Dengan menjaga jarak secara emosional, seseorang merasa memiliki kendali dan dapat mengurangi kemungkinan mengalami kekecewaan.
3. Sangat Sensitif Ketika Menghadapi Penolakan
Pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi cara seseorang membaca respons dari orang lain.
Orang yang memiliki rasa tidak aman dalam hubungan mungkin menganggap perubahan kecil dalam sikap seseorang sebagai tanda bahwa dirinya sedang ditolak.
Pesan yang terlambat dibalas, perubahan nada bicara, atau ajakan yang ditolak bisa saja dipikirkan secara berlebihan.
Akibatnya, mereka menjadi lebih waspada terhadap tanda-tanda penolakan meskipun belum tentu orang lain benar-benar bermaksud demikian.
4. Sulit Mengungkapkan Perasaan
Ada orang yang sebenarnya memiliki perasaan mendalam, tetapi kesulitan mengungkapkannya secara langsung.
Mengatakan "aku sayang kamu", memberikan pelukan, atau meminta maaf mungkin terasa canggung bagi mereka.
Bukan berarti mereka tidak peduli. Bisa jadi, mereka memang tidak terbiasa menggunakan ekspresi kasih sayang tersebut sejak kecil.
Karena itu, perasaan mereka terkadang lebih banyak ditunjukkan melalui tindakan daripada kata-kata atau sentuhan.
5. Terlalu Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri
Kemandirian memang merupakan kualitas positif. Namun, pada sebagian orang, sikap mandiri dapat berkembang menjadi keengganan untuk menerima bantuan.
Mereka terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri dan merasa tidak nyaman ketika harus meminta pertolongan.
Di balik sikap tersebut terkadang terdapat keyakinan bahwa mengandalkan diri sendiri merupakan cara paling aman untuk menghindari kekecewaan.
Jika berlangsung terus-menerus, pola ini dapat membuat seseorang kesulitan menunjukkan sisi rentan dan menerima dukungan dari orang-orang terdekat.
6. Lebih Nyaman Menghabiskan Waktu Sendiri
Sebagian orang merasa lebih tenang ketika berada dalam ruang pribadinya.
Mereka mungkin lebih menikmati aktivitas seorang diri dibandingkan berada dalam keramaian atau harus terus berinteraksi dengan banyak orang.
Hal tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang antisosial. Kesendirian juga dapat menjadi cara yang sehat untuk beristirahat dan mengisi kembali energi.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang terus-menerus menghindari hubungan sosial karena merasa tidak aman atau takut mengalami kedekatan emosional.
7. Sering Meragukan Nilai Diri Sendiri
Kurangnya pengalaman mendapatkan afirmasi dan kasih sayang saat tumbuh besar dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Seseorang mungkin sulit menerima pujian, menganggap pencapaiannya biasa saja, atau merasa orang lain selalu lebih baik darinya.
Bahkan ketika berhasil melakukan sesuatu, mereka justru mencari kekurangan daripada mengapresiasi usaha yang telah dilakukan.
Pola seperti ini dapat membuat seseorang terus mempertanyakan apakah dirinya cukup baik untuk dicintai, dihargai, atau diterima oleh orang lain.