JawaPos.com – Ketika membicarakan red flag, perhatian sering kali langsung tertuju pada perilaku pasangan, teman, atau orang lain. Padahal, setiap orang juga memiliki kemungkinan menunjukkan pola perilaku yang perlu dievaluasi dari dalam dirinya sendiri.
Mengenali kekurangan pribadi bukan berarti menyalahkan diri. Justru, kemampuan melakukan introspeksi dapat membantu seseorang memahami bagaimana perilakunya memengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Hal-hal yang terlihat sederhana, seperti cara menghadapi pertengkaran, merespons permintaan maaf, hingga menerima batasan orang lain, ternyata dapat memberikan gambaran mengenai pola komunikasi dan pengelolaan emosi seseorang.
Jika pola yang kurang sehat terus berulang tanpa disadari, hubungan pribadi maupun profesional dapat ikut terdampak.
Baca Juga: Jika Merasa Anak Anda Stuck dengan Hidupnya, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Dilansir dari Psychology Today, berikut tiga hal yang dapat diperhatikan untuk membantu mengenali red flag yang mungkin ada dalam diri sendiri.
1. Amati Cara Anda Menghadapi Konflik
Perselisihan dapat menjadi salah satu situasi yang memperlihatkan bagaimana seseorang sebenarnya merespons tekanan emosional.
Cobalah mengingat kembali apa yang biasanya Anda lakukan ketika terjadi perbedaan pendapat. Apakah Anda langsung meninggikan suara, menyalahkan pihak lain, memilih diam, atau justru berusaha memahami persoalan sebelum memberikan respons?
Reaksi seperti menghindari pembicaraan, bersikap agresif, atau terus mencari pihak yang harus disalahkan dapat menjadi tanda bahwa ada pola komunikasi yang perlu diperbaiki.
Salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan cara seseorang menghadapi konflik adalah gaya keterikatan. Orang dengan kecenderungan keterikatan cemas, misalnya, dapat menjadi sangat terlibat secara emosional ketika menghadapi masalah dalam hubungan. Sementara itu, seseorang dengan kecenderungan menghindar mungkin memilih menarik diri ketika konflik muncul.
Sebaliknya, keterikatan yang lebih aman umumnya dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi secara terbuka, menyampaikan kebutuhan, dan mencari jalan tengah.
Karena itu, memperhatikan pola diri ketika menghadapi konflik dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki cara berkomunikasi. Bukan berarti Anda harus selalu tenang dalam setiap pertengkaran, tetapi penting untuk mengetahui apakah respons yang muncul membantu menyelesaikan masalah atau justru memperpanjangnya.
2. Evaluasi Cara Anda Meminta Maaf
Mengucapkan kata "maaf" tidak selalu berarti persoalan telah selesai.
Coba perhatikan kembali bagaimana Anda meminta maaf setelah melakukan kesalahan. Apakah Anda benar-benar mengakui tindakan yang keliru, atau justru menyisipkan alasan untuk membela diri?
Permintaan maaf yang sehat seharusnya tidak sekadar bertujuan menghentikan pertengkaran. Ada kesadaran mengenai kesalahan yang dilakukan dan kemauan untuk memperbaiki dampaknya.
Sebagai contoh, kalimat seperti "Maaf kalau kamu merasa tersinggung" dapat terdengar berbeda dengan pengakuan yang lebih jelas terhadap tindakan sendiri. Perbedaannya terletak pada kesediaan untuk mengambil tanggung jawab.
Sejumlah kajian psikologi juga mengaitkan kerendahan hati dengan kualitas permintaan maaf. Seseorang yang mampu mengakui kesalahan tanpa terlalu sibuk mempertahankan citra dirinya cenderung lebih terbuka terhadap proses perbaikan.
Maka, sesekali tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya meminta maaf karena benar-benar menyesal, atau hanya ingin konflik segera berakhir?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu Anda menemukan pola yang selama ini mungkin tidak disadari.
3. Perhatikan Respons Anda terhadap Batasan Orang Lain
Setiap hubungan membutuhkan batasan. Batasan dapat berkaitan dengan waktu, ruang pribadi, komunikasi, sentuhan fisik, keputusan pribadi, maupun hal-hal yang membuat seseorang merasa nyaman atau tidak nyaman.
Cara seseorang merespons ketika orang lain menetapkan batasan dapat menjadi gambaran penting mengenai kualitas hubungan tersebut.
Misalnya, bagaimana reaksi Anda ketika teman mengatakan membutuhkan waktu sendiri? Apakah Anda menghormatinya, atau justru menganggapnya sebagai bentuk penolakan?
Begitu pula ketika pasangan tidak menyetujui suatu permintaan. Respons yang sehat bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan mampu menerima bahwa orang lain mempunyai hak untuk menentukan batas bagi dirinya sendiri.
Masalah dapat muncul ketika penolakan dianggap sebagai ancaman, kemudian dibalas dengan tekanan, rasa bersalah, manipulasi, atau usaha untuk mengendalikan keputusan orang lain.
Belajar menghormati batasan bukan berarti mengabaikan kebutuhan pribadi. Justru, hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan sendiri sekaligus menghargai kebutuhan pihak lain.
Dengan memahami hal tersebut, komunikasi menjadi lebih terbuka dan kedua pihak memiliki ruang yang cukup untuk merasa aman dalam hubungan.