JawaPos.com – Pengalaman seseorang selama masa kanak-kanak dapat ikut membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan menjalin hubungan ketika dewasa.
Dalam psikologi perkembangan, perhatian dan respons yang diberikan pengasuh kepada anak merupakan bagian penting dari terbentuknya rasa aman dalam hubungan. Pengalaman pengabaian emosional pada masa kecil, misalnya, dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan pola keterikatan yang kurang aman dan persoalan dalam hubungan interpersonal saat dewasa.
Pelukan dan sentuhan fisik memang dapat menjadi salah satu bentuk kasih sayang. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa seseorang yang jarang dipeluk pasti mengalami masalah psikologis tertentu. Banyak faktor lain, termasuk pola pengasuhan secara keseluruhan, pengalaman hidup, kepribadian, serta lingkungan sosial, turut berperan.
Meski demikian, ada sejumlah pola perilaku yang dapat muncul pada orang yang sejak kecil minim mendapatkan afeksi atau merasa kebutuhan emosionalnya kurang terpenuhi.
Baca Juga: Kenali Sejak Dini, 8 Perilaku Pasangan Ini Bisa Jadi Bentuk Manipulasi
Dilansir dari geediting.com, berikut tujuh di antaranya, dengan merujuk pada pembahasan mengenai keterikatan, pengabaian emosional, dan hubungan interpersonal dalam psikologi.
1. Merasa kurang nyaman dengan sentuhan
Tidak semua orang memiliki tingkat kenyamanan yang sama terhadap sentuhan fisik. Seseorang yang sejak kecil tidak terbiasa menerima ekspresi kasih sayang melalui sentuhan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman ketika mendapat pelukan atau bentuk kontak fisik lainnya.
Sebagian orang dapat memilih menjaga jarak ketika seseorang mencoba mendekat secara fisik. Namun, ada pula yang justru sangat membutuhkan kedekatan setelah menemukan hubungan yang dianggap aman.
Karena itu, respons terhadap sentuhan tidak bisa digunakan sebagai tanda tunggal untuk mengetahui pengalaman masa kecil seseorang.
2. Membutuhkan waktu untuk membangun kedekatan emosional
Hubungan yang dekat membutuhkan rasa percaya dan keamanan. Bagi sebagian orang yang memiliki pengalaman pengabaian emosional, membuka diri kepada orang lain dapat terasa lebih sulit.
Mereka mungkin membutuhkan waktu lama sebelum menceritakan persoalan pribadi, menunjukkan kerentanan, atau benar-benar mempercayai seseorang.
Penelitian mengenai pengalaman pengabaian masa kecil menunjukkan adanya hubungan dengan pola keterikatan tertentu ketika dewasa. Namun, hubungan tersebut tidak berarti pengalaman masa kecil secara otomatis menentukan cara seseorang menjalani seluruh hubungan dalam hidupnya.
3. Sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan
Seseorang yang pernah mengalami penolakan atau pengabaian dalam hubungan masa kecil dapat menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan ditolak.
Hal sederhana, seperti pesan yang tidak segera dibalas atau perubahan sikap seseorang, mungkin ditafsirkan sebagai tanda bahwa dirinya tidak lagi disukai.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai rejection sensitivity atau sensitivitas terhadap penolakan. Sebuah meta-analisis terhadap 16 studi menemukan adanya hubungan positif antara pengalaman maltreatment pada masa kanak-kanak dan sensitivitas terhadap penolakan, meski kekuatannya relatif kecil.
Artinya, pengalaman masa kecil dapat menjadi salah satu faktor yang berperan, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
4. Tidak mudah mengungkapkan perasaan
Sebagian orang mungkin memiliki perasaan yang kuat, tetapi kesulitan mengungkapkannya kepada orang lain.
Mereka bisa merasa sayang, kecewa, sedih, atau membutuhkan dukungan, tetapi tidak terbiasa mengutarakannya secara langsung.
Dalam hubungan sehari-hari, hal tersebut dapat terlihat dari kecenderungan menyimpan masalah sendiri atau memilih diam ketika sedang terluka.
Pola seperti ini tidak selalu berasal dari kurangnya pelukan. Namun, pengalaman masa kecil yang membuat seseorang kurang merasa aman secara emosional dapat ikut memengaruhi cara mereka memahami dan menjalani hubungan dekat.
5. Terlalu terbiasa mengandalkan diri sendiri
Kemandirian merupakan hal positif. Namun, pada sebagian orang, kebutuhan untuk selalu melakukan semuanya sendiri dapat menjadi begitu kuat hingga mereka kesulitan menerima bantuan.
Mereka mungkin tetap mengatakan "tidak apa-apa" meski sebenarnya sedang membutuhkan dukungan.
Dalam konteks hubungan, sikap tersebut dapat membuat seseorang kesulitan menunjukkan kerentanan. Padahal, kemampuan meminta pertolongan dan menerima dukungan juga merupakan bagian dari hubungan interpersonal yang sehat.
Penelitian mengenai pengabaian masa kecil menunjukkan adanya kaitan dengan pola keterikatan tertentu pada masa dewasa, yang dapat memengaruhi cara seseorang mencari atau menghindari dukungan dari orang lain.
6. Lebih nyaman menghabiskan waktu sendirian
Memilih menikmati waktu sendiri bukan berarti seseorang memiliki masalah sosial. Banyak orang memang membutuhkan waktu sendirian untuk beristirahat atau mengisi kembali energi.
Namun, pada sebagian individu, menarik diri dari hubungan sosial dapat menjadi cara untuk menghindari situasi yang dianggap tidak nyaman secara emosional.
Jika seseorang merasa jauh lebih aman ketika tidak bergantung kepada orang lain, pola tersebut mungkin berkaitan dengan pengalaman hubungan sebelumnya.
Meski begitu, kesukaan terhadap kesendirian tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang kekurangan kasih sayang ketika kecil. Kepribadian dan kebutuhan sosial setiap orang memang berbeda.
7. Cenderung meragukan nilai diri sendiri
Pengalaman masa kecil juga dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Orang yang terbiasa merasa kebutuhan emosionalnya diabaikan mungkin tumbuh dengan pertanyaan mengenai apakah dirinya cukup berharga, dicintai, atau layak mendapatkan perhatian.
Hal ini dapat terlihat ketika seseorang sulit menerima pujian, sering membandingkan diri dengan orang lain, atau justru mengecilkan pencapaiannya sendiri.
Penelitian menunjukkan bahwa pengabaian dan kekerasan emosional pada masa kanak-kanak dapat berkaitan dengan konsep diri dan harga diri yang lebih rendah ketika dewasa.