JawaPos.com - Kritik sebenarnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Di tempat kerja, dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan dalam proses mengembangkan diri, kita akan sesekali menerima komentar mengenai sesuatu yang dianggap kurang tepat.
Namun, menariknya, tidak semua orang mampu merespons kritik dengan cara yang sama.
Ada orang yang bisa mendengarkan kritik dengan tenang, mempertimbangkannya, lalu mengambil bagian yang memang berguna. Tetapi ada pula orang yang langsung tersinggung, marah, membela diri, menyalahkan orang lain, atau bahkan memutus hubungan hanya karena mendapatkan kritik.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Dalam psikologi, ketidakmampuan menerima kritik tidak selalu berarti seseorang keras kepala atau merasa dirinya selalu benar. Reaksi terhadap kritik dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri, pengalaman masa lalu, pola pengasuhan, kebutuhan untuk mempertahankan harga diri, hingga cara otak memaknai ancaman sosial.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang sangat sulit menerima kritik.
1. Kritik dianggap sebagai serangan terhadap harga diri
Salah satu alasan paling umum adalah seseorang tidak mampu memisahkan antara kritik terhadap perilaku dan penilaian terhadap dirinya sebagai pribadi.
Misalnya, seseorang mengatakan:
“Cara kamu menyampaikan pendapat tadi kurang efektif.”
Orang yang mampu menerima kritik mungkin akan berpikir, “Berarti cara menyampaikanku perlu diperbaiki.”
Sebaliknya, orang yang memiliki harga diri yang rapuh mungkin menerjemahkannya menjadi:
“Berarti aku bodoh.”
Inilah perbedaan pentingnya.
Kritik yang sebenarnya hanya ditujukan kepada satu tindakan dapat terasa seperti ancaman terhadap identitas diri secara keseluruhan.
Dalam psikologi, harga diri berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dan menghargai dirinya sendiri. Ketika penilaian terhadap diri sangat bergantung pada keberhasilan, kompetensi, atau penerimaan orang lain, kritik dapat terasa jauh lebih menyakitkan.
Akibatnya, seseorang mungkin secara spontan melakukan pertahanan diri.
Ia mulai menjelaskan alasan mengapa dirinya melakukan kesalahan tersebut, mencari kesalahan orang yang mengkritiknya, atau berusaha membuktikan bahwa kritik tersebut tidak valid.
Bukan karena ia sama sekali tidak memahami kritik tersebut, tetapi karena menerima kritik terasa seperti mengakui bahwa dirinya “tidak cukup baik”.
Contohnya
Seorang karyawan diberi tahu oleh atasannya bahwa pekerjaannya beberapa kali terlambat.
Alih-alih mengatakan, “Baik, saya akan memperbaiki manajemen waktu,” ia langsung menjawab:
“Orang lain juga sering terlambat. Kenapa cuma saya yang ditegur?”
Respons tersebut menunjukkan upaya mengalihkan perhatian dari evaluasi terhadap perilakunya.
Dengan kata lain, fokusnya berpindah dari “Apa yang perlu saya perbaiki?” menjadi “Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya tidak salah?”
2. Memiliki pengalaman masa lalu yang membuat kritik terasa mengancam
Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang memandang kesalahan sebagai bagian normal dari proses belajar.
Sebagian orang mungkin tumbuh dengan pengalaman di mana kesalahan selalu diikuti oleh penghinaan, kemarahan, hukuman, atau perbandingan dengan orang lain.
Misalnya, seorang anak yang sering mendengar:
“Kenapa kamu selalu salah?”
“Kamu memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”
“Lihat kakakmu, dia jauh lebih baik.”
Jika pola seperti ini terjadi berulang kali, kritik dapat memiliki makna emosional yang lebih besar ketika seseorang sudah dewasa.
Komentar sederhana seperti “pekerjaanmu perlu diperbaiki” mungkin secara tidak sadar mengingatkan seseorang pada pengalaman ketika dirinya pernah dipermalukan karena melakukan kesalahan.
Karena itu, respons yang muncul bisa terlihat jauh lebih kuat daripada situasi yang sebenarnya.
Ia mungkin menjadi marah, diam, menangis, defensif, atau langsung menarik diri.
Bukan berarti setiap orang yang sensitif terhadap kritik pasti memiliki masa kecil yang buruk. Psikologi tidak sesederhana itu. Namun, pengalaman masa lalu memang dapat memengaruhi bagaimana seseorang belajar memahami kesalahan dan evaluasi dari orang lain.
Orang yang sejak kecil belajar bahwa “salah berarti aku buruk” mungkin akan lebih sulit menerima kritik dibandingkan orang yang belajar bahwa “salah berarti ada sesuatu yang bisa diperbaiki.”
3. Memiliki pola pikir yang terlalu perfeksionis
Perfeksionisme juga dapat membuat seseorang sulit menerima kritik.
Sekilas, hal ini terdengar paradoks.
Bukankah orang perfeksionis justru ingin memperbaiki diri?
Tidak selalu.
Perfeksionisme yang tidak sehat bukan sekadar keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Dalam beberapa bentuknya, perfeksionisme dapat membuat seseorang memiliki standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri dan merasa bahwa kesalahan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.
Akibatnya, kritik dapat terasa seperti bukti bahwa dirinya gagal memenuhi standar tersebut.
Misalnya, seseorang mendapatkan nilai 90 dari 100.
Alih-alih merasa puas, ia justru terus memikirkan 10 poin yang hilang.
Ketika seseorang kemudian mengatakan bahwa pekerjaannya masih memiliki beberapa kekurangan, ia mungkin merasa sangat terpukul.
Di balik respons tersebut bisa terdapat keyakinan seperti:
“Kalau aku tidak sempurna, berarti aku gagal.”
Masalahnya, standar seperti itu hampir mustahil dipertahankan dalam kehidupan nyata.
Tidak ada manusia yang selalu benar, selalu produktif, selalu bijaksana, atau selalu menghasilkan pekerjaan sempurna.
Karena itu, orang dengan kecenderungan perfeksionis terkadang bukan hanya takut menerima kritik dari orang lain, tetapi juga sangat keras terhadap dirinya sendiri.
Ironisnya, semakin takut seseorang melakukan kesalahan, semakin besar kemungkinan kritik memicu respons emosional.
4. Sulit membedakan kritik yang membangun dan kritik yang merendahkan
Ada hal penting yang sering dilupakan ketika membahas kemampuan menerima kritik:
Tidak semua kritik harus diterima begitu saja.
Sebagian kritik memang disampaikan dengan niat membantu. Namun, ada pula kritik yang disampaikan dengan cara merendahkan, mempermalukan, mengontrol, atau menyerang pribadi.
Contohnya sangat berbeda.
Kritik konstruktif:
“Presentasimu sebenarnya sudah bagus, tetapi beberapa bagian terlalu cepat sehingga audiens mungkin kesulitan mengikuti.”
Kritik yang menyerang pribadi:
“Kamu memang tidak becus kalau presentasi.”
Keduanya sama-sama bisa disebut “kritik”, tetapi dampak dan kualitas komunikasinya berbeda.
Karena itu, seseorang yang menolak kritik tidak selalu berarti ia memiliki masalah psikologis. Bisa saja kritik yang diterimanya memang disampaikan secara kasar atau tidak adil.
Namun, pada sebagian orang, pengalaman buruk menerima kritik dapat membuat mereka kemudian menganggap hampir semua kritik sebagai serangan.
Akibatnya, batas antara kritik terhadap tindakan dan serangan terhadap pribadi menjadi kabur.
Kemampuan yang lebih sehat bukanlah menerima semua kritik tanpa berpikir, melainkan mampu mengevaluasi:
Apakah kritik ini berdasarkan fakta?
Apakah ada contoh konkret?
Apakah orang tersebut benar-benar ingin membantu?
Apakah kritik ditujukan pada perilaku atau menyerang pribadi?
Apakah ada bagian dari kritik yang memang perlu saya pertimbangkan?
Dengan begitu, seseorang tidak harus menerima semua kritik, tetapi juga tidak otomatis menolak semuanya.
5. Ego dan kebutuhan untuk merasa benar
Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan psikologis untuk mempertahankan pandangan mengenai dirinya sendiri.
Jika seseorang sudah membangun identitas sebagai “orang pintar”, “orang yang selalu tahu”, “orang yang paling kompeten”, atau “orang yang selalu bisa diandalkan”, kesalahan dapat menjadi ancaman terhadap identitas tersebut.
Di sinilah ego dapat berperan.
Ketika menerima kritik, seseorang mungkin tidak lagi fokus pada isi kritik. Ia lebih sibuk mempertahankan citra dirinya.
Misalnya, seseorang dikenal sebagai ahli dalam bidang tertentu.
Kemudian seorang rekan yang lebih muda menunjukkan adanya kesalahan dalam analisisnya.
Secara objektif, kesalahan tersebut mungkin memang ada.
Tetapi karena menerima koreksi berarti mengakui bahwa dirinya bisa salah, ia justru berkata:
“Kamu masih terlalu baru untuk memahami hal ini.”
Ini adalah salah satu bentuk respons defensif.
Masalahnya bukan semata-mata pada informasi yang diberikan, tetapi pada ancaman terhadap posisi psikologisnya.
Semakin kuat seseorang mengaitkan identitas dirinya dengan status sebagai orang yang benar atau kompeten, semakin sulit baginya mengatakan:
“Ya, saya mungkin salah.”
Padahal, kemampuan mengakui kesalahan sebenarnya merupakan salah satu bentuk kekuatan psikologis.
Orang yang sehat secara psikologis tidak harus selalu benar.
Ia cukup memiliki kemampuan untuk mengatakan:
“Saya salah dalam hal ini, dan saya bisa memperbaikinya.”
6. Kurangnya rasa aman secara emosional
Kemampuan menerima kritik juga berkaitan dengan rasa aman.
Seseorang yang merasa aman terhadap dirinya sendiri cenderung lebih mampu menghadapi evaluasi negatif tanpa merasa bahwa seluruh dirinya sedang terancam.
Sebaliknya, seseorang yang terus-menerus merasa harus membuktikan dirinya mungkin lebih sensitif terhadap kritik.
Misalnya, seseorang sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain.
Ia ingin dianggap pintar, disukai, dihargai, atau berhasil.
Ketika mendapat pujian, ia merasa tenang.
Tetapi ketika menerima kritik, rasa aman tersebut tiba-tiba terganggu.
Ia mulai berpikir:
“Apakah mereka sekarang menganggap saya tidak mampu?”
“Apakah mereka kecewa kepada saya?”
“Apakah mereka akan meninggalkan saya?”
Pada titik ini, kritik tidak lagi hanya menjadi informasi mengenai sebuah perilaku.
Kritik berubah menjadi ancaman terhadap hubungan sosial dan penerimaan.
Inilah alasan mengapa dua orang dapat menerima komentar yang sama tetapi memberikan reaksi yang sangat berbeda.
Orang pertama berpikir:
“Oke, ada yang perlu diperbaiki.”
Orang kedua berpikir:
“Mereka tidak menghargai saya.”
Perbedaan tersebut dapat muncul dari tingkat rasa aman, pengalaman interpersonal, dan cara masing-masing orang menafsirkan situasi.
7. Tidak terbiasa melakukan refleksi diri
Alasan terakhir yang penting adalah kurangnya kebiasaan melakukan introspeksi.
Menerima kritik membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi diri.
Sayangnya, tidak semua orang terbiasa melakukan hal tersebut.
Sebagian orang lebih sering mencari kesalahan di luar dirinya daripada bertanya:
“Apakah ada bagian dari kritik ini yang benar?”
Ketika terjadi konflik, misalnya, mereka secara otomatis berpikir:
“Dia yang memulai.”
“Dia memang tidak suka saya.”
“Dia iri.”
“Dia sengaja menjatuhkan saya.”
Mungkin saja semua itu benar dalam situasi tertentu.
Namun, jika respons tersebut muncul setiap kali seseorang menerima kritik, ada kemungkinan ia jarang melakukan evaluasi terhadap perilakunya sendiri.
Refleksi diri membutuhkan toleransi terhadap ketidaknyamanan.
Kita harus bersedia mengakui bahwa terkadang kita salah.
Dan bagi sebagian orang, mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah.
Namun, tanpa kemampuan tersebut, seseorang akan kesulitan belajar dari pengalaman.
Ia mungkin terus mengalami konflik yang sama, membuat kesalahan yang sama, dan menyalahkan orang yang berbeda.
Kritik sebenarnya dapat menjadi alat pertumbuhan
Kritik memang tidak selalu menyenangkan.
Bahkan kritik yang disampaikan dengan niat baik pun bisa terasa tidak nyaman.
Namun, kemampuan menerima kritik secara sehat bukan berarti menjadi seseorang yang selalu menerima semua perkataan orang lain.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk memisahkan emosi dari evaluasi.
Ketika seseorang mengkritik kita, kita bisa merasa tersinggung terlebih dahulu. Itu manusiawi.
Kita tidak harus langsung tenang atau langsung setuju.
Tetapi setelah emosi mereda, kita dapat bertanya:
“Apa sebenarnya yang ingin disampaikan orang ini?”
“Apakah ada fakta yang bisa saya pelajari?”
“Apakah perilaku saya memang perlu diperbaiki?”
“Apakah cara penyampaiannya bermasalah, tetapi isinya tetap memiliki kebenaran?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita mengambil manfaat dari kritik tanpa harus kehilangan harga diri.
Bagaimana cara belajar menerima kritik?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Pertama, jangan langsung bereaksi.
Ketika mendapat kritik yang menyakitkan, beri diri sendiri waktu sebelum menjawab. Respons pertama biasanya lebih dipengaruhi emosi daripada pertimbangan rasional.
Kedua, pisahkan perilaku dari identitas.
Melakukan kesalahan tidak berarti Anda adalah orang yang buruk. Gagal dalam satu pekerjaan tidak berarti Anda adalah orang yang gagal.
Ketiga, cari bagian yang objektif.
Tidak semua bagian kritik harus benar. Tetapi mungkin ada satu bagian kecil yang berguna.
Keempat, tanyakan contoh konkretnya.
Jika seseorang mengatakan, “Kamu tidak profesional,” tanyakan:
“Bagian mana yang menurutmu kurang profesional?”
Pertanyaan seperti ini mengubah kritik yang abstrak menjadi sesuatu yang bisa dievaluasi.
Kelima, belajar mengakui kesalahan tanpa merendahkan diri.
Mengatakan “Saya salah” bukan berarti mengatakan “Saya tidak berharga.”
Keduanya adalah hal yang berbeda.
Penutup
Sebagian orang sulit menerima kritik bukan semata-mata karena mereka keras kepala atau memiliki ego besar.
Di balik respons defensif dapat terdapat berbagai faktor psikologis: harga diri yang rapuh, pengalaman masa lalu, perfeksionisme, kebutuhan akan penerimaan, rasa tidak aman, identitas yang terlalu bergantung pada keberhasilan, hingga kurangnya kebiasaan melakukan refleksi diri.
Karena itu, memahami seseorang yang sulit menerima kritik membutuhkan lebih dari sekadar memberi label “baper” atau “tidak mau disalahkan”.
Pada saat yang sama, memahami alasan psikologis tersebut bukan berarti membenarkan semua perilaku defensif.
Orang tetap bertanggung jawab atas bagaimana ia merespons orang lain.
Pada akhirnya, kemampuan menerima kritik adalah bagian dari kematangan emosional.
Kita tidak harus setuju dengan setiap kritik.
Kita juga tidak harus menerima semua penilaian orang lain sebagai kebenaran.
Namun, kita dapat belajar memiliki cukup ketenangan untuk mendengarkan, cukup keberanian untuk mengakui kesalahan, dan cukup kebijaksanaan untuk mengambil pelajaran dari sesuatu yang awalnya terasa tidak menyenangkan.
Sebab terkadang, kritik yang paling sulit kita dengarkan justru menunjukkan bagian dari diri kita yang paling membutuhkan perhatian.