← Beranda
Kenali Sejak Dini, 8 Perilaku Pasangan Ini Bisa Jadi Bentuk Manipulasi
Niko SulpriyonoSenin, 10 Agustus 2026 | 22.32 WIB
8 perilaku pasangan yang menunjukkan bahwa dia bukan orang baik. (ideapod.com)

JawaPos.com – Dalam sebuah hubungan, rasa cinta terkadang membuat seseorang terlalu mudah memaklumi perilaku yang sebenarnya sudah melewati batas.

Keinginan untuk mempertahankan hubungan juga bisa membuat seseorang memilih diam ketika diperlakukan tidak semestinya. Padahal, membiarkan perilaku buruk terus berulang justru dapat menciptakan pola hubungan yang tidak sehat.

Memiliki batasan bukan berarti tidak mencintai pasangan. Sebaliknya, batas yang jelas membantu kedua pihak memahami bagaimana seharusnya mereka saling memperlakukan.

Baca Juga: Kerap Tak Disadari, 8 Perilaku Ini Bisa Membuat Hubungan Orang Tua Lansia dan Anak Makin Renggang

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa hormat, komunikasi terbuka, kepercayaan, dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan masing-masing.

Karena itu, penting bagi seseorang untuk mengetahui perilaku apa saja yang perlu mendapat perhatian serius dalam hubungan.

Berikut delapan sikap pasangan yang sebaiknya tidak dibiarkan terus terjadi, sebagaimana dirangkum dari kanal YouTube Pria Keren.

1. Sengaja Menggoda Orang Lain untuk Memancing Kecemburuan

Sengaja bersikap genit kepada orang lain hanya untuk melihat reaksi pasangan bukanlah cara sehat untuk mendapatkan perhatian.

Perilaku semacam ini dapat menciptakan rasa tidak aman dan mengubah hubungan menjadi permainan untuk menguji siapa yang lebih peduli.

Pasangan yang ingin membangun hubungan dewasa seharusnya mampu menyampaikan kebutuhan atau rasa tidak nyaman secara langsung, bukan melalui provokasi.

Jika hal tersebut terjadi, Anda dapat menyampaikan keberatan dengan tenang. Tidak perlu membalas dengan kecemburuan atau melakukan hal serupa.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan permainan emosional untuk membuktikan rasa cinta.

2. Menggunakan Tangisan untuk Menghindari Kesalahan

Menangis ketika sedang menghadapi masalah tentu merupakan respons emosional yang wajar. Namun, situasinya berbeda apabila tangisan terus digunakan untuk mengalihkan pembicaraan atau menghindari tanggung jawab.

Misalnya, ketika pasangan melakukan kesalahan, tetapi pembahasan justru berakhir dengan Anda merasa bersalah karena ia menangis.

Dalam situasi seperti ini, empati tetap diperlukan. Namun, persoalan yang sedang dibicarakan juga harus tetap diselesaikan.

Kemampuan membedakan antara kebutuhan untuk mendapatkan dukungan emosional dan upaya menghindari tanggung jawab sangat penting dalam sebuah hubungan.

Dengan demikian, Anda tetap bisa menunjukkan kepedulian tanpa mengabaikan persoalan yang sebenarnya.

3. Merendahkan Anda di Depan Orang Lain

Humor dalam hubungan memang bisa membuat suasana lebih santai. Namun, candaan berubah menjadi masalah ketika salah satu pihak dijadikan bahan penghinaan di depan orang lain.

Ucapan yang merendahkan kemudian ditutup dengan kalimat, "Kan cuma bercanda," tidak otomatis membuat perilaku tersebut menjadi wajar.

Jika sebuah candaan membuat Anda malu atau kehilangan kepercayaan diri, sampaikan ketidaknyamanan tersebut secara terbuka.

Pasangan yang menghargai Anda seharusnya mampu memahami batas humor dan tidak sengaja mempermalukan Anda demi mendapatkan perhatian dari orang lain.

Martabat masing-masing pihak tetap perlu dijaga, baik ketika sedang berdua maupun berada di tengah lingkungan sosial.

4. Menjadikan Cinta sebagai Alat untuk Mengontrol

Kalimat seperti "Kalau benar-benar sayang, kamu pasti mau melakukannya" dapat menjadi bentuk tekanan emosional apabila digunakan untuk memaksa pasangan.

Kasih sayang seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kebebasan untuk menentukan pilihan.

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak boleh memiliki pandangan berbeda dan tetap dapat berdiskusi tanpa menggunakan rasa takut kehilangan sebagai alat untuk mendapatkan keinginan.

Anda berhak mengatakan tidak terhadap sesuatu yang bertentangan dengan nilai, batasan, atau kepentingan pribadi.

Cinta seharusnya menjadi ruang untuk saling mendukung, bukan alasan untuk mengendalikan kehidupan pasangan.

5. Meremehkan Cita-Cita dan Tujuan Hidup

Pasangan ideal tidak harus selalu menyetujui setiap keputusan Anda. Namun, terus-menerus meremehkan impian dan usaha yang sedang Anda bangun dapat mengikis kepercayaan diri.

Ucapan seperti mempertanyakan kemampuan Anda, mengecilkan pekerjaan, atau menganggap tujuan hidup Anda tidak penting patut diperhatikan apabila dilakukan berulang kali.

Perbedaan pendapat dapat dibicarakan tanpa harus merendahkan.

Jika Anda memiliki tujuan yang jelas dan telah mempertimbangkannya dengan matang, jangan mudah meninggalkannya hanya karena komentar negatif.

Pasangan seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran sekaligus memberikan ruang bagi masing-masing pihak untuk berkembang.

6. Mengancam Putus Setiap Kali Keinginannya Ditolak

Ancaman untuk mengakhiri hubungan setiap kali terjadi perbedaan pendapat dapat menciptakan tekanan emosional.

Lama-kelamaan, seseorang mungkin memilih menuruti semua keinginan pasangan hanya karena takut hubungan berakhir.

Pola seperti ini membuat komunikasi tidak lagi berlangsung secara setara. Setiap konflik berubah menjadi ancaman, bukan kesempatan untuk mencari solusi.

Dalam hubungan yang matang, perbedaan seharusnya dibicarakan dan diselesaikan melalui kompromi yang sehat.

Jika ancaman putus terus digunakan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu, penting untuk mengevaluasi kembali pola hubungan tersebut.

7. Sengaja Menarik Kasih Sayang sebagai Bentuk Hukuman

Menjadi lebih tenang setelah bertengkar merupakan hal yang wajar. Setiap orang terkadang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Namun, sengaja memberikan perlakuan dingin, mengabaikan pasangan, atau menarik kasih sayang agar pihak lain merasa bersalah merupakan persoalan berbeda.

Jika membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, komunikasikan hal tersebut dengan jelas. Contohnya, Anda dapat mengatakan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan setelah emosi sudah lebih stabil.

Dengan komunikasi seperti ini, jeda tidak berubah menjadi hukuman emosional.

Kasih sayang seharusnya tidak dijadikan alat untuk mengendalikan perilaku pasangan.

8. Terus-Menerus Meremehkan Harga Diri Anda

Perilaku yang membuat seseorang merasa tidak berharga perlu mendapatkan perhatian, terutama jika terjadi secara berulang.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari komentar yang merendahkan, membandingkan dengan orang lain, mengabaikan pendapat, hingga mempermalukan pasangan.

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak tetap memiliki hak untuk dihormati.

Jika Anda sudah menyampaikan batasan tetapi perilaku tersebut tetap dilakukan, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus diterima demi mempertahankan hubungan.

Menjaga harga diri bukan berarti bersikap egois. Justru, kemampuan menetapkan batas membantu memastikan bahwa hubungan dibangun atas dasar penghormatan dan kesetaraan.

Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak mengalah. Hubungan yang matang adalah hubungan ketika kedua pihak mampu menghormati batas, bertanggung jawab atas kesalahan, dan memberikan ruang bagi pasangannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Jika sebuah perilaku terus berulang setelah dibicarakan dan tidak ada kemauan untuk berubah, evaluasi terhadap keberlanjutan hubungan menjadi langkah yang wajar.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho