← Beranda
Kerap Tak Disadari, 8 Perilaku Ini Bisa Membuat Hubungan Orang Tua Lansia dan Anak Makin Renggang
Mohammad Maulana IqbalSenin, 10 Agustus 2026 | 01.10 WIB
Perilaku yang ciptakan jarak antara orang tua manula dan anak dewasa kata Psikologi

JawaPos.com – Hubungan antara orang tua yang memasuki usia lanjut dan anak yang telah dewasa dapat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

Perubahan kondisi fisik, pergeseran tanggung jawab, hingga perbedaan cara pandang antargenerasi dapat memengaruhi pola komunikasi di dalam keluarga.

Tidak jarang, kerenggangan justru muncul dari kebiasaan yang terlihat sederhana. Sikap yang dilakukan berulang kali tanpa disadari dapat membuat salah satu pihak merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau semakin sulit membuka diri.

Dalam perspektif psikologi, kedekatan orang tua dan anak dewasa sangat dipengaruhi oleh komunikasi, rasa saling menghormati, empati, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan peran.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Berikut 9 Perilaku yang Bikin Menjauhkan Teman dan Keluarga

Dilansir dari geediting.com, berikut delapan perilaku yang dapat menciptakan jarak antara orang tua lanjut usia dan anak dewasa.

1. Membiarkan persoalan lama tanpa penyelesaian

Perselisihan yang terjadi bertahun-tahun lalu tidak selalu hilang begitu saja. Jika tidak pernah dibicarakan atau diselesaikan, pengalaman tersebut dapat meninggalkan luka emosional yang memengaruhi hubungan hingga sekarang.

Akibatnya, percakapan sederhana pun terkadang terasa canggung karena masih ada masalah yang belum benar-benar selesai.

Kemarahan, kekecewaan, atau rasa tidak dipahami dari masa lalu dapat muncul kembali ketika terjadi persoalan baru.

Karena itu, mengakui keberadaan konflik lama dan membicarakannya dengan cara yang sehat dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan.

2. Hanya membicarakan hal-hal permukaan

Komunikasi yang sering terjadi bukan berarti hubungan otomatis dekat.

Orang tua dan anak mungkin masih rutin berbicara, tetapi pembahasannya hanya berkisar pada makanan, kesehatan, pekerjaan, atau kegiatan sehari-hari.

Jika tidak pernah ada ruang untuk membicarakan perasaan, kekhawatiran, harapan, maupun persoalan pribadi, kedekatan emosional bisa perlahan berkurang.

Percakapan yang lebih terbuka dapat membantu kedua pihak memahami kondisi masing-masing dan membangun kembali rasa percaya.

3. Sulit menerima perubahan peran

Ketika orang tua semakin tua, anak dewasa mungkin mulai lebih banyak membantu dalam berbagai kebutuhan.

Situasi tersebut dapat mengubah pola hubungan yang sebelumnya terbentuk selama puluhan tahun. Orang tua yang dahulu menjadi pihak yang merawat dan mengambil keputusan kini mungkin membutuhkan bantuan dari anak.

Perubahan tersebut tidak selalu mudah diterima.

Orang tua dapat merasa kehilangan sebagian kemandirian, sementara anak merasa terbebani oleh tanggung jawab baru.

Jika perubahan peran tidak dibicarakan dengan baik, bantuan yang sebenarnya dimaksudkan sebagai bentuk kasih sayang justru dapat menimbulkan konflik.

4. Terlalu banyak menuntut dan membandingkan

Perbandingan dalam keluarga dapat menjadi sumber luka emosional.

Orang tua mungkin membandingkan pekerjaan, penghasilan, pasangan, atau pencapaian anak dengan orang lain. Sebaliknya, anak juga dapat memiliki standar tertentu terhadap orang tuanya.

Masalah muncul ketika harapan tersebut terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi nyata.

Alih-alih merasa didukung, seseorang justru dapat merasa terus-menerus dinilai dan tidak pernah cukup baik.

Memahami bahwa setiap orang mempunyai perjalanan hidup berbeda dapat membantu mengurangi tekanan dari ekspektasi yang berlebihan.

5. Menghindari pembicaraan mengenai penuaan dan kematian

Penuaan dan kematian merupakan bagian kehidupan yang tidak mudah dibicarakan.

Orang tua mungkin merasa takut membicarakan kondisi kesehatan atau masa depan, sementara anak juga bisa merasa tidak nyaman menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya semakin menua.

Akibatnya, topik penting justru dihindari.

Padahal, percakapan mengenai masa depan, kebutuhan orang tua, kenangan, maupun keinginan mereka dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan yang lebih bermakna.

Membicarakan hal tersebut secara perlahan dan penuh empati dapat membuat kedua pihak merasa lebih siap menghadapi perubahan.

6. Mengabaikan hak orang tua untuk tetap mandiri

Memberikan bantuan kepada orang tua bukan berarti mengambil alih seluruh keputusan mereka.

Anak terkadang terlalu fokus melindungi orang tua hingga tanpa sadar tidak lagi meminta pendapat atau mempertimbangkan keinginan mereka.

Misalnya, membuat keputusan penting tanpa berdiskusi atau menganggap orang tua sudah tidak mampu menentukan pilihan sendiri.

Perilaku semacam ini dapat membuat orang tua merasa kehilangan kendali atas kehidupannya.

Selama kondisi memungkinkan, memberikan ruang bagi orang tua untuk menentukan pilihan sendiri merupakan bentuk penghormatan terhadap pengalaman dan kemandirian mereka.

7. Kurang memahami kondisi emosional orang tua

Memasuki usia lanjut dapat membawa berbagai perubahan. Selain persoalan kesehatan, orang tua mungkin menghadapi kesepian, kehilangan teman sebaya, perubahan aktivitas, atau kekhawatiran mengenai masa depan.

Jika anak hanya melihat persoalan dari sudut pandangnya sendiri, kebutuhan emosional orang tua bisa terabaikan.

Empati diperlukan agar anak dapat memahami bahwa perubahan perilaku tertentu mungkin berkaitan dengan kondisi yang sedang dihadapi orang tua.

Mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi dapat menjadi cara sederhana untuk membuat orang tua merasa dihargai dan ditemani.

8. Hubungan emosional terasa tidak seimbang

Hubungan keluarga membutuhkan timbal balik. Kedua pihak perlu memiliki kesempatan untuk berbicara, didengarkan, dan merespons perasaan satu sama lain.

Jika hanya satu pihak yang terus berusaha memahami sementara pihak lainnya tidak memberikan respons yang sama, hubungan dapat terasa melelahkan.

Pola komunikasi seperti ini lama-kelamaan dapat membuat salah satu pihak memilih menjauh karena merasa tidak mendapatkan ruang yang cukup.

Membangun kembali keseimbangan emosional membutuhkan kemauan dari orang tua maupun anak untuk saling mendengarkan dan mencari cara berkomunikasi yang lebih sehat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho