← Beranda
Jika Anda Ingin Mudah Bergaul dan Diterima oleh Siapapun, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 1 Agustus 2026 | 22.36 WIB
seseorang yang mudah bergaul./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Menjadi pribadi yang mudah bergaul bukan berarti harus menjadi orang yang paling lucu, paling pintar, atau paling banyak berbicara.

 Dalam ilmu psikologi, orang-orang yang disukai umumnya memiliki kemampuan membangun hubungan yang hangat, membuat orang lain merasa nyaman, dan menunjukkan ketulusan dalam berinteraksi.

Faktanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan, kesehatan mental, bahkan kesuksesan dalam karier. Kabar baiknya, kemampuan bersosialisasi bukan hanya bakat alami, tetapi juga keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih.

Jika Anda ingin lebih mudah diterima di lingkungan baru, memperluas pertemanan, atau membangun hubungan yang lebih baik dengan siapa pun. 

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (1/8), terdapat tujuh perilaku yang direkomendasikan oleh psikologi.

1. Jadilah Pendengar yang Benar-Benar Hadir

Kesalahan yang sering dilakukan banyak orang saat berbincang adalah terlalu sibuk memikirkan apa yang akan mereka katakan berikutnya. Akibatnya, mereka hanya mendengar sekilas tanpa benar-benar memahami lawan bicara.

Dalam psikologi komunikasi, mendengarkan secara aktif atau active listening merupakan salah satu keterampilan sosial yang paling penting. Ketika seseorang merasa didengar, ia akan merasa dihargai dan lebih nyaman berada di dekat Anda.

Cara melatihnya antara lain:

Tatap lawan bicara sewajarnya.
Hindari memotong pembicaraan.
Berikan respons seperti mengangguk atau mengulang inti pembicaraan.
Ajukan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikan.

Orang tidak selalu mengingat apa yang Anda katakan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana Anda membuat mereka merasa.

2. Tunjukkan Empati, Bukan Sekadar Simpati

Empati adalah kemampuan memahami perasaan orang lain dari sudut pandang mereka. Berbeda dengan simpati yang hanya merasa kasihan, empati membuat seseorang merasa benar-benar dipahami.

Misalnya, ketika teman bercerita tentang kegagalannya, daripada langsung berkata, "Sudahlah, jangan dipikirkan," lebih baik katakan, "Pasti berat ya menghadapi situasi seperti itu."

Respons sederhana seperti ini membuat hubungan terasa lebih hangat karena menunjukkan bahwa Anda memahami emosi yang sedang dirasakan orang lain.

Dalam psikologi sosial, empati terbukti mampu meningkatkan kepercayaan, memperkuat hubungan interpersonal, dan mengurangi konflik.

3. Tersenyum dan Gunakan Bahasa Tubuh yang Terbuka

Komunikasi tidak hanya berasal dari kata-kata. Bahasa tubuh memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesan pertama.

Senyuman yang tulus, kontak mata yang wajar, posisi tubuh yang terbuka, serta gestur yang santai membuat Anda terlihat lebih ramah dan mudah didekati.

Sebaliknya, menyilangkan tangan, menghindari kontak mata, atau memasang wajah datar sering kali membuat orang menganggap Anda tidak tertarik untuk berinteraksi, meskipun sebenarnya tidak demikian.

Bahasa tubuh positif membantu menciptakan rasa aman sehingga orang lain lebih nyaman mengobrol dengan Anda.

4. Jangan Berusaha Menjadi Sempurna

Banyak orang berpikir mereka harus selalu terlihat hebat agar disukai. Padahal, psikologi justru menemukan bahwa orang yang sesekali menunjukkan sisi manusianya sering kali terasa lebih dekat dan mudah diterima.

Mengakui kesalahan kecil, mampu menertawakan diri sendiri, atau bersikap apa adanya membuat Anda terlihat lebih autentik.

Tentu saja, bukan berarti menunjukkan semua kelemahan tanpa batas. Intinya adalah tidak berpura-pura menjadi sosok yang sempurna.

Keaslian adalah salah satu fondasi hubungan yang sehat dan bertahan lama.

5. Hindari Terlalu Banyak Membicarakan Diri Sendiri

Semua orang senang didengarkan. Namun, jika percakapan hanya berisi cerita tentang diri Anda, lawan bicara bisa merasa diabaikan.

Psikologi menyarankan keseimbangan dalam percakapan. Ceritakan pengalaman Anda seperlunya, tetapi berikan ruang bagi orang lain untuk berbagi cerita mereka.

Cobalah mengajukan pertanyaan seperti:

"Bagaimana pengalamanmu?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Apa yang membuatmu tertarik pada hal itu?"

Pertanyaan sederhana dapat membuat percakapan mengalir lebih alami dan mempererat hubungan.

6. Konsisten Menunjukkan Sikap Ramah

Kesan positif tidak dibangun hanya dalam satu pertemuan. Orang cenderung mempercayai individu yang perilakunya konsisten.

Sapaan sederhana, mengingat nama seseorang, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika salah, dan menghargai waktu orang lain merupakan kebiasaan kecil yang memberikan dampak besar.

Dalam psikologi, konsistensi menciptakan rasa dapat dipercaya (trustworthiness), yaitu salah satu faktor utama yang membuat seseorang diterima dalam kelompok sosial.

Orang mungkin lupa percakapan yang panjang, tetapi mereka akan mengingat bagaimana Anda memperlakukan mereka dari waktu ke waktu.

7. Sebarkan Energi Positif Tanpa Berlebihan

Energi positif bukan berarti selalu ceria atau menutupi semua emosi negatif. Yang dimaksud adalah menghadirkan suasana yang nyaman ketika bersama orang lain.

Hindari terlalu sering mengeluh, bergosip, atau menghakimi. Sebaliknya, biasakan memberikan apresiasi, menghargai pencapaian orang lain, dan menjaga percakapan tetap membangun.

Psikologi menunjukkan bahwa emosi dapat "menular" melalui interaksi sosial. Orang cenderung ingin berada di dekat mereka yang membuat suasana terasa lebih tenang, optimis, dan menyenangkan.

Tidak Semua Orang Harus Menyukai Anda

Perlu diingat, tujuan bersosialisasi bukanlah membuat semua orang menyukai Anda. Itu hampir mustahil.

Yang lebih penting adalah menjadi pribadi yang menghargai orang lain, mampu membangun komunikasi yang sehat, dan tetap menjadi diri sendiri.

Ketika Anda menunjukkan empati, mendengarkan dengan tulus, menjaga bahasa tubuh yang ramah, bersikap autentik, memberi ruang kepada orang lain, konsisten dalam kebaikan, dan menyebarkan energi positif, peluang untuk diterima dalam berbagai lingkungan akan meningkat secara alami.

Pada akhirnya, orang tidak mencari sosok yang sempurna. Mereka lebih menghargai seseorang yang membuat mereka merasa dihormati, didengarkan, dan diterima. Itulah inti dari hubungan sosial yang sehat menurut psikologi.

EDITOR: Hanny Suwindari