JawaPos.com – Pria narsistik yang tidak memiliki empati akan melakukan hampir apa saja untuk selalu keluar sebagai pemenang dalam setiap situasi.
Psikologi mengenal taktik manipulatif yang disebut DARVO yaitu menyangkal, menyerang, dan berbalik menjadi korban saat dikonfrontasi.
Pola manipulasi ini sangat berbahaya karena membuat korban mempertanyakan diri sendiri alih-alih mempertanyakan perilaku pelaku.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (18/7), berikut lima perilaku yang paling sering dilakukan pria tanpa empati dalam kehidupan sehari-hari yang perlu segera dikenali.
1. Sering berbohong tanpa alasan yang jelas
Kebohongan dari pria jenis ini tidak selalu besar dan dramatis, melainkan sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang tampak sepele.
Mereka berbohong bahkan dalam situasi di mana kejujuran justru jauh lebih mudah dan tidak merugikan siapapun.
Kebohongan tersebut bisa ditujukan kepada pasangan, anak, atau orang-orang di sekitarnya untuk menjaga citra diri tetap baik.
Mereka bisa membesar-besarkan kebenaran atau memutarbalikkan fakta demi terlihat lebih baik di mata orang lain.
Karena pasangan dan anak-anak dianggap sebagai cerminan dirinya, membuat mereka terlihat bagus berarti dirinya juga terlihat lebih baik.
Pola kebohongan ini terkait erat dengan sifat grandiosity yang mendorong seseorang untuk terus mempertahankan citra superiornya.
Seiring berjalannya waktu, kebohongan kecil yang terus-menerus ini akan menciptakan pola yang merusak kepercayaan secara bertahap.
2. Sangat terobsesi dengan penampilan dan citra diri
Bagi pria dengan narsisme tinggi dan empati rendah, cara ia terlihat di mata orang lain adalah prioritas yang sangat besar.
Ia bisa menghabiskan lebih banyak uang untuk penampilan pribadinya dibanding orang-orang di sekitarnya tanpa rasa bersalah.
Ia akan selalu menemukan alasan yang tampak logis untuk membenarkan pengeluaran besar demi penampilan tersebut.
Anak-anaknya pun dilihat sebagai cerminan dirinya sehingga prestasi dan penampilan mereka menjadi obsesi yang sangat serius.
Di depan teman-teman dan rekan kerja, ia bisa berpura-pura bahwa hubungan di rumah berjalan dengan sangat setara dan baik.
Namun di balik tampilan yang sempurna itu tersimpan ketidakseimbangan kekuasaan yang terasa jelas oleh pasangannya.
Semua itu bukan tentang kepedulian nyata melainkan tentang menjaga agar citra publiknya tetap terlihat sempurna di mata semua orang.
3. Selalu menuntut segalanya berjalan sesuai kemauannya
Meski pura-pura meminta pendapat orang lain, pada kenyataannya ia selalu menginginkan keputusan akhir berada di tangannya sendiri.
Dari hal kecil seperti jam tidur anak hingga pilihan restoran, semua harus mengikuti preferensi dan keinginannya.
Ketika pasangan menyuarakan keinginan yang berbeda, ia bisa tiba-tiba marah sehingga pasangan akhirnya memilih diam dan mengalah.
Ia sangat mahir mendapatkan apa yang diinginkan dari berbagai pihak karena orang-orang merasa lebih mudah menyerah daripada melawan.
Kemampuannya memaksa tanpa terlihat memaksa membuat banyak orang di sekitarnya tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan.
Pola ini bukan sekadar keras kepala biasa melainkan cerminan dari keyakinan mendalam bahwa dirinya selalu lebih tahu dari orang lain.
Pasangan yang terus-menerus mengalah pada akhirnya akan kehilangan rasa percaya diri dan suaranya dalam hubungan tersebut.
4. Memanipulasi perasaan pasangan secara halus
Ketika memberikan hadiah atau melakukan sesuatu yang baik, ia tidak pernah merasa pasangannya cukup bersyukur atau cukup memujinya.
Pasangan mulai merasa bersalah karena rasa terima kasih yang diberikan tidak pernah dianggap cukup oleh dirinya.
Perasaan tidak cukup ini secara perlahan membuat pasangan mempertanyakan apakah ada yang salah dengan dirinya sendiri.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia sedang memanfaatkan kebaikan kecil sebagai alat untuk mengendalikan emosi pasangannya.
Ia sudah menetapkan bahwa pasangannya adalah orang yang spesial dan sempurna untuknya, sehingga pasangan merasa tertekan untuk memenuhi standar itu.
Saat standar tersebut tidak terpenuhi menurut penilaiannya, ia menggunakan rasa bersalah sebagai senjata yang sangat efektif.
Kesadaran bahwa ini adalah bentuk manipulasi emosional, bukan kekurangan diri pasangan, adalah kunci untuk membebaskan diri dari jebakan ini.
5. Membalik situasi sehingga diri sendiri selalu menjadi korban
Pola DARVO yang paling berbahaya adalah kemampuan membalik konflik sehingga orang yang mengajukan pertanyaan justru menjadi pihak yang bersalah.
Ketika dikonfrontasi dengan perilaku buruknya, ia langsung menyangkal, menyerang balik, dan menempatkan dirinya sebagai korban yang dirugikan.
Pola ini penuh dengan pertanyaan balik yang mengalihkan perhatian dari masalah inti ke kesalahan-kesalahan kecil pihak lain.
Bahkan umpan balik sekecil apapun bisa memicu siklus DARVO yang membuat pasangan merasa tidak berhak memiliki pendapat.
Persamaan yang dibuat antara kesalahan besar dan kecil adalah logika yang cacat namun sangat sulit dilawan dalam situasi emosional.
Pasangan yang menghadapi pola ini sering kali akhirnya menyerah dan berhenti mengungkapkan perasaan karena merasa tidak ada gunanya.
Mengenali pola ini lebih awal adalah langkah paling penting untuk melindungi diri dari hubungan yang terus menguras secara emosional.