← Beranda
Orang yang Egois tetapi Tidak Menyadarinya Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 9 Juli 2026 | 20.36 WIB
seseorang yang tidak menyadari dirinya egois./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Egois sering kali diartikan sebagai sifat yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memedulikan kebutuhan orang lain. Namun, kenyataannya tidak semua orang yang bersikap egois menyadari bahwa perilakunya berdampak negatif terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam psikologi, perilaku egois tidak selalu muncul dalam bentuk yang ekstrem. Sering kali, sifat ini muncul secara halus melalui kebiasaan sehari-hari yang tampak wajar. Bahkan, seseorang bisa saja menganggap dirinya sebagai pribadi yang baik dan peduli, padahal tindakannya justru membuat orang lain merasa diabaikan atau tidak dihargai.

Kurangnya kesadaran diri (self-awareness) menjadi salah satu alasan utama mengapa seseorang tidak menyadari kecenderungan egoisnya. Ketika seseorang hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, ia akan kesulitan memahami perasaan maupun kebutuhan orang lain.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (8/7), terdapat delapan perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang egois tetapi tidak menyadarinya, berdasarkan berbagai konsep dalam psikologi.

1. Selalu Mengarahkan Pembicaraan kepada Dirinya Sendiri

Pernahkah Anda menceritakan sebuah pengalaman, tetapi lawan bicara justru langsung mengalihkan topik menjadi tentang dirinya?

Misalnya, ketika Anda bercerita tentang tantangan di tempat kerja, ia langsung membandingkannya dengan pengalamannya sendiri tanpa benar-benar mendengarkan cerita Anda hingga selesai.

Dalam psikologi komunikasi, perilaku ini menunjukkan rendahnya kemampuan mendengarkan secara aktif (active listening). Orang tersebut bukan selalu berniat mengabaikan orang lain, tetapi tanpa sadar merasa bahwa pengalamannya lebih penting atau lebih menarik.

Akibatnya, orang-orang di sekitarnya merasa tidak didengar dan enggan berbagi cerita di kemudian hari.

2. Sulit Mengakui Kesalahan

Semua orang pernah melakukan kesalahan. Namun, orang yang memiliki kecenderungan egois sering kali lebih memilih mencari alasan daripada mengakui kekeliruannya.

Ketika terjadi masalah, mereka mungkin menyalahkan situasi, rekan kerja, pasangan, atau bahkan keadaan yang berada di luar kendali.

Secara psikologis, perilaku ini sering berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Mengakui kesalahan dianggap sebagai ancaman terhadap citra diri, sehingga mereka lebih nyaman mempertahankan keyakinan bahwa dirinya selalu benar.

Padahal, kemampuan mengakui kesalahan merupakan salah satu tanda kedewasaan emosional.

3. Kurang Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain.

Seseorang yang egois tanpa sadar sering kali gagal membaca sinyal emosional di sekitarnya. Ketika temannya sedang sedih, ia mungkin memberikan respons yang terkesan dingin atau bahkan menganggap masalah tersebut tidak penting.

Bukan berarti mereka tidak memiliki empati sama sekali. Namun, fokus yang terlalu besar pada dirinya sendiri membuat perhatian terhadap kondisi emosional orang lain menjadi berkurang.

Dalam jangka panjang, perilaku ini dapat merusak hubungan sosial karena orang lain merasa tidak mendapatkan dukungan emosional.

4. Mengharapkan Perlakuan Khusus

Orang yang tidak menyadari sifat egoisnya sering merasa pantas mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan orang lain.

Misalnya, mereka berharap orang lain selalu memahami kesibukannya, tetapi tidak memberikan pengertian yang sama ketika orang lain memiliki keterbatasan.

Mereka juga cenderung berharap mendapatkan prioritas, perhatian lebih, atau toleransi yang lebih besar tanpa mempertimbangkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan tantangan masing-masing.

Psikologi menjelaskan bahwa pola pikir seperti ini dapat muncul akibat bias terhadap diri sendiri (self-serving bias), yaitu kecenderungan melihat kepentingan pribadi sebagai sesuatu yang lebih penting.

5. Jarang Memberikan Apresiasi

Mengucapkan terima kasih atau memberikan penghargaan atas usaha orang lain adalah bentuk penghormatan yang sederhana.

Namun, orang yang egois sering menganggap bantuan orang lain sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya mereka terima.

Akibatnya, mereka jarang memberikan apresiasi, baik kepada pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa apresiasi merupakan salah satu faktor penting dalam membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.

6. Sulit Menerima Kritik

Tidak ada orang yang senang dikritik. Namun, individu yang memiliki kesadaran diri tinggi biasanya mampu memisahkan kritik terhadap perilaku dengan kritik terhadap harga dirinya.

Sebaliknya, orang yang egois cenderung langsung merasa tersinggung ketika menerima masukan.

Mereka mungkin membela diri, menyerang balik, atau bahkan memutus hubungan dengan orang yang memberikan kritik.

Dalam psikologi, respons defensif seperti ini sering muncul karena seseorang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk mempertahankan citra positif tentang dirinya.

7. Merasa Pendapatnya Paling Benar

Diskusi yang sehat membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang.

Namun, orang yang egois sering kali sulit menerima bahwa orang lain juga memiliki pengalaman dan pengetahuan yang valid.

Mereka lebih banyak berbicara daripada mendengarkan, memotong pembicaraan, dan berusaha memenangkan perdebatan daripada mencari solusi bersama.

Perilaku ini dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai sehingga komunikasi menjadi tidak efektif.

8. Hubungan Sosialnya Sering Bermasalah, tetapi Selalu Menyalahkan Orang Lain

Salah satu tanda yang paling jelas adalah munculnya pola konflik yang berulang.

Mereka mungkin sering kehilangan teman, mengalami masalah dengan pasangan, atau berganti-ganti lingkungan pertemanan. Namun, setiap kali konflik terjadi, penyebabnya selalu dianggap berasal dari orang lain.

Jarang sekali mereka bertanya, "Apakah ada sesuatu dari sikap saya yang perlu diperbaiki?"

Dalam psikologi, refleksi diri merupakan bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tanpa kemampuan mengevaluasi diri, seseorang akan terus mengulangi pola perilaku yang sama.

Mengapa Seseorang Bisa Tidak Menyadari Sifat Egoisnya?

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi munculnya perilaku egois tanpa disadari, di antaranya:

Kurangnya kemampuan mengenali emosi dan perilaku diri sendiri.
Pola asuh yang terlalu memanjakan atau justru terlalu menuntut.
Kebiasaan selalu menjadi pusat perhatian sejak kecil.
Lingkungan yang memperkuat perilaku mementingkan diri sendiri.
Rendahnya kemampuan berempati terhadap pengalaman orang lain.

Perlu dipahami bahwa faktor-faktor tersebut bukanlah pembenaran, melainkan penjelasan mengenai bagaimana pola perilaku dapat terbentuk.

Apakah Perilaku Egois Bisa Diubah?

Kabar baiknya, psikologi menunjukkan bahwa kepribadian dan kebiasaan dapat berkembang seiring waktu. Perubahan dimulai dari kesediaan untuk mengenali kekurangan diri sendiri.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Melatih kemampuan mendengarkan tanpa terburu-buru memberi respons.
Belajar menerima kritik sebagai kesempatan untuk berkembang.
Mencoba melihat suatu masalah dari sudut pandang orang lain.
Membiasakan mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi.
Melakukan refleksi diri secara rutin terhadap perilaku sehari-hari.

Semakin tinggi kesadaran diri seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Penutup

Menjadi egois bukan berarti seseorang adalah pribadi yang buruk. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut muncul karena kurangnya kesadaran terhadap dampak tindakan sendiri terhadap orang lain.

Delapan perilaku di atas bukanlah alat untuk menghakimi orang lain, melainkan bahan refleksi bagi siapa saja. Jika Anda menemukan beberapa ciri tersebut pada diri sendiri, tidak perlu merasa malu. Kesadaran merupakan langkah pertama menuju perubahan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat dibangun bukan hanya melalui kemampuan berbicara atau menunjukkan kepedulian, tetapi juga melalui kesediaan untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai perspektif orang lain. Semakin kita mampu menyeimbangkan kebutuhan diri sendiri dengan kebutuhan orang lain, semakin baik pula kualitas hubungan yang kita bangun dalam kehidupan sehari-hari.

EDITOR: Hanny Suwindari