JawaPos.com - Pola asuh yang diterima seseorang sejak masa kecil dapat memengaruhi cara mereka bersikap ketika beranjak dewasa. Salah satunya terlihat dari kebiasaan sehari-hari dan kemampuan dalam menghadapi tanggung jawab pribadi.
Sebagian orang dewasa mungkin masih mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal mandiri, seperti mengurus pekerjaan rumah atau memenuhi kebutuhan sendiri, karena sejak kecil terbiasa mendapatkan banyak bantuan dari orang lain.
Dalam sudut pandang psikologi, beberapa perilaku tertentu dapat menjadi tanda bahwa seseorang tumbuh dengan pola asuh yang terlalu memanjakan. Kebiasaan tersebut terkadang terbawa hingga usia dewasa dan memengaruhi cara mereka menjalani kehidupan.
Dilansir JawaPos.com dari laman The Vessel, berikut sembilan perilaku yang disebut dapat menjadi indikasi seseorang mungkin dibesarkan dengan terlalu banyak kemudahan dan perhatian sejak kecil.
Baca Juga: 7 Perilaku Ini Kerap Dimiliki Orang yang Canggung Bersosialisasi, tetapi Sering Tidak Disadari
1. Rasa berhak itu sangat kuat
Rasa berhak muncul saat seseorang meyakini bahwa mereka berhak memperoleh perlakuan khusus atau pengecualian terhadap aturan.
Mereka adalah orang-orang yang mungkin berkata seperti, "Pasti ada cara untuk membuat pengecualian, kan?" Perasaan "Saya istimewa, jadi aturan tidak berlaku" adalah klasik.
Menurut Psychology Today, rasa berhak yang kronis sebenarnya dapat menghalangi hubungan yang sehat, karena rasa berhak tersebut menciptakan dinamika yang tidak seimbang di mana satu orang selalu mengambil.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah seseorang menuntut keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain? Jika iya, itu merupakan tanda bahaya dari didikan yang manja.
2. Kurangnya empati
Bila seseorang jarang berhenti sejenak untuk mempertimbangkan perasaan orang lain, itu dapat menunjukkan bahwa mereka tidak pernah perlu melakukannya.
Mereka mungkin menyela orang di tengah kalimat atau mengabaikan ketidaknyamanan orang lain dalam situasi tegang.
Seiring berjalannya waktu, kurangnya empati yang konsisten dapat menunjukkan masa kanak-kanak di mana kebutuhan emosional selalu dipenuhi oleh orang lain, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk belajar kasih sayang.
3. Kepuasan instan adalah norma
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang kesulitan menunggu? Mereka menginginkannya sekarang, dan jika mereka tidak mendapatkannya, rasa frustrasi pun menguasai mereka.
Kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan instan ini sering kali bermula dari masa kanak-kanak di mana setiap keinginannya harus segera terpenuhi.
Latihan seperti yoga dan meditasi mengajarkan kita untuk memperlambat dan menyelaraskan diri dengan momen saat ini.
Jika seseorang tidak pernah belajar untuk menunggu, Anda mungkin melihat mereka berpindah dari satu proyek ke proyek lain atau mengharapkan perubahan hidup besar terjadi dalam semalam.
Menurut penelitian tentang pengaturan diri, kemampuan untuk menunda kepuasan merupakan keterampilan hidup penting yang terkait dengan kesejahteraan emosional.
Orang-orang yang tumbuh dalam keadaan manja mungkin tidak memiliki cukup kesempatan untuk melatih kesabaran itu.
4. Kesulitan menangani penolakan
Saat tumbuh dewasa, banyak dari kita sesekali mengalami penolakan dari orang tua atau figur otoritas. Itu adalah bagian dari kehidupan.
Namun, orang yang tidak pernah diberi tahu cara menangani kata 'tidak' sering kali mencapai usia dewasa tanpa memiliki alat apa pun untuk mengatasi penolakan.
Hal ini dapat terwujud dalam bentuk merajuk berlebihan, menyerang, atau menutup diri sepenuhnya saat menghadapi penolakan atau kritik.
Menangani penolakan dengan ketahanan adalah tanda kedewasaan yang besar. Berjuang pada setiap isyarat 'tidak' bisa jadi merupakan tanda bahwa penolakan adalah bahasa yang baru bagi mereka.
5. Akuntabilitas yang minimal
Orang yang sangat dimanja biasanya suka menyalahkan orang lain atas kesalahan pribadi, terus-menerus membuat alasan, sulit mengatakan 'saya salah', serta sering mengalihkan tanggung jawab untuk menghindari konsekuensi.
Ketika seseorang tumbuh sangat manja, mereka mungkin tidak belajar mengakui tindakan mereka. Jika orangtua atau pengasuh menyembunyikan setiap kesalahan, rasa tanggung jawab tidak akan pernah tumbuh.
Sebagai orang dewasa, hal ini dapat menyebabkan mereka menyalahkan kemacetan lalu lintas karena terlambat atau menyalahkan pemilik rumah karena tidak mengganti bola lampu yang rusak, ketimbang mengakui bahwa mereka dapat mengambil inisiatif sendiri.
Mengambil tanggung jawab merupakan keterampilan penting untuk hubungan yang sehat, baik dengan pasangan, rekan kerja, atau teman. Tanpa itu, kepercayaan akan terkikis dengan cepat.
6. Terlalu bergantung pada orang lain
Orang yang terlalu dimanja semasa kecil bisa menjadi bergantung pada orang lain untuk melakukan segala hal bagi mereka.
Mereka mungkin menelepon orang tuanya untuk memecahkan masalah bahkan tugas yang paling sederhana atau terus-menerus bersandar pada pasangannya untuk mengambil keputusan.
Orangtuanya mengerjakan semua tugasnya semasa kecil, sehingga sekarang tugas-tugas tersebut terasa asing baginya. Ketergantungan yang berlebihan sering kali menghilangkan kesempatan kita untuk belajar mandiri.
Ketika seseorang terbiasa merasa semua kebutuhannya terpenuhi, mereka kehilangan kepercayaan diri yang muncul dari penyelesaian masalah sendirian.
7. Kebutuhan terus-menerus untuk dipuji
Beberapa orang mencari pujian dalam hampir setiap percakapan. Mereka mengunggah di media sosial dengan harapan akan mendapat banyak like atau diam-diam membanggakan pencapaian kecil untuk mendapatkan pengakuan.
Jika pujian selalu diberikan pada setiap tugas kecil, mereka mungkin mengharapkan tingkat penegasan yang sama saat menginjak dewasa. Masalahnya kehidupan orang dewasa jarang memberikan tepuk tangan meriah.
Bukan tidak boleh mengakui keberhasilan, tetapi membutuhkan pujian terus-menerus dapat menunjukkan bahwa rasa harga diri seseorang dibangun sepenuhnya atas validasi eksternal.
8. Batasan keuangan yang buruk
Beberapa orang mungkin tidak pernah membuat anggaran karena mereka berasumsi uang akan muncul dengan sendirinya.
Mereka tidak keberatan menambah utang kartu kredit atau meminjam dari teman, karena percaya semuanya akan baik-baik saja.
Sikap ini sering kali dimulai di rumah tangga yang kebutuhan materialnya langsung terpenuhi tanpa ada pembicaraan tentang batasan atau pengorbanan.
Beberapa orang tidak pernah diajarkan tentang nilai uang, jadi membelanjakan uang tanpa pertimbangan terasa biasa.
Mereka mungkin juga berasumsi orang lain akan menanggung biaya mereka. Mungkin sulit untuk mematahkan pola pikir ini.
Namun saat Anda beralih ke gaya hidup yang lebih minimalis, Anda akan sadar bagaimana setiap pembelian memengaruhi keuangan dan ruang mental Anda.
9. Berjuang dengan rasa syukur
Orang-orang yang tumbuh dalam keadaan manja sering kali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus.
Ketika kenyamanan hidup selalu ada, mengakuinya bisa terasa asing. Jika rasa syukur tidak dicontohkan atau dituntut, rasa syukur itu mungkin tidak muncul secara alami.
Anda dapat menumbuhkan rasa syukur itu dengan mengandalkan praktik kesadaran harian.
Berhenti sejenak untuk merenungkan apa yang baik dalam hidup Anda akan mengubah cara Anda memandang kesuksesan, kenyamanan, dan bahkan konflik.
Ketika kita secara aktif menyadari berkat-berkat di sekitar kita, lebih mudah untuk tetap membumi dan lebih hadir dalam hubungan-hubungan kita.