JawaPos.com - Perceraian merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang yang membawa dampak emosional, sosial, dan psikologis yang mendalam.
Ketika perceraian terjadi lebih dari sekali, kondisi ini biasanya menandakan adanya pola berulang dalam cara seseorang membangun dan mempertahankan sebuah hubungan.
Dari sudut pandang psikologi, individu yang mengalami perceraian dua kali atau lebih sering kali membentuk atau menunjukkan ciri kepribadian tertentu. Karakteristik ini biasanya muncul sebagai respons dari pengalaman masa lalu mereka.
Menariknya, banyak dari sifat-sifat ini berkembang tanpa disadari, lalu memengaruhi cara mereka menyikapi cinta, mengatasi konflik, serta membangun kedekatan emosional dengan pasangan.
Dilansir dari Geediting, berikut adalah 7 kepribadian yang mungkin dimiliki oleh seseorang yang telah mengalami perceraian lebih dari sekali menurut psikologi:
1. Perfeksionis dalam Hubungan
Tanpa disadari, mereka mungkin memiliki ekspektasi hubungan yang sangat tinggi dan perfeksionis.
Mereka ingin pasangan selalu sejalan dengan keinginan mereka, bebas dari kesalahan besar, dan selalu bisa membaca kebutuhan emosional tanpa perlu diminta.
Standar ini sering tidak realistis dan menjadi sumber frustrasi ketika pasangan tidak mampu memenuhinya.
Kekecewaan yang berulang atas ketidaksempurnaan pasangan bisa menjadi pemicu utama konflik dan perpisahan.
2. Takut Akan Kedekatan Emosional (Fear of Intimacy)
Mereka bisa tampak terbuka dan hangat di permukaan, tetapi secara tidak sadar membangun tembok emosional ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Trauma masa lalu atau rasa takut akan disakiti kembali membuat mereka menjaga jarak emosional dari pasangan.
Akibatnya, hubungan terasa hampa, dingin, atau tidak berkembang.
Ketakutan akan keterikatan mendalam ini sering kali baru disadari setelah hubungan gagal.
Baca Juga: 9 Pengalaman Masa Kecil Generasi Tua yang Kini Jarang Terjadi Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
3. Pola Menghindar Ketika Terjadi Konflik
Seseorang yang telah bercerai beberapa kali mungkin memiliki kecenderungan untuk menghindari konflik ketimbang menyelesaikannya.
Alih-alih berkomunikasi secara terbuka, mereka memilih diam, mundur, atau bahkan keluar dari hubungan ketika masalah mulai terasa berat.
Psikologi menyebut ini sebagai gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment), di mana individu cenderung merasa tidak nyaman dengan ketergantungan emosional dan lebih memilih jarak.
4. Cenderung Menyalahkan Pasangan
Setelah mengalami perceraian lebih dari sekali, sebagian orang mulai membentuk narasi internal bahwa kegagalan hubungan selalu berasal dari pihak pasangan.
Mereka tidak menyadari bahwa pola perilaku dan respons mereka sendiri juga berkontribusi pada keretakan hubungan.
Ketidakmampuan untuk melakukan refleksi diri mendalam membuat siklus kegagalan berulang.
Ini merupakan mekanisme pertahanan ego agar tidak merasa bersalah atau gagal secara pribadi.
Baca Juga: Jika Anda Makan Sambil Berdiri di Meja Dapur, Anda Mungkin Menunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi
5. Impulsif dalam Memulai Hubungan Baru
Orang yang telah mengalami perceraian lebih dari sekali seringkali memiliki kecenderungan untuk segera masuk ke hubungan baru sebagai pelarian dari rasa sepi atau kegagalan emosional sebelumnya.
Mereka mungkin tidak memberi diri mereka waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka batin atau memahami pola hubungan yang tidak sehat.
Keputusan untuk menikah kembali dibuat dengan cepat dan kurang pertimbangan, sehingga berisiko mengulang kesalahan yang sama.
6. Ketidakstabilan Emosi dalam Hubungan
Pengalaman perceraian berulang bisa meninggalkan luka psikologis yang mendalam dan menyebabkan seseorang mengalami ketidakstabilan emosi, seperti cepat marah, sangat sensitif terhadap kritik, atau mudah merasa tidak dicintai.
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa ketidakstabilan ini menciptakan dinamika yang melelahkan dalam hubungan.
Pasangan bisa merasa berjalan di atas "ranjau emosional", dan akhirnya memilih menjauh untuk menjaga kestabilan mental.
7. Keyakinan Negatif terhadap Lembaga Pernikahan
Setelah beberapa kali bercerai, individu bisa mengembangkan keyakinan bawah sadar bahwa pernikahan adalah sesuatu yang gagal, rapuh, atau tidak layak diperjuangkan.
Mereka menjadi sinis terhadap cinta, dan bahkan jika mereka menjalin hubungan lagi, mereka membawa sikap skeptis dan pesimis.
Keyakinan ini bisa memengaruhi cara mereka berinvestasi secara emosional dalam hubungan baru, sering kali kurang sepenuh hati.
Baca Juga: 9 Keluhan yang Sering Diucapkan Orang Lemah Mental dan Emosional Menurut Psikologi
Penutup: Refleksi sebagai Kunci Pertumbuhan
Bercerai lebih dari satu kali bukanlah indikasi bahwa seseorang tidak layak untuk cinta yang sehat dan langgeng.
Justru, hal itu bisa menjadi titik balik untuk refleksi yang dalam dan jujur.
Psikologi menyarankan pentingnya terapi atau konseling bagi mereka yang mengalami perceraian berulang untuk menggali pola bawah sadar, luka emosional masa lalu, dan kepribadian yang terbentuk sebagai akibat dari trauma relasional.
Mengenali kepribadian yang muncul tanpa disadari adalah langkah pertama menuju pertumbuhan.
Dengan kesadaran diri, seseorang dapat membangun hubungan baru dengan fondasi yang lebih kuat, sehat, dan penuh empati, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pilihan sadar untuk mencintai dan dicintai dengan utuh.
Baca Juga: 10 Hal yang Sebaiknya Jangan Pernah Anda Ceritakan kepada Atasan Anda Menurut Psikologi