← Beranda
Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung Biasanya Punya 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 29 Juni 2026 | 02.49 WIB
seseorang yang berjalan dengan tangan di belakang panggung / foto: Magnific/piyato

JawaPos.com - Cara seseorang berjalan sering kali mencerminkan lebih dari sekadar kebiasaan fisik. Bahasa tubuh telah lama menjadi salah satu aspek yang dipelajari dalam psikologi karena dapat memberikan petunjuk mengenai emosi, tingkat kepercayaan diri, hingga kondisi mental seseorang. Salah satu gaya berjalan yang cukup menarik perhatian adalah berjalan dengan kedua tangan berada di belakang punggung.

Pose ini sering terlihat pada tokoh pemimpin, guru, orang lanjut usia, petugas keamanan, hingga seseorang yang sedang menikmati suasana taman. Namun, apakah posisi tangan di belakang punggung benar-benar memiliki makna psikologis tertentu?

Perlu dipahami sejak awal bahwa psikologi tidak dapat menentukan kepribadian seseorang hanya dari satu gerakan tubuh. Bahasa tubuh harus dilihat bersama konteks situasi, ekspresi wajah, cara berbicara, serta kebiasaan individu. Meski demikian, sejumlah penelitian mengenai komunikasi nonverbal menunjukkan bahwa posisi tangan di belakang punggung memang sering dikaitkan dengan beberapa kecenderungan perilaku tertentu.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat tujuh perilaku yang kerap diasosiasikan dengan orang yang berjalan sambil meletakkan tangan di belakang punggung.

1. Memiliki Rasa Percaya Diri yang Tinggi

Salah satu interpretasi paling umum dari posisi tangan di belakang punggung adalah rasa percaya diri.

Ketika seseorang berjalan tanpa memasukkan tangan ke saku atau menyilangkan tangan di depan tubuh, area dada dan tubuh bagian depan tetap terbuka. Dalam bahasa tubuh, postur terbuka sering dikaitkan dengan rasa aman terhadap lingkungan sekitar.

Orang yang percaya diri biasanya tidak merasa perlu melindungi tubuhnya melalui gerakan defensif. Mereka cenderung berjalan lebih santai, kepala tegak, dan langkah stabil.

Namun demikian, rasa percaya diri ini bukan berarti mereka selalu merasa superior. Bisa saja mereka hanya merasa nyaman dengan situasi yang sedang dihadapi.

2. Mencerminkan Sikap Tenang dan Tidak Terburu-buru

Berjalan dengan tangan di belakang punggung biasanya membuat langkah seseorang menjadi lebih lambat.

Posisi ini membatasi ayunan alami tangan sehingga ritme berjalan menjadi lebih santai. Dari sudut pandang psikologi perilaku, orang yang berjalan dengan tempo lambat sering kali sedang menikmati proses berpikir atau mengamati lingkungan.

Mereka tampak tidak dikejar waktu dan cenderung lebih menikmati momen dibandingkan terburu-buru mencapai tujuan.

Karena itulah gaya berjalan ini sering ditemukan pada orang yang sedang berjalan santai di taman, museum, atau area publik yang tenang.

3. Sedang Berpikir Mendalam

Banyak orang tanpa sadar meletakkan tangan di belakang punggung ketika sedang memikirkan sesuatu yang penting.

Posisi ini mengurangi aktivitas fisik sehingga perhatian dapat lebih terfokus pada proses berpikir. Tidak heran apabila dosen, peneliti, atau pemimpin organisasi terkadang berjalan mondar-mandir dengan tangan di belakang sambil memikirkan solusi atas suatu masalah.

Dalam psikologi kognitif, aktivitas berjalan sendiri diketahui dapat membantu proses berpikir kreatif. Ketika dipadukan dengan postur tubuh yang rileks, seseorang mungkin lebih mudah menyusun ide atau mengevaluasi berbagai kemungkinan.

4. Menunjukkan Pengendalian Diri

Menempatkan kedua tangan di belakang punggung juga bisa menjadi bentuk pengendalian diri.

Alih-alih menggunakan tangan untuk banyak gestur atau memainkan benda tertentu, seseorang secara tidak sadar "mengunci" kedua tangannya agar tetap tenang.

Perilaku ini kadang muncul pada individu yang ingin menjaga sikap profesional atau berusaha mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

Misalnya, seorang atasan yang sedang mengamati pekerjaan bawahannya mungkin memilih berjalan dengan tangan di belakang punggung agar terlihat tenang dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

5. Memiliki Kebiasaan Mengamati Lingkungan

Orang yang berjalan dengan tangan di belakang punggung sering tampak lebih memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Karena kedua tangan tidak digunakan untuk aktivitas lain, perhatian mereka dapat lebih terarah pada lingkungan.

Mereka mungkin mengamati detail bangunan, perilaku orang lain, kondisi jalan, atau pemandangan sekitar.

Hal ini membuat gaya berjalan tersebut sering dikaitkan dengan pribadi yang reflektif, teliti, dan gemar memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain.

6. Ingin Menampilkan Wibawa atau Otoritas

Dalam berbagai budaya, berjalan dengan tangan di belakang punggung sering diasosiasikan dengan figur yang memiliki tanggung jawab atau posisi tertentu.

Guru, kepala sekolah, perwira militer, petugas keamanan, hingga pemimpin organisasi terkadang menggunakan postur ini ketika sedang mengawasi situasi.

Secara nonverbal, posisi tersebut dapat memberikan kesan tenang, terkendali, dan berwibawa.

Meski begitu, kesan otoritatif ini juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, dan cara berinteraksi dengan orang lain.

7. Merasa Nyaman dengan Diri Sendiri

Orang yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri sering kali tidak terlalu memikirkan bagaimana penampilannya dinilai oleh orang lain.

Berjalan dengan tangan di belakang punggung dapat menjadi salah satu bentuk kenyamanan tersebut.

Mereka tampak tidak cemas, tidak gelisah memainkan tangan, dan tidak terus-menerus memeriksa ponsel saat berjalan.

Psikologi menyebut bahwa individu dengan tingkat kenyamanan diri yang baik cenderung memiliki bahasa tubuh yang lebih santai dan konsisten.

Apakah Semua Orang yang Berjalan Seperti Ini Memiliki Sifat Tersebut?

Jawabannya tidak selalu.

Bahasa tubuh bersifat kontekstual. Seseorang bisa saja berjalan dengan tangan di belakang punggung karena:

Sudah menjadi kebiasaan sejak lama.
Sedang menikmati udara segar.
Mengalami cedera atau pegal pada lengan.
Meniru kebiasaan orang lain.
Sedang membawa pikiran tertentu.
Merasa lebih nyaman dengan posisi tersebut.

Karena itu, psikolog umumnya tidak menarik kesimpulan hanya dari satu isyarat nonverbal. Penilaian yang lebih akurat memerlukan kombinasi antara bahasa tubuh, ekspresi wajah, pola komunikasi, serta situasi yang sedang berlangsung.

Kesimpulan

Berjalan dengan tangan di belakang punggung memang sering dikaitkan dengan sejumlah kecenderungan psikologis, seperti rasa percaya diri, ketenangan, kemampuan mengendalikan diri, kecenderungan berpikir mendalam, kebiasaan mengamati lingkungan, kesan berwibawa, dan kenyamanan terhadap diri sendiri.

Namun, penting untuk diingat bahwa bahasa tubuh bukanlah alat untuk "membaca" kepribadian secara pasti. Setiap gerakan memiliki banyak kemungkinan makna yang dipengaruhi oleh konteks, budaya, kondisi fisik, serta kebiasaan individu.

Dengan memahami bahasa tubuh secara lebih kritis, kita dapat memperoleh petunjuk yang lebih baik mengenai cara orang berinteraksi dan mengekspresikan dirinya, tanpa terburu-buru memberikan penilaian terhadap karakter seseorang hanya berdasarkan satu kebiasaan berjalan.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho