JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa seperti sedang "bermain peran" menjadi orang dewasa? Di luar terlihat mampu bekerja, membayar tagihan, mengambil keputusan, bahkan mungkin sudah berkeluarga. Namun di dalam hati, muncul pikiran seperti, "Sebenarnya aku belum benar-benar dewasa. Aku hanya sedang mencoba terlihat tahu apa yang kulakukan."
Jika ya, Anda tidak sendirian.
Banyak orang mengalami perasaan tersebut, dan dalam psikologi fenomena ini cukup umum. Menjadi dewasa ternyata bukan sekadar bertambah usia, memiliki pekerjaan tetap, atau mencapai berbagai pencapaian hidup. Kedewasaan juga berkaitan dengan perkembangan emosional, rasa percaya diri, dan kemampuan menerima bahwa tidak ada orang yang memiliki semua jawaban.
Menariknya, orang-orang yang masih merasa seperti "berpura-pura menjadi orang dewasa" sering kali menunjukkan sejumlah pola perilaku yang serupa. Hal ini bukan berarti mereka gagal menjadi dewasa, melainkan sedang berada dalam proses membangun identitas dan kepercayaan diri.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (26/6), terdapat sepuluh perilaku yang sering muncul menurut berbagai temuan dalam psikologi.
1. Terus-Menerus Merasa Tidak Tahu Apa yang Sedang Dilakukan
Banyak orang dewasa mengira bahwa orang lain memiliki hidup yang sudah sepenuhnya tertata. Akibatnya, ketika mereka merasa bingung atau ragu, mereka menganggap hanya dirinya yang "tidak kompeten."
Padahal kenyataannya, hampir semua orang pernah mengalami ketidakpastian.
Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan impostor syndrome, yaitu kecenderungan merasa tidak pantas atas pencapaian sendiri dan takut suatu saat orang lain akan mengetahui bahwa dirinya sebenarnya "tidak sehebat yang terlihat."
Orang yang mengalami kondisi ini sering berpikir:
"Aku hanya beruntung."
"Mereka pasti akan sadar kalau aku sebenarnya tidak cukup mampu."
"Aku cuma pura-pura tahu."
2. Selalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat kehidupan orang lain tampak sangat teratur.
Ada teman yang membeli rumah.
Ada yang menikah.
Ada yang sukses membangun bisnis.
Ada yang sudah menjadi pemimpin perusahaan.
Sementara dirinya merasa masih kebingungan menentukan langkah berikutnya.
Menurut psikologi sosial, kecenderungan melakukan perbandingan sosial (social comparison) memang merupakan bagian alami dari manusia. Namun jika dilakukan secara berlebihan, hal tersebut justru memperkuat keyakinan bahwa diri sendiri tertinggal dibandingkan orang lain.
Padahal setiap orang memiliki garis waktu kehidupan yang berbeda.
3. Terlalu Sering Mencari Validasi
Sebelum mengambil keputusan, mereka ingin memastikan semua orang setuju.
Mereka merasa tidak nyaman jika harus memilih sendiri.
Mereka sering bertanya:
"Menurutmu ini sudah benar?"
"Kalau aku melakukan ini bagaimana?"
"Kamu yakin pilihanku tepat?"
Kebutuhan terhadap validasi eksternal biasanya muncul ketika seseorang belum sepenuhnya mempercayai penilaiannya sendiri.
Semakin rendah rasa percaya terhadap diri sendiri, semakin besar kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.
4. Takut Membuat Kesalahan
Sebagian orang dewasa menganggap bahwa menjadi dewasa berarti tidak boleh salah.
Padahal justru sebaliknya.
Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan belajar dari kesalahan merupakan salah satu indikator kematangan emosional.
Orang yang masih merasa "berpura-pura menjadi dewasa" sering kali menghindari keputusan besar karena takut jika hasilnya tidak sesuai harapan.
Akibatnya, mereka justru kehilangan banyak kesempatan berkembang.
5. Sulit Mengakui Bahwa Mereka Membutuhkan Bantuan
Mereka ingin terlihat mampu mengatasi semuanya sendiri.
Ketika mengalami masalah, mereka memilih memendam daripada meminta bantuan.
Ada kekhawatiran bahwa meminta bantuan berarti menunjukkan kelemahan.
Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa kemampuan mencari dukungan merupakan bentuk kecerdasan emosional, bukan tanda ketidakmampuan.
Orang dewasa yang sehat memahami bahwa tidak semua beban harus dipikul sendirian.
6. Merasa Semua Orang Lain Lebih Dewasa
Mereka memandang atasan, orang tua, dosen, atau bahkan teman sebaya sebagai sosok yang "sudah benar-benar dewasa."
Namun ketika melihat dirinya sendiri, mereka merasa masih seperti remaja yang kebetulan memiliki pekerjaan.
Fenomena ini sangat umum.
Faktanya, banyak orang yang tampak percaya diri juga diam-diam memiliki keraguan yang sama.
Perbedaannya hanyalah mereka lebih terbiasa menjalankan tanggung jawab meskipun masih merasa tidak yakin.
7. Berusaha Terlihat Selalu Baik-Baik Saja
Mereka berusaha menjaga citra.
Tidak ingin terlihat bingung.
Tidak ingin terlihat lelah.
Tidak ingin terlihat gagal.
Akhirnya mereka mengenakan "topeng" setiap hari.
Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk self-presentation, yaitu usaha mengontrol bagaimana orang lain memandang diri kita.
Meski wajar dalam batas tertentu, jika dilakukan terus-menerus dapat memicu kelelahan emosional karena seseorang merasa harus selalu tampil sempurna.
8. Sulit Mempercayai Pencapaiannya Sendiri
Ketika berhasil mencapai sesuatu, mereka justru berkata:
"Itu hanya kebetulan."
"Semua orang juga bisa."
"Aku sebenarnya tidak terlalu hebat."
Alih-alih menikmati keberhasilan, mereka langsung mengecilkan pencapaiannya.
Padahal mengakui keberhasilan bukan berarti sombong.
Menghargai usaha sendiri merupakan bagian penting dari pembentukan harga diri yang sehat.
9. Terlalu Banyak Berpikir Sebelum Bertindak
Mereka menganalisis segala kemungkinan.
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika salah?
Bagaimana jika orang lain tidak setuju?
Bagaimana jika hasilnya buruk?
Akibatnya, keputusan yang seharusnya sederhana menjadi terasa sangat berat.
Psikologi menyebut pola ini sebagai analysis paralysis, yaitu kondisi ketika terlalu banyak menganalisis hingga akhirnya sulit mengambil tindakan.
Padahal pengalaman nyata sering kali memberikan pembelajaran yang jauh lebih besar dibandingkan perencanaan tanpa akhir.
10. Beranggapan Bahwa Suatu Hari Nanti Mereka Akan "Benar-Benar Menjadi Dewasa"
Banyak orang menunggu momen tertentu.
Mungkin setelah menikah.
Setelah memiliki rumah.
Setelah menjadi manajer.
Setelah memiliki anak.
Setelah usia 40 tahun.
Namun kenyataannya, banyak orang yang telah mencapai semua itu tetap merasa sedang belajar menjadi orang dewasa.
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kedewasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berlangsung sepanjang hidup.
Tidak ada titik di mana seseorang tiba-tiba memiliki semua jawaban.
Yang berubah hanyalah kemampuan menghadapi ketidakpastian dengan lebih tenang.
Mengapa Perasaan Ini Sangat Umum?
Ada beberapa alasan mengapa banyak orang dewasa mengalami perasaan seperti sedang "berpura-pura":
Dunia berubah jauh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat lebih sempurna daripada kenyataannya.
Tuntutan pekerjaan, keuangan, dan hubungan semakin kompleks.
Banyak orang tumbuh tanpa contoh yang jelas mengenai bagaimana menghadapi emosi secara sehat.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa semua orang lain sudah tahu apa yang harus dilakukan, sementara hanya dirinya yang masih kebingungan.
Padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Tanda Kedewasaan yang Sebenarnya
Ironisnya, merasa belum sepenuhnya dewasa justru bisa menjadi tanda adanya kesadaran diri.
Orang yang benar-benar matang secara emosional biasanya tidak mengklaim mengetahui segalanya.
Mereka bersedia belajar.
Mereka mengakui kesalahan.
Mereka menerima bahwa hidup penuh ketidakpastian.
Mereka tetap mengambil keputusan meskipun tidak memiliki kepastian mutlak.
Kedewasaan bukan berarti selalu percaya diri, melainkan mampu tetap melangkah meski sesekali merasa ragu.
Penutup
Merasa seperti sedang "berpura-pura menjadi orang dewasa" bukanlah sesuatu yang memalukan. Perasaan ini dialami oleh banyak orang dari berbagai usia, profesi, bahkan mereka yang tampak sangat sukses dari luar.
Yang membedakan bukanlah apakah seseorang pernah merasa ragu, melainkan bagaimana ia merespons keraguan tersebut. Orang yang terus belajar, berani mengambil tanggung jawab, bersedia meminta bantuan saat diperlukan, dan mampu menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna justru sedang menunjukkan bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.