JawaPos.com - Sejak kecil, banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya memahami atau menerima emosi mereka. Kalimat seperti “jangan baper,” “kamu terlalu sensitif,” atau “itu hal kecil, jangan dibesar-besarkan” mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya bisa bertahan sangat lama.
Dalam psikologi, pengalaman masa kecil—terutama yang berulang—membentuk cara seseorang memahami emosi, merespons hubungan, dan melihat dirinya sendiri. Ketika seorang anak terus-menerus diberi pesan bahwa perasaannya “terlalu berlebihan,” mereka tidak belajar mengelola emosi, melainkan belajar menekan dan meragukan emosi itu sendiri.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (25/3), beberapa dekade kemudian, pola ini sering muncul kembali dalam bentuk perilaku tertentu. Berikut adalah tujuh perilaku yang umum terlihat.
1. Kesulitan Mengenali dan Memahami Emosi Sendiri
Orang yang sejak kecil dianggap “terlalu sensitif” sering kali tumbuh dengan kebingungan emosional. Mereka merasa sesuatu, tetapi tidak tahu persis apa itu.
Hal ini terjadi karena:
Emosi mereka dulu tidak divalidasi
Mereka tidak diajarkan memberi nama pada perasaan
Mereka belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang boleh dipercaya
Akibatnya, saat dewasa mereka mungkin berkata:
“Aku nggak tahu kenapa aku merasa begini”
“Perasaanku campur aduk, tapi aku nggak bisa jelasin”
Ini dikenal dalam psikologi sebagai kesulitan dalam emotional awareness.
2. Cenderung Meremehkan Perasaan Sendiri
Karena terbiasa diberi tahu bahwa perasaan mereka “terlalu berlebihan,” mereka akhirnya menginternalisasi pesan itu.
Saat dewasa, mereka mungkin:
Menganggap masalah mereka tidak penting
Membandingkan diri dengan orang lain (“Orang lain lebih parah”)
Menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaan
Mereka bukan tidak punya emosi—justru sering kali sangat dalam—tetapi mereka merasa tidak berhak untuk merasakannya.
3. Terlalu Peka terhadap Penolakan atau Kritik
Ironisnya, orang yang sering dianggap “terlalu sensitif” justru memang menjadi sangat sensitif—bukan karena lemah, tetapi karena pengalaman.
Ketika emosi sering ditolak:
Otak belajar mengantisipasi penolakan
Kritik kecil terasa seperti serangan besar
Nada bicara orang lain bisa terasa menyakitkan
Ini bukan dramatisasi, melainkan respons yang terbentuk dari pengalaman emosional yang tidak aman.
4. Sulit Mengekspresikan Emosi Secara Sehat
Karena dulu ekspresi emosi sering “dipadamkan,” mereka tidak belajar cara mengekspresikan perasaan secara sehat.
Akibatnya, mereka cenderung:
Memendam emosi terlalu lama
Meledak tiba-tiba setelah menumpuk
Atau justru menjadi sangat tertutup
Mereka bukan tidak ingin terbuka—mereka hanya tidak pernah diajarkan caranya.
5. Menjadi People Pleaser (Terlalu Menyenangkan Orang Lain)
Banyak dari mereka belajar sejak kecil bahwa:
Menunjukkan emosi = ditolak
Menjadi “mudah” = diterima
Akhirnya, mereka tumbuh menjadi orang yang:
Selalu mengutamakan orang lain
Takut membuat orang kecewa
Sulit mengatakan “tidak”
Mereka mencari keamanan dalam penerimaan, bahkan jika harus mengorbankan diri sendiri.
6. Memiliki Dialog Batin yang Keras dan Mengkritik Diri Sendiri
Suara yang dulu mereka dengar dari luar (“kamu terlalu sensitif”) sering berubah menjadi suara internal.
Saat dewasa, mereka mungkin sering berpikir:
“Aku lebay banget sih”
“Harusnya aku nggak ngerasa kayak gini”
“Kenapa aku lemah banget?”
Ini adalah bentuk self-criticism yang dalam, yang sebenarnya berasal dari pengalaman masa kecil.
7. Sangat Empatik, Tapi Mudah Terkuras Emosinya
Sisi lain yang menarik: banyak dari mereka justru menjadi sangat empatik.
Karena terbiasa memperhatikan emosi:
Mereka peka terhadap perasaan orang lain
Mereka bisa memahami emosi secara mendalam
Mereka sering jadi tempat curhat
Namun, tanpa batasan yang sehat, empati ini bisa membuat mereka:
Mudah lelah secara emosional
Menyerap masalah orang lain
Kehilangan energi untuk diri sendiri
Penutup: Sensitivitas Bukan Kelemahan
Psikologi modern semakin menegaskan bahwa sensitivitas bukanlah kelemahan. Justru, dalam kondisi yang tepat, itu adalah kekuatan: kemampuan merasakan, memahami, dan terhubung secara mendalam.
Masalahnya bukan pada sensitivitas itu sendiri, tetapi pada bagaimana lingkungan meresponsnya.
Bagi mereka yang tumbuh dengan label “terlalu sensitif,” perjalanan penyembuhan sering dimulai dari satu hal sederhana namun penting:
belajar kembali mempercayai perasaan sendiri.