JawaPos.com - Banyak orang terjebak dalam kebingungan antara kebaikan tulus dan keinginan untuk menyenangkan semua orang di sekitar kita.
Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Kebaikan berakar pada empati, sementara menyenangkan orang lain hanya dilakukan untuk menghindari konflik.
Individu yang sering menyenangkan orang lain ternyata memiliki perilaku yang terlihat.
Dilansir dari Hack Spirit, simak tujuh perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang selalu menyenangkan orang lain!
Baca Juga: 6 Perilaku Ini Bisa Menyebabkan Pengeluaranmu Makin Boros, Apa Saja?
-
Sering mengiyakan tanpa berpikir
Kebiasaan mengiyakan semua permintaan seringkali dianggap sebagai bentuk kebaikan, padahal sebenarnya ini adalah manifestasi dari keinginan untuk menghindari konflik.
-
Mengutamakan kebahagiaan orang lain
Seringkali orang terjebak dalam pikiran bahwa mengutamakan kebahagiaan orang lain adalah tanda kebaikan.
Padahal, kebiasaan ini dapat menguras energi dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
-
Mengabaikan kebutuhan diri
Dalam upaya menjadi baik, banyak orang sering menekan kebutuhan untuk diri sendiri.
Padahal, mengungkapkan kebutuhan bukanlah tindakan yang egois, melainkan hak dasar untuk menjaga kesehatan mental dan emosional.
-
Merasa bersalah saat menetapkan batasan
Banyak dari kita merasa bersalah saat menetapkan batasan dalam hubungan sosial.
Padahal, batasan adalah hal penting untuk melindungi diri dari eksploitasi sikap baik oleh orang lain.
-
Menolak pujian
Seringkali kita meremehkan atau menolak pujian karena takut dinilai sombong. Padahal, menerima pujian dengan anggun adalah bentuk apresiasi diri sendiri.
-
Meminta maaf untuk hal yang tak perlu
Kebiasaan meminta maaf untuk hal yang bukan salah kita atau hanya karena keberadaan kita sendiri dapat merusak harga diri.
Orang yang sering menyenangkan orang lain biasanya melupakan ini dan mencoba untuk tidak membuat konflik.
-
Mengabaikan perawatan diri
Mengabaikan kebutuhan diri sendiri bukanlah kebaikan, melainkan bentuk akibat dari selalu menyenangkan orang lain.
Dengan alasan orang lain senang, mereka sering melupakan diri dan tidak merawat diri sendiri.
Kebaikan sejati berakar pada ketulusan, bukan untuk menyenangkan orang lain semata.
Jangan takut untuk menjadi diri sendiri dan mengungkapkan kebutuhan, meski itu tidak selalu memenuhi ekspektasi orang lain. Ingat untuk lebih peduli pada diri sendiri lebih dulu.