← Beranda
Orang Tua yang Kehilangan Rasa Hormat Anak Seiring Bertambahnya Usia Sering Kali Mengadopsi 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 21 Januari 2026 | 05.26 WIB
seseorang yang kehilangan rasa hormat./Freepik/wosunan5

JawaPos.com - Hubungan orang tua dan anak sejatinya dibangun di atas cinta, rasa aman, dan hormat yang tumbuh seiring waktu.

Namun, tidak sedikit orang tua yang terkejut ketika mendapati anak-anak mereka, saat beranjak dewasa, mulai menjaga jarak, berbicara dingin, atau tidak lagi mendengarkan nasihat seperti dulu.

Yang menyakitkan, perubahan ini sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba—melainkan akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang luput disadari.

Psikologi perkembangan dan dinamika keluarga menunjukkan bahwa rasa hormat anak bukanlah sesuatu yang otomatis bertahan hanya karena status “orang tua”.

Ia perlu dirawat. Tanpa disadari, beberapa perilaku yang dianggap wajar justru perlahan mengikis respek tersebut.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (18/1), terdapat delapan perilaku yang sering muncul pada orang tua yang kehilangan rasa hormat anak mereka seiring bertambahnya usia.

1. Terlalu Sering Meremehkan Perasaan Anak

Banyak orang tua merasa pengalaman hidup merekalah yang paling berat. Akibatnya, ketika anak mengeluh atau bercerita, respons yang muncul adalah, “Ah, itu belum seberapa,” atau “Dulu Ayah/Ibu lebih susah.”

Dari sudut pandang psikologi, meremehkan emosi anak—bahkan saat mereka sudah dewasa—membuat mereka merasa tidak divalidasi. Lama-kelamaan, anak belajar bahwa membuka perasaan pada orang tuanya hanya akan berujung pada penilaian, bukan pemahaman.

2. Menggunakan Otoritas Lama di Dunia yang Sudah Berubah

Kalimat seperti “Pokoknya dengarkan orang tua” mungkin efektif saat anak masih kecil. Namun ketika anak tumbuh menjadi individu mandiri, pendekatan otoriter tanpa dialog justru terasa mengekang.

Psikologi menyebut ini sebagai kegagalan transisi peran: orang tua lupa beralih dari pengendali menjadi pembimbing. Ketika pendapat anak terus-menerus ditolak hanya karena “tidak sesuai cara lama”, rasa hormat perlahan berubah menjadi jarak emosional.

3. Sulit Mengakui Kesalahan

Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, sebagian orang tua tumbuh dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan akan menjatuhkan wibawa.

Padahal, secara psikologis, kemampuan meminta maaf justru memperkuat respek. Anak yang melihat orang tuanya mau berkata, “Ayah/Ibu salah,” belajar bahwa kerendahan hati adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

4. Terus Membandingkan dengan Anak Orang Lain

Perbandingan sering dibungkus dengan niat baik: memotivasi. Namun bagi anak, kalimat seperti “Anaknya si A sudah sukses, kamu kapan?” terasa seperti penghakiman.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa perbandingan kronis merusak harga diri dan menumbuhkan rasa tidak pernah cukup. Dari sini, rasa hormat bisa berubah menjadi kelelahan emosional dan keengganan untuk berinteraksi.

5. Tidak Menghargai Batasan Pribadi Anak

Saat anak masih kecil, batasan hampir tidak ada. Namun seiring usia, mereka membutuhkan ruang—baik secara fisik maupun emosional.

Orang tua yang terus mencampuri keputusan pribadi, membuka privasi, atau menuntut keterbukaan tanpa persetujuan sering kali dianggap tidak menghormati. Ironisnya, pelanggaran batas ini justru membuat anak menutup diri lebih rapat.

6. Berkomunikasi dengan Nada Merendahkan

Nada bicara sering kali lebih berpengaruh daripada isi pesan. Kritik yang disampaikan dengan sindiran, nada tinggi, atau meremehkan membuat anak merasa diperlakukan seperti anak kecil, bukan individu dewasa.

Dalam psikologi komunikasi, pola ini disebut contemptuous communication—salah satu perusak hubungan paling kuat, bahkan dalam keluarga.

7. Menolak Perubahan dan Pertumbuhan Anak

Anak berubah: cara berpikir, nilai hidup, bahkan pandangan tentang dunia. Orang tua yang menolak menerima perubahan ini cenderung terjebak pada versi lama anak mereka.

Ketika orang tua terus berkata, “Kamu bukan anak yang dulu,” dengan nada kecewa, pesan yang diterima anak adalah: pertumbuhan mereka tidak diterima.

8. Menganggap Hormat Sebagai Hak, Bukan Hubungan

Ini mungkin yang paling mendasar. Sebagian orang tua meyakini bahwa hormat adalah kewajiban mutlak anak.

Psikologi relasional menekankan bahwa hormat adalah hubungan dua arah. Ia tumbuh dari konsistensi, empati, dan keadilan emosional. Ketika hormat dituntut tanpa memberi contoh, yang tersisa hanyalah formalitas kosong.

Kesimpulan: Rasa Hormat Tidak Hilang, Ia Perlahan Terkikis

Anak jarang tiba-tiba “tidak hormat”. Lebih sering, rasa hormat itu terkikis sedikit demi sedikit oleh interaksi yang tidak disadari. Kabar baiknya, apa yang terkikis bisa diperbaiki—selama ada kesediaan untuk refleksi dan berubah.

Psikologi mengajarkan bahwa hubungan orang tua dan anak adalah hubungan yang terus berevolusi. Ketika orang tua mau mendengar, belajar, dan menyesuaikan diri dengan tahap kehidupan anak, rasa hormat tidak hanya kembali—ia tumbuh lebih dewasa, lebih tulus, dan lebih kuat dari sebelumnya.

EDITOR: Hanny Suwindari