← Beranda
10 Kebiasaan Traveling Ini Tunjukkan Seseorang dari Kelas Menengah Kebawah
Mohammad Maulana IqbalKamis, 13 November 2025 | 18.20 WIB
Kebiasaan traveling ini tunjukkan seseorang dari kelas menengah kebawah

JawaPos.com – Traveling bisa mengungkapkan banyak hal tentang latar belakang seseorang, terutama mereka yang tumbuh di kelas menengah kebawah.

Kebiasaan saat bepergian mencerminkan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil dalam keluarga kelas menengah kebawah.

Traveling dengan anggaran terbatas mengajarkan orang-orang dari kelas menengah kebawah untuk lebih cermat dan efisien.

Kebiasaan praktis yang terbentuk sejak kecil ini tetap melekat bahkan ketika finansial sudah membaik.

Baca Juga: Orang yang Tidak Percaya Diri dengan Kelas Sosialnya Biasanya Menampilkan 8 Kebiasaan Ini Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (13/11), bahwa ada sepuluh kebiasaan traveling ini tunjukkan seseorang dari kelas menengah kebawah.

  1. Membawa bekal makanan dalam jumlah banyak

Orang yang tumbuh dengan latar belakang ekonomi terbatas memahami bahwa biaya makanan saat bepergian sangat mahal.

Mereka cenderung menyiapkan sandwich, buah yang tidak mudah rusak, dan berbagai camilan dalam tas perjalanan.

Sarapan gratis di hotel dimaksimalkan sebaik mungkin agar bisa menghemat untuk makan siang.

Ini bukan tentang pelit, melainkan perhitungan matematis agar perjalanan bisa berlangsung lebih lama dengan budget terbatas.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehari-hari Ini Tampak Biasa Saja tapi Sebenarnya Diam-Diam Bisa Menurunkan Konsentrasimu, Lho!

  1. Membawa perlengkapan darurat mini

Koper mereka mudah dikenali karena selalu berisi lakban kecil, peniti, pengikat kabel, dan penghilang noda ukuran perjalanan.

Mereka belajar bahwa perbaikan kecil seharga lima ribu rupiah bisa menghindarkan dari pengeluaran ratusan ribu.

Kelengkapan sederhana ini bisa menyelesaikan masalah seperti jahitan lepas, resleting rusak, atau kunci koper patah.

Ini bukan sekadar kehati-hatian, tetapi kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk dalam perjalanan.

  1. Memilih jadwal penerbangan berdasarkan harga

Mereka merencanakan penerbangan di sekitar hari Selasa atau Rabu dengan keberangkatan paling pagi.

Transit dipilih jika benar-benar menghemat uang, penerbangan langsung hanya jika selisih harganya tidak signifikan.

Penerbangan malam dipilih untuk memangkas biaya menginap satu malam di hotel.

Waktu, makanan, dan tempat duduk diperlakukan sebagai mata uang yang bisa ditukar dengan penghematan lain.

  1. Memperlakukan kamar hotel dengan penuh hormat

Mereka berperilaku seperti tamu yang meminjam, bukan pemilik yang berhak berbuat sesukanya.

Wastafel dibersihkan, perlengkapan mandi kecil dirapikan untuk dibawa pulang, dan handuk bekas ditumpuk dengan rapi.

Lampu dimatikan sebelum keluar, pintu ditutup perlahan, dan tip ditinggalkan jika memungkinkan.

Prinsipnya sederhana: jangan mempersulit pekerjaan orang lain meskipun kamar sudah dibayar.

  1. Menggunakan transportasi umum dengan sengaja

Sebagian orang menghindari bus dan kereta karena terlihat rumit di kota baru. Mereka yang terbiasa berhemat justru cepat mempelajari sistem transportasi karena membuat budget lebih efisien.

Kartu transportasi bisa membuka akses ke empat lingkungan berbeda, jadi mereka mempelajari peta dan mengamati penduduk lokal.

Ini bukan pamer kemampuan, tetapi keterampilan yang membuat anggaran kecil terasa lebih besar jangkauannya.

  1. Membeli oleh-oleh yang benar-benar digunakan

Mereka tidak membeli patung lumba-lumba kaca atau magnet kulkas berukuran besar yang hanya pajangan.

Yang dibawa pulang adalah barang fungsional seperti handuk dengan nama kota, buku catatan dari toko museum, atau sendok kayu.

Kenangan bertahan lebih lama ketika benda tersebut digunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti memasak. Bahkan kaos yang dibeli pun dipilih yang nyaman dan tahan lama di mesin cuci.

  1. Menghitung biaya bagasi seperti menghitung bunga

Membayar untuk check-in bagasi terasa seperti membuang uang untuk sesuatu yang tidak berwujud.

Mereka menguasai seni membawa tas pribadi yang muat di bawah kursi namun bisa mengembang maksimal.

Pakaian digulung ketat, sepatu dipakai bukan dikemas, dan jaket dikenakan meski cuaca hangat karena jaket makan tempat.

Aturan ini bukan pelit, melainkan defensif terhadap biaya tambahan yang sebenarnya tidak perlu.

  1. Berbagi porsi makanan dan membaca menu seperti akuntan

Di restoran, mereka memindai sisi kiri menu terlebih dahulu untuk melihat rentang harga. Kemudian mencari hidangan yang bisa dibawa pulang jika tersisa setengah porsi untuk dimakan nanti.

Dua garpu untuk satu piring besar bukan gestur romantis, melainkan strategi menghemat sambil tetap bersenang-senang.

Mereka adalah pemberi tip yang baik namun pemesan yang cermat, bahkan rela makan jam tiga sore demi promo makan siang.

  1. Memperlakukan waktu sebagai penyangga bukan tantangan

Mereka yang tumbuh dengan kendaraan tua dan transportasi tidak andal belajar memberikan waktu cadangan.

Di bandara mereka datang cukup awal untuk bisa bernapas tenang tanpa terburu-buru. Di jalan raya mereka mengantisipasi konstruksi dan jalur alternatif yang mungkin diperlukan.

Penyangga waktu ini bukan ketakutan, melainkan penghormatan terhadap realitas yang tidak selalu berjalan mulus.

  1. Bersikap ramah kepada staf karena pernah menjadi staf

Tidak ada yang lebih mengungkapkan latar belakang kamu selain cara berbicara dengan petugas hotel atau bandara.

Mereka membuat kontak mata, menyebut nama di lencana, dan bertanya kabar dengan tulus.

Tidak marah ketika kamar belum siap, justru bertanya apa yang bisa membantu dan mengucapkan terima kasih.

Karyawan tersebut mungkin memberi informasi berharga seperti lokasi ATM jujur atau halte bus yang tidak terlalu ramai.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho