JawaPos.com – Setiap orang tentu ingin dihargai dan diakui keberadaannya. Namun, bagi sebagian orang, keinginan untuk diperhatikan bisa menjadi kebutuhan yang berlebihan hingga mengganggu hubungan sosial. Fenomena ini dikenal sebagai perilaku attention-seeking atau suka mencari perhatian.
Menurut psikolog klinis Dr. Daniel Fox, dalam video edukatifnya di YouTube berjudul “Understanding Attention-Seeking Behavior”, perilaku mencari perhatian umumnya muncul karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Seseorang yang terlalu sering merasa diabaikan, baik di masa lalu maupun sekarang, cenderung mencari cara agar diperhatikan oleh orang lain, bahkan dengan cara yang ekstrem.
Di sisi lain, psikiater Dr. Zulvia Syarif, Sp.KJ dalam konten TikTok-nya menjelaskan bahwa perilaku ini bisa muncul sebagai bentuk kompensasi dari rasa rendah diri. Mereka yang haus perhatian sering kali ingin memastikan dirinya dianggap penting atau disukai.
Kreator konten @cam.khs menambahkan bahwa mencari perhatian bukan selalu tanda manipulatif, tetapi bisa jadi bentuk komunikasi tak langsung. Sementara @hanimunsy menggarisbawahi bahwa orang seperti ini sering kali tidak menyadari perilaku mereka, karena merasa hanya ingin “didengar” atau “diperhatikan lebih.”
Berikut beberapa ciri umum orang yang suka mencari perhatian berdasarkan penjelasan para ahli tersebut.
Baca Juga: 7 Ciri Orang Open Minded, Nomor 6 Bikin Mereka Selalu Dihargai dan Dipercaya
1. Sering Membesar-besarkan Cerita untuk Menarik Simpati
Orang yang haus perhatian biasanya ingin menjadi pusat pembicaraan. Menurut Dr. Daniel Fox, mereka sering menambahkan detail dramatis atau memperbesar cerita agar terlihat menarik dan mendapatkan reaksi emosional dari orang lain.
Mereka cenderung merasa tidak puas jika tidak ada yang merespons atau memuji ceritanya. Akibatnya, interaksi mereka sering terasa berat bagi orang di sekitarnya karena selalu berfokus pada diri sendiri.
2. Senang Membagikan Segalanya di Media Sosial
Dalam era digital, perilaku mencari perhatian sering terlihat melalui aktivitas media sosial. Akun @hanimunsy menjelaskan bahwa orang yang haus perhatian bisa merasa cemas jika tidak mendapat cukup likes atau komentar.
Mereka kerap membagikan setiap hal kecil dalam hidupnya—dari suasana hati, konflik pribadi, hingga pencapaian terkecil—untuk memastikan dirinya diperhatikan. Meski sekilas tampak wajar, kebiasaan ini bisa menjadi tanda kebutuhan validasi yang kuat.
3. Sulit Mendengarkan Orang Lain
Menurut Dr. Zulvia Syarif, individu yang suka mencari perhatian cenderung lebih fokus pada dirinya sendiri. Saat orang lain berbicara, mereka mudah memotong pembicaraan atau mengalihkan topik ke hal yang berkaitan dengan dirinya.
Hal ini bukan karena tidak peduli, tetapi karena mereka merasa cemas jika tidak menjadi pusat perhatian. Akibatnya, mereka tampak egois dan sulit membangun hubungan yang seimbang.
4. Menunjukkan Emosi Secara Berlebihan
Dalam konten @cam.khs, disebutkan bahwa orang yang haus perhatian sering mengekspresikan emosi secara dramatis—baik sedih, marah, maupun bahagia. Emosi yang mereka tunjukkan bisa terasa berlebihan dibanding situasi yang sebenarnya.
Mereka melakukan ini bukan semata-mata ingin berbohong, melainkan agar orang lain merespons secara emosional. Sayangnya, kebiasaan ini bisa membuat orang di sekitar merasa lelah secara mental karena harus terus menenangkan mereka.
5. Mengeluh atau Berpura-pura Terluka untuk Diperhatikan
Beberapa orang mencari perhatian dengan cara memainkan peran sebagai korban. Dalam video Dr. Daniel Fox, dijelaskan bahwa mereka bisa menggunakan rasa sakit atau masalah pribadi untuk menarik simpati.
Misalnya, mereka sering mengatakan “tidak apa-apa” sambil berharap orang lain memaksa bertanya lebih lanjut. Pola seperti ini bisa menjadi bentuk manipulasi emosional jika dilakukan berulang kali tanpa kesadaran diri.
6. Selalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Perilaku ini juga ditandai dengan kecenderungan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dr. Zulvia Syarif menjelaskan bahwa orang dengan kebutuhan validasi tinggi mudah merasa tersaingi. Mereka bisa menunjukkan keberhasilan secara berlebihan hanya untuk menegaskan bahwa dirinya juga pantas diperhatikan.
Meski terlihat percaya diri, dalam hati mereka sering kali merasa tidak cukup baik tanpa pengakuan eksternal.
7. Cepat Tersinggung Jika Tidak Diperhatikan
Menurut @hanimunsy, orang dengan pola ini sangat peka terhadap perlakuan orang lain. Mereka bisa langsung merasa diabaikan jika pesan tidak dibalas cepat atau teman tidak memuji sesuatu yang mereka lakukan.
Sensitivitas ini membuat mereka sering salah paham dan menarik diri, padahal masalahnya mungkin sepele. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi kualitas hubungan sosial mereka.
Mengapa Orang Bisa Haus Perhatian?
Mencari perhatian sebenarnya merupakan perilaku alami manusia. Setiap orang ingin merasa dilihat dan dihargai. Namun, perilaku ini bisa menjadi berlebihan jika dipengaruhi oleh pengalaman emosional masa lalu.
Menurut Dr. Daniel Fox, perilaku attention-seeking bisa berakar dari kebutuhan akan kasih sayang yang tidak terpenuhi di masa kecil. Sedangkan Dr. Zulvia Syarif menambahkan bahwa tekanan sosial untuk selalu terlihat “sempurna” di media sosial juga memperkuat perilaku ini pada generasi muda.
Sementara @cam.khs mengingatkan bahwa sering kali, orang dengan perilaku ini hanya membutuhkan ruang aman untuk didengar. Memberi empati tanpa langsung menghakimi bisa membantu mereka belajar mengekspresikan diri dengan cara yang lebih sehat.
Bagaimana Cara Menghadapinya?
Bagi yang mengenali diri memiliki kecenderungan ini, langkah pertama adalah menyadari bahwa perhatian tidak selalu identik dengan kasih sayang. Kanal Dr. Daniel Fox menyarankan untuk mengembangkan rasa aman dalam diri sendiri melalui refleksi, terapi, atau aktivitas yang meningkatkan harga diri.
Sedangkan bagi orang di sekitar, penting untuk menetapkan batas sehat (boundaries). Memberi dukungan boleh, tapi jangan sampai energi emosional terkuras.
Perhatian sejati bukan tentang seberapa sering kita diperhatikan orang lain, tapi seberapa mampu kita memahami diri sendiri dan merasa cukup tanpa validasi eksternal.