← Beranda
8 Perilaku yang Merusak Harga Diri Jika Terus Membandingkan Hidup dengan Orang Lain di Dunia Online
Mohammad Maulana IqbalSenin, 6 Oktober 2025 | 20.41 WIB
Perilaku merusak harga diri jika membandingkan hidup dengan orang lain di dunia online

JawaPos.com – Perilaku membandingkan hidup dengan orang lain di dunia online perlahan bisa merusak harga diri tanpa disadari.

Banyak orang terjebak dalam perilaku membandingkan hidup yang justru mengikis harga diri mereka sendiri di dunia online.

Harga diri akan semakin rapuh ketika perilaku membandingkan hidup dengan standar dunia online dilakukan terus-menerus.

Baca Juga: 7 Perilaku Pasangan yang Secara Diam-diam Menarik Diri dari Hubungan Asmara

Di era online seperti sekarang, perilaku membandingkan hidup sering kali menjadi racun yang melemahkan harga diri.

Menghentikan perilaku membandingkan hidup di dunia online adalah langkah penting untuk menjaga harga diri tetap kuat.

Dilansir dari geediting.com pada Senin (6/10), bahwa ada delapan perilaku yang merusak harga diri jika terus membandingkan hidup dengan orang lain di dunia online.

Baca Juga: Orang yang Kurang Kasih Sayang Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Tanpa Sadar

  1. Scrolling tanpa batas

Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial sambil melihat foto-foto yang sudah disaring dan kehidupan yang tampak sempurna menciptakan standar yang tidak realistis.

Paparan terus-menerus terhadap konten yang terlihat 'sempurna' membuat kita merasa kehidupan sendiri kurang menarik dan tidak memadai.

Kita mulai mempertanyakan mengapa tidak memiliki pengalaman, kesuksesan, hubungan, atau barang-barang material yang sama seperti yang dilihat.

Kebiasaan ini tidak hanya membuang waktu tetapi juga menggerus rasa percaya diri secara perlahan.

Cara mengatasinya adalah dengan menetapkan batas waktu untuk penggunaan media sosial atau menjadwalkan waktu khusus untuk mengecek akun.

  1. Permainan perbandingan

Ketika melihat postingan orang lain yang sedang berlibur di tempat eksotis sementara kita berurusan dengan rutinitas sehari-hari, pikiran langsung membuat perbandingan yang tidak adil.

Permainan perbandingan ini seperti berlari di atas treadmill tanpa akhir, mencoba mencapai garis finish yang terus bergerak.

Kebiasaan ini sangat melelahkan dan berbahaya bagi mental karena setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.

Yang terlihat di media sosial hanyalah snapshot kecil dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan realitas mereka.

Kunci untuk mengatasi hal ini adalah mengenali ketika kita terjebak dalam jebakan perbandingan dan mengingatkan diri bahwa setiap pencapaian kita, sekecil apapun, layak untuk dihargai.

  1. Mencari validasi

Di era digital saat ini, mudah sekali menyamakan jumlah 'like' dan komentar dengan nilai diri sendiri.

Kebiasaan ini bisa menyebabkan ketergantungan berbahaya pada validasi eksternal untuk kebahagiaan dan rasa percaya diri.

Penelitian menunjukkan bahwa menerima 'like' di media sosial mengaktifkan pusat kesenangan yang sama di otak seperti ketika makan cokelat atau memenangkan uang.

Perasaan ini bisa membuat ketagihan dan mendorong kita untuk terus mencari validasi dari orang lain secara daring.

Nilai diri seharusnya tidak diukur dari jumlah 'like' pada postingan terbaru, melainkan harus berasal dari dalam diri sendiri tanpa memerlukan pengakuan orang lain.

  1. Jebakan kesempurnaan

Media sosial menjadi tempat berkembangbiaknya obsesi terhadap kesempurnaan - tubuh sempurna, liburan sempurna, rumah sempurna, keluarga sempurna.

Meskipun secara logis kita tahu bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar tanpa cacat, mudah untuk melupakan hal ini ketika dihadapkan dengan gambar-gambar yang diidealkan.

Kebiasaan mengejar kesempurnaan membuat kita merasa tidak memadai dan tidak puas dengan kehidupan sendiri.

Kita mulai percaya bahwa kita tidak cukup baik kecuali kehidupan kita juga terlihat sempurna seperti di foto.

Namun kenyataannya, kesempurnaan adalah mitos dan tidak ada yang memiliki segalanya dengan sempurna sepanjang waktu, terlepas dari apa yang digambarkan di media sosial mereka.

  1. Mengabaikan hubungan personal

Dalam upaya mengikuti dunia daring, kita sering mengabaikan koneksi kehidupan nyata yang benar-benar penting.

Kita terlalu terpaku pada dunia digital sehingga lupa memelihara hubungan di dunia nyata.

Teman yang dulu rutin diajak ngopi setiap minggu atau makan malam keluarga yang kini digantikan dengan pesan singkat di grup chat menunjukkan pergeseran prioritas yang kurang sehat.

Meskipun komunikasi digital memiliki manfaatnya, tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan dan keaslian interaksi tatap muka.

Kebiasaan memprioritaskan interaksi daring daripada kehidupan nyata dapat menyebabkan perasaan kesepian dan isolasi yang merusak rasa percaya diri.

  1. Terpaku pada masa lalu

Kebiasaan terus-menerus melihat foto dan postingan lama sambil bernostalgia tentang peristiwa masa lalu bisa menjadi jebakan berbahaya.

Meskipun menyenangkan untuk melihat kembali dan mengingat masa-masa indah, hal ini juga membuat kita terpaku pada apa yang telah berubah, apa yang hilang, dan apa yang seharusnya bisa terjadi.

Keasyikan dengan masa lalu adalah jalur licin yang mudah membuat kita mulai mengidealkan pengalaman masa lalu atau merasa menyesal tentang peluang yang terlewatkan.

Hal ini dapat menyebabkan perasaan sedih, tidak puas, dan menurunkan rasa percaya diri.

Yang terpenting adalah mengingat bahwa masa lalu sudah berlalu dan tidak boleh mengaburkan masa kini atau menentukan masa depan kita.

  1. Terlalu menghargai pendapat orang lain

Kita hidup di dunia di mana setiap orang punya pendapat dan platform media sosial memberikan megafon bagi pendapat-pendapat tersebut untuk didengar.

Mudah sekali terjebak dalam kebisingan dan mulai memberikan nilai berlebihan pada apa yang dipikirkan orang lain.

Ketika kita terlalu mementingkan pendapat orang lain, kita berisiko kehilangan pandangan terhadap keyakinan dan nilai-nilai kita sendiri.

Kita mulai membentuk kehidupan berdasarkan apa yang menurut kita ingin dilihat orang lain, bukan apa yang benar-benar membuat kita bahagia.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan hilangnya identitas personal dan penurunan rasa percaya diri karena hidup kita dikontrol oleh ekspektasi orang lain.

  1. Mengabaikan pencapaian sendiri

Di tengah semua kebisingan dunia daring, mudah sekali mengabaikan prestasi kita sendiri.

Kita terlalu sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain sehingga lupa mengakui dan merayakan pencapaian sendiri.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan perasaan tidak memadai dan penurunan rasa percaya diri.

Faktanya, setiap kemajuan yang kita buat, sekecil apapun, layak untuk dirayakan karena kita bergerak maju dalam perjalanan sendiri dengan kecepatan sendiri.

Penting untuk meluangkan waktu, mundur sejenak dari dunia daring, dan merayakan pencapaian kita karena kita sudah cukup baik sebagaimana adanya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho