JawaPos.com – Banyak orang sering merasa bersalah setelah menunda pekerjaan penting, namun tetap saja kebiasaan itu berulang. Fenomena ini dikenal sebagai prokrastinasi, dan menurut para ahli psikologi, penyebabnya lebih kompleks daripada sekadar malas atau tidak disiplin.
Psikolog klinis Marissa Medi, lewat unggahannya di TikTok, menjelaskan bahwa menunda pekerjaan erat kaitannya dengan cara otak mengelola emosi. Prokrastinasi kerap muncul ketika seseorang merasa cemas terhadap hasil pekerjaannya. Alih-alih menghadapi rasa tidak nyaman, otak mencari jalan pintas berupa aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Indah SJ, M.Psi., Psikolog, yang menyebut bahwa menunda pekerjaan sering kali menjadi mekanisme coping. “Seseorang mungkin merasa takut gagal, sehingga ia memilih menunda agar tidak perlu langsung berhadapan dengan kemungkinan buruk,” jelasnya dalam salah satu konten edukatif.
Konten serupa juga dibahas dalam video YouTube Satu Persen – Indonesia Life School, yang menekankan bahwa prokrastinasi dipengaruhi oleh faktor internal seperti perfeksionisme, rendahnya kepercayaan diri, serta kebutuhan akan kepuasan instan.
“Kita sering menunda karena otak lebih memilih aktivitas yang memberi rasa senang cepat, meski dampaknya jangka pendek,” ungkap narator dalam video tersebut.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan penjelasan Judith Yapitana, kreator konten kesehatan mental di TikTok, yang menyebutkan bahwa prokrastinasi bukan tanda kurang produktif semata. Menurutnya, ada aspek psikologis yang membuat seseorang sulit memulai pekerjaan, salah satunya perasaan kewalahan karena beban tugas terlalu besar.
Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Melindungi Otak dari Penyakit Alzheimer, Apa Saja?
Dampak Prokrastinasi
Menunda pekerjaan memang terasa melegakan sesaat, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan konsekuensi serius. Rasa bersalah, stres, hingga menurunnya kualitas kerja kerap dialami oleh mereka yang terbiasa menunda. Bahkan, dalam beberapa kasus, prokrastinasi dapat memperburuk kondisi kesehatan mental karena menumpuknya kecemasan.
Menurut psikolog Alicia Eva, kebiasaan menunda justru membuat seseorang masuk ke lingkaran setan. “Awalnya ingin mengurangi stres dengan menunda, tapi akhirnya stres semakin besar karena tugas makin menumpuk,” ujarnya.
Cara Mengatasi Prokrastinasi
Mengatasi kebiasaan menunda pekerjaan membutuhkan kesadaran dan strategi yang tepat. Para ahli merekomendasikan beberapa langkah sederhana:
-
Pecah tugas besar menjadi bagian kecil. Dengan begitu, beban pekerjaan terasa lebih ringan dan lebih mudah dikerjakan.
-
Gunakan teknik manajemen waktu. Misalnya metode Pomodoro, yaitu fokus bekerja selama 25 menit lalu beristirahat sebentar.
-
Atur ekspektasi realistis. Perfeksionisme justru sering membuat orang menunda. Belajar menerima progres daripada menunggu hasil sempurna bisa membantu mengurangi tekanan.
-
Hargai diri sendiri. Memberikan reward kecil setelah menyelesaikan tugas dapat meningkatkan motivasi.
-
Kenali penyebab emosional. Jika prokrastinasi dipicu kecemasan atau trauma tertentu, penting untuk mencari bantuan profesional seperti konseling psikologi.
Kenapa Fenomena Ini Penting?
Kebiasaan menunda pekerjaan penting bukan hanya memengaruhi kinerja, tetapi juga kualitas hidup seseorang. Saat tugas tak kunjung selesai, rasa percaya diri pun menurun. Lebih jauh, hubungan dengan orang lain bisa terganggu, baik di lingkungan kerja maupun keluarga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa prokrastinasi bukan masalah sepele. Ia adalah gambaran bagaimana tubuh dan pikiran berusaha menghindari ketidaknyamanan. Dengan memahami akar penyebabnya, setiap orang bisa mulai melatih diri untuk menghadapi rasa takut, membangun disiplin, dan menciptakan kebiasaan baru yang lebih sehat.
Kesadaran menjadi langkah awal untuk keluar dari lingkaran prokrastinasi. Dengan strategi yang konsisten, dukungan lingkungan, serta bantuan profesional bila diperlukan, menunda pekerjaan penting bukan lagi jebakan, melainkan tantangan yang bisa diatasi.