← Beranda
Ada Yang Habis Putus? Berikut ini 7 Alasan Mengapa Orang Suka Mendengarkan Lagu Galau, Meski Bikin Sedih
Aria Maulana Satriyo• Selasa, 23 September 2025 | 20.00 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang sedih dan mendengarkan lagu galau./Freepik.

JawaPos.com – Mengapa orang suka mendengarkan lagu galau meski bikin sedih? 

Pertanyaan ini sering muncul karena banyak orang justru memilih playlist penuh nada sendu saat hati sedang rapuh. 

Padahal secara logika, bukankah musik seharusnya membuat kita merasa lebih baik, bukan semakin tenggelam dalam kesedihan?

Fenomena ini ternyata cukup universal dan banyak dirasakan hampir semua orang. 

Entah ketika baru putus cinta, sedang rindu seseorang, atau sekadar butuh waktu merenung, lagu galau seperti menjadi teman yang setia menemani perasaan kita. 

Nada minor dan lirik penuh emosi seakan punya kemampuan untuk berbicara langsung ke dalam hati.

Baca Juga: Dua Bek Timnas Prancis Tertarik Gabung Real Madrid pada 2026

Riset menunjukkan, setelah mendengarkan musik melankolis, partisipan melaporkan mengalami emosi negatif sekitar 65% dari waktu, seperti kesedihan, melankolia, bahkan ketegangan. 

Namun menariknya, 35% responden justru merasakan emosi positif, terutama berupa kelembutan dan nostalgia. 

Artinya, meski dominan menghadirkan kesedihan, musik galau juga membuka ruang bagi perasaan hangat yang membuat pendengar merasa terhubung dengan diri mereka sendiri.

Lalu, apa sebenarnya alasan banyak orang tetap mencari dan menikmati lagu galau, meski tahu akan terbawa suasana? 

Mari kita bahas lebih dalam melalui penjelasan berikut yang dilansir dari Psychology Today dan The National Highschool Journal of Science.

Baca Juga: Polisi Ungkap Ciri-Ciri Kerangka Perempuan Daster Hijau yang Ditemukan di Sedati

1. Nostalgia yang Manis-Pahit

Nada sendu dan lirik melankolis seringkali memicu nostalgia. Begitu sebuah lagu galau diputar, kita mungkin langsung teringat pada momen tertentu. 

Perjalanan naik motor saat hujan, percakapan singkat dengan orang yang kini sudah tidak ada, atau surat cinta yang tidak pernah terkirim. 

Musik menjadi semacam mesin waktu emosional yang mengembalikan kita ke masa lalu tanpa perlu berpindah tempat.

Psikolog menyebut nostalgia sebagai emosi “manis-pahit” karena mengandung dua rasa sekaligus. 

Kesedihan karena momen itu tidak bisa kembali, dan kebahagiaan karena kita pernah merasakannya. 

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa kenangan yang dipicu oleh lagu sering kali terkait dengan peristiwa penting dalam hidup, seperti masa sekolah atau hubungan pertama. 

Artinya, musik galau tidak hanya mengingatkan pada luka, tapi juga menegaskan bahwa pengalaman hidup kita punya arti.

Itulah mengapa nostalgia terasa begitu kuat. Meski ada rasa kehilangan, kita justru merasa lebih “penuh” setelah membiarkan diri larut dalam kenangan.

2. Pelarian dari Realitas yang Berat

Saat hidup terasa penuh tekanan—entah karena masalah pekerjaan, kuliah yang menumpuk, atau hubungan yang renggang—lagu galau sering kali menjadi tempat pelarian. 

Mendengarkan melodi sendu bisa terasa seperti menekan tombol “pause” pada kehidupan, sejenak keluar dari hiruk pikuk dunia nyata. 

Musik melankolis memberi ruang aman untuk mengakui perasaan yang sering kita sembunyikan di balik rutinitas.

Riset menunjukkan bahwa 65% orang yang mendengarkan musik melankolis mengalami emosi negatif seperti sedih, murung, atau tegang, tetapi menariknya 35% lainnya justru merasakan emosi positif seperti nostalgia dan kelembutan. 

Ini berarti, walaupun dominan memicu kesedihan, lagu galau juga menawarkan semacam katarsis yang menenangkan. 

Seolah-olah dengan mendengarkannya, kita bisa “menyelesaikan” emosi yang tidak sempat kita proses dalam kehidupan sehari-hari.

3. Katarsis Emosional

Ada kalanya kita tidak punya cara untuk meluapkan perasaan. Menangis di depan orang lain terasa canggung, bercerita pun tak selalu mudah. 

Di sinilah lagu galau hadir sebagai medium katarsis. Mendengarkan musik sendu membuat kita merasa dimengerti tanpa perlu berkata-kata, seakan penyanyi menyalurkan isi hati kita lewat lirik dan nada.

Secara psikologis, katarsis adalah pelepasan emosi yang memberi kelegaan. 

Setelah larut dalam musik yang penuh kesedihan, banyak orang merasa lebih ringan karena perasaan itu tidak lagi mengendap di dalam diri. 

Meski terdengar paradoks, justru dengan mendengarkan lagu galau, kita bisa menemukan ketenangan setelah melewati badai kecil di hati.

4. Merasa Tidak Sendiri dalam Kesedihan

Kesedihan sering kali membuat kita merasa terasing. Namun saat mendengarkan lagu galau, kita menemukan fakta bahwa ada orang lain yang pernah merasakan hal serupa. 

Lirik yang menggambarkan patah hati, kehilangan, atau kerinduan menciptakan koneksi emosional yang menegaskan bahwa kita tidak sendirian dalam rasa sakit ini.

Penelitian dalam psikologi musik menunjukkan bahwa orang lebih cenderung mendengarkan lagu sedih ketika mereka sedang menghadapi tekanan emosional. 

Hal ini bukan karena ingin memperburuk suasana, melainkan untuk mendapatkan rasa kebersamaan yang bersifat emosional. 

Lagu galau seolah berkata, “aku mengerti rasa sakitmu,” dan kalimat itu cukup untuk membuat kita bertahan sedikit lebih kuat.

5. Estetika Kesedihan yang Indah

Ada sesuatu yang tak terjelaskan tentang indahnya kesedihan dalam musik. 

Harmoni piano yang lirih, suara vokal yang penuh emosi, atau lirik puitis yang sederhana tapi menyayat hati—semuanya membentuk pengalaman estetis yang justru memikat. 

Kesedihan dalam musik seringkali terasa lebih “teratur” dan indah daripada kesedihan nyata, sehingga kita bisa menikmatinya tanpa takut hancur.

Para ahli musikologi menyebut fenomena ini sebagai “aesthetic sadness,” yaitu pengalaman menikmati keindahan dari sesuatu yang emosional. 

Kita tahu bahwa lagu itu sedih, tetapi justru karena bentuknya yang artistik, kesedihan itu bisa kita resapi dengan rasa kagum. 

Inilah alasan mengapa orang tetap memilih mendengarkan lagu galau bahkan ketika mereka sedang bahagia.

6. Ruang untuk Refleksi Diri

Lagu galau seringkali memaksa kita untuk berhenti sejenak dan berpikir. Ketika liriknya menggambarkan kehilangan atau kekecewaan, kita terdorong untuk merefleksikan pengalaman pribadi. 

Musik sendu memberi ruang batin yang tenang untuk merenungkan siapa diri kita, apa yang sudah kita lalui, dan bagaimana kita ingin melangkah ke depan.

Dalam dunia psikologi, refleksi semacam ini penting untuk pertumbuhan pribadi. 

Meski terasa menyakitkan, merenungkan pengalaman emosional bisa membantu kita memahami diri sendiri lebih dalam. 

Lagu galau menjadi cermin yang memantulkan sisi-sisi yang jarang kita lihat, sekaligus menjadi pengingat bahwa dari setiap luka, ada pelajaran yang bisa kita ambil.

7. Ironi: Sedih yang Membuat Bahagia

Alasan terakhir mungkin yang paling membingungkan sekaligus menarik: mendengarkan lagu galau justru bisa membuat kita bahagia. 

Saat larut dalam melodi sendu, kita merasakan kesedihan yang aman, karena berasal dari dunia seni, bukan dari peristiwa nyata. 

Kesedihan ini seperti roller coaster emosional yang menegangkan tapi menyenangkan pada saat bersamaan.

Penelitian menunjukkan bahwa walaupun intensitas emosi negatif lebih tinggi, perasaan positif seperti kelembutan dan nostalgia tetap signifikan. 

Artinya, ada sisi menyenangkan dari kesedihan itu sendiri. Lagu galau mengajarkan kita bahwa emosi tidak selalu hitam-putih. 

Kesedihan bisa menyembunyikan kehangatan, dan dalam tangisan, kita kadang menemukan rasa lega yang mendekatkan kita pada kebahagiaan.

Akhir Kata

Lagu galau bukan sekadar musik sendu yang menambah rasa sedih. 

Di baliknya, ada fungsi psikologis yang dalam sebagai katarsis, sebagai ruang refleksi, hingga sebagai medium untuk merasakan keindahan dari kesedihan. 

Tidak heran jika meski banyak orang mengaku ingin bahagia, tetap saja playlist galau selalu diputar berulang kali.

Pada akhirnya, mendengarkan lagu galau mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk emosional yang kompleks. 

Kita tidak hanya mencari tawa dan keceriaan, tetapi juga menemukan makna dalam air mata dan rasa kehilangan.

EDITOR: Hanny Suwindari