← Beranda
7 Perilaku Kecil Ini Tanpa Disadari Membuat Anda Tampak Seperti Orang Cuek atau Kasar, Menurut Psikologi
Akhmad Iqbal FirmansyahSenin, 22 September 2025 | 12.53 WIB
Ilustrasi orang yang cuek dan kasar. (Freepik)

JawaPos.com – Perilaku yang kita anggap wajar mungkin secara tidak sadar membuat kita terlihat seperti orang yang cuek atau kasar.

Bahkan secara diam-diam membuat situasi terasa kurang nyaman dan canggung karena perilaku yang kita tunjukkan.

Ketika kita sedang asik berbicara dengan orang lain, secara tiba-tiba perilaku yang kita lakukan membuat orang lain bingung dan terdiam.

Kita mungkin menganggapnya biasa, tapi itu bisa menjadi perilaku kasar yang dirasakan oleh orang lain.

Psikologi menunjukkan, bahwa beberapa perilaku kecil yang tanpa kita sengaja sebenarnya terlihat kasar dan acuh.

Perilaku-perilaku ini banyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya hal yang kasar ketika ditunjukkan di lingkungan sosial.

Dilansir dari geediting,com, ada tujuh perilaku sederhana yang secara alami membuat kita terlihat kasar dan cuek.

Baca Juga: Ferran Torres Cetak Brace, Barcelona Menang Meyakinkan 3-0 atas Getafe

  1. Suka Mengganggu

Perilaku mengganggu mungkin sering kita anggap sebagai hal iseng yang biasa dan dapat menghilangkan kecanggungan.

Namun, yang perlu kita sadari ada beberapa perilaku mengganggu yang tidak dapat diterima, seperti menyela pembicaraan atau mengganggu orang saat berpendapat.

Menyela pembicaraan orang lain meskipun tidak disengaja, bisa dianggap sebagai hal yang kasar dan kurang menghargai.

Seakan-akan kita mengatakan bahwa perkataan orang lain tidak penting atau tidak valid untuk didengarkan.

Psikologi menunjukkan bahwa kurangnya mendengarkan dengan aktif dapat dianggap sebagai perilaku kasar.

Alih-alih langsung memotong pembicaraan, cobalah untuk memahami dan menunggu orang lain berbicara.

Percakapan yang bermakna bukan tentang siapa yang banyak bicara, tapi bagaimana komunikasi tetap seimbang.

  1. Terus Memeriksa Ponsel

Ketika sedang berinteraksi atau berbicara dengan orang lain, melihat ponsel terus-menerus mungkin dianggap wajar.

Namun, ketika suasana sedang asik mengobrol, terlalu banyak melihat ponsel justru menunjukkan bahasa tubuh yang kasar dan kurang menghargai.

Meskipun awalnya tampak tidak masalah, tapi jika dilakukan secara konsisten dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman dan tidak dihargai.

Kemajuan teknologi terutama ponsel bukan berarti kita bisa terus-menerus melihatnya saat sedang berinteraksi.

Kita perlu membangun kepekaan diri tentang kapan waktunya melihat ponsel dan kapan harus mendengarkan.

Jangan biarkan ponsel mengalihkan perhatian kita saat orang lain sedang berbicara, karena itu adalah perilaku kasar dan cuek.

Oleh karena itu, usahakan agar ponsel tidak tersentuh ketika pembicaraan sedang kondusif dan ketika orang sedang berbagi pendapat dengan kita.

  1. Tidak Pernah Bilang ‘Tolong’ atau ‘Terima Kasih’

Kata-kata Ajaib seperti ‘tolong’ atau ‘terima kasih’ adalah ungkapan terbaik untuk menunjukkan kerendahan hati.

Namun, banyak orang secara tidak sadar meremehkan kekuatan dari kata-kata sederhana ini dalam percakapan.

Mereka mungkin menganggap interaksi dengan santai, sehingga lupa untuk menunjukkan kata-kata sopan santun ini.

Terutama jika kita sedang berinteraksi dengan seorang teman dekat, kecanggungan terkadang melebur.

Kita mungkin lupa untuk berkata ‘tolong’ ketika meminta bantuan atau lupa mengucapkan ‘terima kasih’ setelah mendapatkan respon dari seseorang.

Frasa-frasa ini lebih dari sekedar ungkapan pengakuan dan rasa hormat, tapi menunjukkan keramahan kita.

Jadi, jika kita meremehkan kata-kata sederhana ini, kita akan dianggap kurang sopan atau tidak ramah.

  1. Selalu Menghindari Kontak Mata

Kontak mata adalah salah satu bahasa tubuh yang sangat efektif untuk membangun komunikasi yang bermakna.

Banyak orang mengabaikan kekuatan dari kontak mata, sehingga mereka selalu menghindari kontak mata ketika berbicara.

Faktanya, kontak mata justru menunjukkan keterlibatan dan ketertarikan kita dalam berinteraksi.

Jika kita terus mengabaikan kontak mata saat orang lain berbicara, itu justru membuat kita tampak tidak menghargai lawan bicara.

Selain itu, tanpa adanya kontak mata yang intens, kita justru seperti orang yang bersikap tidak sopan atau menganggap orang lain membosankan.

Kita perlu memahami pentingnya mempertahankan kontak mata agar membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai saat berbicara.

Namun, ini bukan berarti kita terus-menerus menatap orang yang berbicara, tapi menyeimbangkan kontak mata kita saat orang berbicara.

  1. Ingin Mendominasi Percakapan

Kita perlu memahami bahwa percakapan bukan tentang siapa yang banyak berbicara, tapi juga mendengarkan, terlibat, dan memahami.

Kita mungkin secara tidak sadar mendominasi percakapan untuk diri sendiri, dan tidak memberikan kesempatan orang lain berbicara.

Ini justru menunjukkan bahwa kita tidak memiliki kecerdasan sosial yang tinggi dan terlihat kasar di mata orang lain.

Dalam percakapan, semua orang harus saling menyeimbangkan kapan waktunya berbicara dan mendengarkan.

Memonopoli percakapan adalah hal yang sangat tidak sopan dan dianggap sebagai sikap kasar dalam bersosialisasi.

Oleh karena itu, kita perlu memahami pentingnya memahami dan mendengarkan pendapat orang lain, bukan hanya fokus agar kita terus berbicara.

  1. Tidak Menghargai Perasaan dan Pengalaman Orang Lain

Setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang harus dihargai, karena itu adalah cara untuk mengekspresikan dirinya.

Ketika kita berinteraksi dengan orang lain dan kita cenderung meremehkan perasaan dan pengalamannya, orang tersebut akan merasa tidak dihargai.

Mereka menganggap kita sebagai orang yang kurang berempati dan kasar, karena tidak mampu memahami pandangan orang lain.

Ini bisa terlihat ketika kita tidak membalas sapaan, tidak menanggapi pertanyaan, dan mengabaikan kehadiran seseorang.

 Meskipun kita mengalami hari yang buruk, kita perlu menunjukkan bahasa tubuh yang menghargai perasaan dan pengalaman orang lain.

Ini bukan tentang bersikap pura-pura atau munafik, tapi tentang memabangun interaksi yang saling menghormati dan menghargai.

  1. Memberikan Pernyataan Sarkas

Pernyataan sarkas bisa menjadi sebuah kebiasaan yang secara tidak sadar kita katakan ketika sedang berinteraksi.

Meskipun kita dalam situasi yang santai atau penuh canda tawa, kita perlu memahami bahwa pernyataan sarkas tidak bisa diterima semua orang.

Kita mungkin ingin mencairkan suasana, tapi itu justru membuat situasi menjadi canggung atau tegang.

Komentar sarkas seperti mengomentari gaya berpakaian, nada bicara, atau menirukan gerakan seseorang, itu bisa menjadi perilaku kasar.

Bahkan itu bisa dianggap sebagai perilaku agresif, meskipun kita menganggapnya sebagai candaan.

Oleh karena itu, kita perlu membangun kata-kata yang tepat untuk mendorong interaksi lebih kondusif dan bermakna.

EDITOR: Hanny Suwindari