← Beranda
Orang yang Membisukan Obrolan Grupnya Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Unik Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 16 September 2025 | 15.10 WIB
seseorang yang membisukan obrolan grup./Freepik/thanyakij-12

JawaPos.com - Dalam era digital yang penuh notifikasi, obrolan grup menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial.

Mulai dari grup keluarga, teman sekolah, hingga komunitas kerja, hampir semua orang pasti tergabung di dalamnya.

Namun, ada sebagian orang yang memilih menonaktifkan notifikasi grup atau bahkan keluar dari obrolan tersebut.

Tindakan ini sering menimbulkan tanda tanya: apakah mereka tidak suka bersosialisasi? Apakah sedang marah? Ataukah sekadar ingin tenang?

Dilansir dari Geediting pada Senin (15/9), menurut psikologi, orang yang menonaktifkan obrolan grup sebenarnya tidak selalu anti-sosial. Justru, mereka biasanya memiliki kecenderungan perilaku tertentu yang cukup unik.

Berikut adalah 7 perilaku khas yang kerap ditemukan pada mereka menurut sudut pandang psikologi:

1. Mereka Lebih Selektif dalam Interaksi Sosial

Orang yang menonaktifkan grup biasanya tidak suka membuang energi pada percakapan yang dianggap kurang penting.

Mereka lebih memilih berinteraksi secara personal dengan orang-orang terdekat dibanding membaca ratusan pesan grup yang sering kali tidak relevan.

Ini menandakan sifat selektif dan kemampuan memprioritaskan hubungan yang benar-benar bermakna.

2. Cenderung Menghargai Waktu dan Fokus

Dari sisi psikologi kognitif, terlalu banyak notifikasi bisa memecah konsentrasi dan menguras energi mental.

Orang yang mematikan obrolan grup sering kali sadar betul bahwa fokus adalah aset penting.

Mereka lebih senang memanfaatkan waktunya untuk bekerja, belajar, atau kegiatan yang produktif daripada terganggu oleh notifikasi tanpa henti.

3. Lebih Menyukai Kendali atas Hidupnya

Ada kecenderungan bahwa mereka merasa lebih nyaman ketika punya kendali atas ruang pribadi.

Menonaktifkan grup adalah bentuk self-regulation—mengatur apa yang masuk ke dalam pikirannya.

Hal ini membuat mereka tidak merasa "dipaksa" untuk ikut arus percakapan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

4. Sering Kali Introspektif dan Reflektif

Menurut psikologi kepribadian, orang yang tidak terlalu aktif di grup biasanya punya kecenderungan reflektif.

Mereka lebih suka berpikir dalam diam, menganalisis sesuatu secara mendalam, dan mengekspresikan diri dalam cara yang lebih privat dibanding diskusi ramai di ruang digital.

5. Menghindari Tekanan Sosial yang Tidak Perlu

Obrolan grup kadang membawa tekanan sosial terselubung: harus selalu membalas, ikut merespons, atau setidaknya memberi tanda "membaca".

Orang yang menonaktifkan grup biasanya punya kesadaran untuk tidak terbawa arus tekanan ini.

Mereka memilih menjaga kesehatan mental dengan mengurangi beban interaksi yang dianggap berlebihan.

6. Cenderung Mandiri dalam Mengambil Keputusan

Mereka yang mematikan obrolan grup umumnya tidak terlalu bergantung pada validasi sosial.

Keputusan hidupnya tidak harus dipengaruhi oleh opini yang muncul di ruang percakapan ramai.

Kemandirian psikologis ini membuat mereka nyaman berjalan sesuai dengan ritme hidupnya sendiri.

7. Menjaga Energi Emosionalnya

Percakapan di grup sering kali penuh bercanda, gosip, bahkan kadang perdebatan yang bisa menguras emosi.

Orang yang menonaktifkan notifikasi sadar bahwa energi emosional perlu dijaga.

Mereka tahu batas kapan harus terlibat, dan kapan harus menarik diri demi ketenangan batin.

Kesimpulan

Menonaktifkan obrolan grup bukanlah tanda anti-sosial, melainkan bentuk kesadaran diri.

Menurut psikologi, orang-orang ini biasanya selektif, reflektif, dan menghargai ruang pribadi.

Mereka memilih kualitas interaksi dibanding kuantitas, serta berusaha menjaga fokus, energi, dan kesehatan mental.

Maka, jika ada teman atau kerabat yang sering mematikan obrolan grup, jangan buru-buru menilainya negatif.

Bisa jadi, mereka sedang berlatih cara hidup yang lebih seimbang—memilih diam bukan karena tidak peduli, tetapi justru karena peduli pada ketenangan dirinya sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari