← Beranda
Mengapa Beberapa Orang Justru Merasa Kesepian Meski Berada di Tengah Keramaian dan Punya Banyak Teman?
Oliviea Novrimada Zahra• Selasa, 9 September 2025 | 07.40 WIB
Seorang wanita yang sedang merenung, matanya menunjukkan ekspresi kosong di tengah keramaian. (Freepik)

JawaPos.com – Saat ramai justru hampa. Bayangkan Anda sedang berada di pesta penuh tawa, musik mengalun, dan teman-teman tampak menikmati suasana.

Namun, entah kenapa ada perasaan kosong yang tak bisa dijelaskan.

Anda tersenyum, ikut bercanda, tapi di dalam hati muncul rasa terasing.

Fenomena ini bukan hal langka. Banyak orang mengaku sering merasa kesepian meski punya lingkaran sosial luas.

Kesepian ternyata tidak selalu berkaitan dengan jumlah orang di sekitar, melainkan lebih pada kedalaman ikatan emosional yang kita rasakan.

Kehadiran Fisik Bukan Jaminan Koneksi Emosional

Baca Juga: Apakah Ada Hubungan Antara Kebiasaan Selfie dengan Tingkat Narcissism yang Dimiliki Seseorang?

Banyak orang berpikir bahwa selama mereka dikelilingi teman atau keluarga, rasa kesepian tak mungkin muncul.

Padahal, menurut penjelasan Mental Health America, berada di tengah kerumunan bukan berarti seseorang merasa terhubung.

Justru, ada kalanya keramaian memperkuat rasa keterasingan ketika kita tidak menemukan orang yang benar-benar bisa memahami perasaan terdalam kita.

Artinya, inti dari persoalan ini bukanlah soal berapa banyak teman yang dimiliki, melainkan seberapa berkualitas hubungan yang terjalin.

Hubungan Dangkal dan Ekspektasi yang Tak Sejalan

Baca Juga: 4 Rahasia Hidup Shio Kuda, Benarkah Kemandirian Mereka Bisa Jadi Kunci Karier Sukses?

Punya banyak teman tidak otomatis membuat hidup terasa penuh makna.

Jika hubungan yang terjalin hanya sebatas obrolan ringan tanpa kedekatan emosional, rasa kesepian bisa semakin tajam.

American Behavioral Clinics menulis bahwa ekspektasi yang tidak terpenuhi dari sebuah hubungan juga menjadi penyebab utama seseorang merasa terasing, meski lingkaran sosialnya cukup besar.

Misalnya, kita berharap dukungan emosional dari seorang teman, tapi yang diberikan hanya respons singkat atau basa-basi. Ketika hal ini berulang, interaksi jadi terasa hampa dan tidak memuaskan.

Topeng Sosial yang Melelahkan

Tak jarang, seseorang berusaha menampilkan diri yang ‘sempurna’ agar diterima di lingkungan sosialnya.

Mereka mengenakan semacam ‘topeng’ untuk tampil ceria, percaya diri, bahkan selalu punya bahan candaan padahal di dalam hati merasa rapuh.

Healthy Gamer menyebut bahwa kebiasaan ini membuat hubungan sosial terasa tidak otentik, karena kita tidak sepenuhnya menjadi diri sendiri.

Akibatnya, walau dikelilingi banyak orang, seseorang tetap bisa merasa sendirian karena tidak ada ruang untuk membuka diri secara jujur.

Antara Introvert, Ekstrovert, dan ‘Otrovert’

Banyak orang terbiasa menggolongkan diri sebagai introvert atau ekstrovert.

Namun, The Guardian pernah mengulas istilah menarik bernama ‘otrovert’ yakni orang yang secara sosial bisa tampil terbuka, namun lebih nyaman dengan interaksi kecil yang intim dibandingkan berada di keramaian besar.

Bagi tipe ini, pesta besar atau kumpul-kumpul yang penuh orang justru melelahkan.

Rasa kesepian bisa muncul bukan karena kurang teman, melainkan karena bentuk interaksinya tidak sesuai dengan kebutuhan batin mereka.

Distorsi Cara Pandang saat Kesepian

Kesepian juga bisa memengaruhi cara kita menafsirkan dunia sosial.

The Guardian melaporkan bahwa orang yang kesepian cenderung mengingat pengalaman negatif lebih kuat ketimbang yang positif, sehingga mudah merasa ditolak atau diabaikan meski kenyataannya tidak selalu begitu.

Distorsi ini memperkuat lingkaran kesepian, karena seseorang mulai menjauh dari interaksi yang sebenarnya bisa membangun koneksi baru.

Mengapa Rasa Kesepian Terus Menghantui?

Jika ditarik benang merah, kesepian meski berada di tengah keramaian muncul karena kebutuhan emosional terdalam tidak terpenuhi.

Manusia pada dasarnya butuh merasa dimengerti, diterima, dan dihargai.

Ketika sebuah pertemanan hanya berjalan di permukaan tanpa ruang untuk keintiman emosional, kesepian akan terus hadir.

Medium menyoroti perubahan gaya hidup modern yang serba cepat juga membuat banyak orang kehilangan waktu untuk membangun ikatan yang benar-benar dalam.

Akibatnya, kita punya banyak kenalan, tapi sangat sedikit orang yang bisa kita sebut sebagai teman sejati.

Untuk mengurangi rasa kesepian, langkah pertama adalah berani menurunkan ;topeng sosial’ dan membiarkan diri lebih autentik.

Membuka percakapan yang jujur, berbagi cerita pribadi, atau mendengarkan dengan sepenuh hati bisa jadi awal terbentuknya hubungan yang lebih dalam.

Tak perlu terburu-buru mencari banyak teman baru, karena kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas.

Terkadang, satu hubungan yang tulus sudah cukup untuk menepis rasa hampa di tengah keramaian.

Kesepian di tengah keramaian bukanlah tanda bahwa seseorang lemah atau aneh. Itu hanyalah sinyal bahwa kebutuhan emosional mereka belum terpenuhi.

Dengan memahami bahwa kesepian bukan sekadar tentang jumlah teman, melainkan kualitas koneksi yang dimiliki, kita bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat dan bermakna.

Jadi, jika Anda pernah merasa sendirian meski tidak benar-benar sendiri, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian dalam pengalaman itu.

Dan kabar baiknya, ada banyak cara untuk mulai menemukan keterhubungan yang sesungguhnya.

EDITOR: Hanny Suwindari