JawaPos.com – Rasa cemas adalah hal wajar yang dialami setiap orang.
Namun, jika muncul berlebihan hingga mengganggu aktivitas, ini bisa menjadi tanda adanya kebiasaan tertentu yang perlu diwaspadai.
Menurut psikolog, kecemasan tidak selalu datang dari situasi besar, tetapi sering kali dipicu rutinitas kecil yang tanpa sadar dilakukan setiap hari.
Apa saja kebiasaan itu?
Dalam sebuah konten TikTok, psikolog Jiemi Ardian menjelaskan bahwa salah satu penyebab cemas berlebihan adalah kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti. Informasi yang berlimpah sering membuat otak lelah, apalagi jika konten yang dilihat bernuansa negatif. Alih-alih rileks, justru menambah rasa cemas dan perasaan tidak aman.
Selain itu, akun @katapsikologi menyebutkan bahwa overthinking sebelum tidur juga memperburuk kecemasan. Pikiran yang terus memutar kemungkinan buruk membuat otak tidak beristirahat dengan baik. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa lebih lelah keesokan harinya.
Baca Juga: Jangan Anggap Remeh Overthinking! Psikologi Ungkap Penyebab Tubuh Cepat Lelah dan Cara Mengatasinya
Mengapa kebiasaan ini berbahaya?
Psikolog Dra.Yuli Suliswidiawati melalui TikTok menjelaskan bahwa kecemasan bisa mengganggu sistem saraf, sehingga tubuh memproduksi hormon stres berlebih. Dalam jangka panjang, hal ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari sakit kepala kronis hingga masalah pencernaan.
Sementara itu, akun @sundarindah menambahkan bahwa kurangnya manajemen waktu dan gaya hidup tidak seimbang juga memicu cemas. Misalnya, menunda pekerjaan hingga menumpuk atau mengonsumsi kafein berlebih dapat membuat tubuh semakin waspada dan sulit tenang.
Bagaimana cara mengatasinya?
Pakar psikologi menyarankan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi dampak kebiasaan pemicu cemas, di antaranya:
-
Batasi waktu layar
Atur durasi penggunaan media sosial agar otak tidak terus-menerus menerima informasi. -
Journaling
Menulis pikiran sebelum tidur membantu mengurangi overthinking dan membuat tidur lebih nyenyak. -
Mindfulness
Latihan pernapasan atau meditasi lima menit sehari terbukti efektif menurunkan kecemasan. -
Atur pola hidup
Kurangi konsumsi kafein, perbanyak aktivitas fisik, dan disiplin mengelola waktu agar beban pikiran berkurang. -
Cari dukungan sosial
Berbicara dengan teman atau keluarga membantu meredakan cemas, bahkan bisa menjadi cara untuk menemukan solusi.
Mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk bukanlah hal instan. Dibutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran untuk benar-benar melihat hasilnya. Banyak orang berharap bisa langsung bebas dari rasa cemas, padahal proses ini harus dijalani bertahap.
Awali dari hal kecil, misalnya mengurangi waktu menatap layar selama 30 menit setiap hari atau membiasakan diri menuliskan pikiran sebelum tidur. Seiring berjalannya waktu, perubahan sederhana ini dapat memberi dampak besar bagi kesehatan mental. Jika rasa cemas semakin berat hingga mengganggu aktivitas, jangan ragu mencari bantuan profesional. Dengan kombinasi usaha pribadi, dukungan sosial, serta bimbingan ahli, kecemasan berlebihan dapat dikelola sehingga hidup terasa lebih seimbang dan berkualitas.
Kecemasan sendiri sering kali tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh kebiasaan sehari-hari. Scrolling media sosial tanpa henti, overthinking, gaya hidup tidak sehat, hingga kurangnya manajemen waktu merupakan beberapa pemicu utama. Dengan kesadaran, latihan pengendalian diri, dan perubahan pola hidup, kecemasan bisa diminimalisasi.
Penting juga dipahami bahwa kecemasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal tubuh dan pikiran bahwa ada hal penting yang harus diperhatikan. Dengan mengenali pola kebiasaan yang memicu kecemasan, kita dapat lebih cepat mengambil langkah pencegahan. Keseimbangan emosi memang tidak bisa dicapai dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil yang dilakukan akan memberikan perubahan berarti. Kuncinya terletak pada konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk mencari bantuan ketika diperlukan.