JawaPos.com – Kamu mungkin pernah bertanya kenapa orang yang pengetahuannya minim justru terdengar paling yakin, paling lantang, dan paling ngotot membenarkan pendapatnya?
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Ada penjelasan psikologis yang dikenal sebagai Dunning Kruger effect.
Ini bisa menerangkan mengapa percaya diri dan pengetahuan sering tidak berjalan beriringan.
Apa Itu Dunning Kruger Effect?
Dilansir dari situs Verywell Mind, Dunning Kruger effect adalah bias kognitif ketika orang yang kemampuannya rendah di suatu bidang justru menganggap dirinya lebih mampu daripada kenyataannya.
Alasannya karena mereka kurang memiliki metakognisi atau kemampuan untuk menilai seberapa baik atau buruk performa diri sendiri sehingga tidak sadar pada keterbatasannya.
Sebaliknya, orang yang benar-benar kompeten cenderung lebih hati-hati, bahkan kadang meremehkan kemampuannya sendiri karena menyadari luasnya hal yang belum mereka ketahui.
Orang dengan kemampuan rendah kerap menggembungkan penilaian terhadap dirinya, sementara yang mahir cenderung lebih rendah hati terhadap penilaiannya.
Psychology Today juga menegaskan bahwa efek ini tidak hanya muncul pada orang yang benar-benar tidak kompeten.
Hampir semua orang punya titik lemah di bidang tertentu sehingga rentan terseret bias yang sama.
Bahkan individu dengan kemampuan di atas rata-rata tetap bisa overestimate performanya di domain lain dari penalaran logis hingga pengetahuan finansial.
Artinya, efek ini luas dan bisa muncul di banyak konteks kehidupan, termasuk saat berdebat di internet.
Mengapa yang Minim Ilmu Bisa Terdengar Paling Yakin?
Psychology Today menyebutkan bahwa orang cenderung merasa sudah benar karena tidak punya alat mental untuk menyadari celah logikanya sendiri.
Ini yang membuat nada bicara mereka terdengar yakin, padahal landasan argumennya rapuh.
Ketika orang seperti ini menguasai sedikit konsep ilmu, Dunning Kruger effect menciptakan ilusi bahwa ia menguasai keseluruhan peta masalah.
Ibarat baru hafal peta satu gang, tapi merasa siap jadi tour guide satu kota.
Verywell Mind menyebutkan fenomena ini sebagai bagian dari overconfidence yaitu bias meyakini kemampuan melebihi fakta.
Sosial Media Menghadiahi Keberanian, Bukan Ketelitian
Di media sosial, satu komentar ‘sok tahu’ bisa menyulut debat panjang lebih cepat daripada membuat mie instan.
Algoritma menyukai konten yang berani, tegas, dan emosional. Akibatnya, pernyataan yang yakin meski salah sering lebih banyak mendapat impresi ketimbang penjelasan yang hati-hati dan penuh nuansa.
Ketika ‘hadiah sosial’ seperti likes dan views lebih mudah diraih dengan gaya yakin, orang terdorong untuk terus tampil mantap.
Lingkungan digital bisa menyaring informasi yang sesuai dengan keyakinan kita.
Ketika hanya mendengar pendapat sewarna, kepercayaan diri meningkat, sementara keberagaman fakta dan tafsir jadi jarang terlihat.
Padahal efek gema (echo chamber) ini memperkuat keyakinan, bukan kebenaran.
Semakin nyaring seseorang berbicara, semakin kita menganggapnya ‘pasti tahu’.
Padahal, volume dan validitas tidak punya korelasi. Psychology Today mencontohkan dalam banyak studi, yang paling buruk performanya justru paling besar melebih-lebihkan kemampuan.
Ciri-Ciri ‘Sok Tahu’ di Kolom Komentar
Psychology Today menyebutkan mereka tidak nyaman dengan kalimat ‘tergantung konteks’ atau ‘diperlukan data tambahan’.
Ketika dihadapkan dengan sumber kredibel, responnya tidak hormat melainkan berkelit bahkan bisa menyerang pribadi. Mereka cenderung menolak ralat dan mengganti topik.
Mereka jarang membandingkan sumber, lebih suka yang mengafirmasi keyakinan awal. Koleksi ‘fakta’ juga berasal dari sumber yang itu-itu saja.
Dampaknya Bisa Jadi Misinformasi hingga Polarisasi
Di ruang publik digital, kombinasi overconfidence dan akses siar tanpa filter bisa menciptakan medan subur bagi misinformasi.
Orang yang sangat yakin meski salah lebih cepat membagikan klaim yang belum terverifikasi.
Verywell Mind menekankan bahwa overconfidence dapat mendorong keputusan buruk dan mengabaikan umpan balik yang penting.
Akibatnya pada skala sosial bisa berujung pada penyebaran informasi keliru dan ketegangan antar kelompok.
Polarisasi pun meningkat karena nada yang keras menarik engagement dan meminggirkan suara yang pelan tapi akurat. Hasilnya, diskusi berubah menjadi adu gengsi, bukan tukar gagasan.
‘Kok Aku Juga Pernah Gitu?’, Ini Bias yang Manusiawi
Penting dicatat, semua orang berpotensi terjebak. Psychology Today mengingatkan, bahkan orang dengan basis pengetahuan kuat bisa mengira dirinya paham di bidang lain karena kemampuan di satu domain tidak otomatis pindah ke domain lain.
Ini bukan vonis karakter, melainkan bias kognitif yang muncul ketika kepercayaan diri tumbuh lebih cepat daripada kompetensi.
Cara Menghindari Jadi ‘Sok Tahu’ dan Menghadapi yang Begitu
Dilansir dari situs Verywell Mind, cara menghindarinya yaitu dengan melatih metakognisi dengan menanyakan seberapa yakin dan berdasarkan apa. Biasakan menilai kualitas argumen, bukan hanya ketegasan gaya.
Semakin kita belajar, semakin sadar bahwa dunia itu kompleks. Orang yang kompeten justru tampak lebih rendah hati karena mengetahui batas dirinya.
Maka cara menghadapi ‘sok tahu’ adalah dengan mencari tahu.
Ini adalah cara memitigasi Dunning Kruger termasuk belajar terus-menerus dan mencari umpan balik.
Jika ada yang menunjukkan sumber kredibel yang bertentangan dengan pendapatmu, berterima kasihlah dan coba koreksi kembali pendapatmu. Respons begini bisa menyehatkan diskusi dan membangun reputasi.
Saat beropini, beri label tingkat keyakinan sebesar 60%, 80%, atau 95%. Teknik ini mengingatkan kita bahwa pendapat bukan kebenaran mutlak dan membuka ruang revisi.
Mengapa Kita Sering Tertipu oleh Gaya Yakin?
Psychology Today menyebutkan bahwa otak cenderung menghemat energi kognitif sehingga menyukai jawaban cepat dan pasti, sebab mengurangi beban berpikir.
Terkadang bahasa emosional itu menular. Kalimat yang tegas, lucu, atau menyentil bisa memancing keterlibatan meski isinya dangkal.
Banyak pengikut tidak otomatis berarti banyak validasi ilmiah. Orang dengan retorika bagus bisa terdengar ‘pintar’ meski isi tidak presisi. Di sini lah status dan popularitas turut mengelabui.
Orang yang minim ilmu bisa terdengar paling berisik bukan karena mereka jahat, tapi karena otak manusia memang punya bias.
Ketika belum cukup tahu, kita sulit tahu bahwa kita belum tahu. Solusinya bukan membungkam semua orang, melainkan mendidik diri untuk mengenali batas pengetahuan, memperkaya perspektif, dan berani merevisi keyakinan saat bertemu bukti baru.
Dengan begitu, ruang diskusi baik di media sosial maupun kehidupan nyata menjadi lebih sehat, informatif, dan manusiawi.