JawaPos.com – Pernah merasa sulit berkata “tidak” dan selalu ingin menyenangkan orang lain meski itu membuat diri sendiri stres?
Fenomena ini dikenal sebagai people pleasing, perilaku yang kerap muncul karena dorongan psikologis untuk diterima dan diakui oleh lingkungan sekitar.
Menurut Psikolog UGM, people pleasing bisa berasal dari pola asuh dan pengalaman sosial sejak kecil.
Orang yang terbiasa mengorbankan kebutuhan sendiri demi menyenangkan orang lain cenderung mengembangkan rasa bersalah jika menolak permintaan, sehingga sulit menetapkan batasan.
Tekanan sosial, budaya kerja yang kompetitif, dan paparan media sosial yang menekankan kesempurnaan turut memperkuat perilaku ini.
Baca Juga: Harta Melimpah Ruah! 3 Weton Ini Konon Punya Kekayaan yang Bisa Beli Negara
Halodoc menjelaskan, ciri-ciri orang dengan kecenderungan people pleasing antara lain: selalu ingin disukai, takut menimbulkan konflik, sulit menolak permintaan, dan sering mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri.
Kondisi ini bisa menimbulkan stres berkepanjangan, kelelahan mental, bahkan rasa hampa emosional.
Psikologi Today menambahkan, orang yang sering people pleasing kerap mengabaikan kebutuhan pribadi, sehingga risiko burnout lebih tinggi.
Mereka juga lebih mudah merasa cemas atau gelisah karena terus memikirkan pendapat orang lain.
Baca Juga: Gaya Belajar Observasi: Alasan INFJ, INFP, dan ISTP dalam MBTI Lebih Mudah Menyerap Ilmu
Studi dari UIN Sunan Ampel (2023) menunjukkan bahwa perilaku people pleasing berkorelasi dengan rendahnya harga diri dan ketergantungan pada validasi eksternal.
Contohnya, seorang karyawan yang selalu menyetujui permintaan tambahan dari rekan kerja meski sudah kelelahan, atau mahasiswa yang rela mengorbankan waktu belajar untuk membantu teman agar diterima.
Dalam dunia digital, media sosial sering memperkuat kecenderungan ini, karena orang cenderung membandingkan diri dengan pencapaian atau kehidupan orang lain, sehingga muncul tekanan untuk selalu menyenangkan orang lain dan terlihat “sempurna.”
Dampak people pleasing bagi kehidupan sehari-hari cukup signifikan:
-
Kesehatan mental terganggu. Rasa bersalah, cemas, dan stres yang menumpuk bisa memicu gangguan tidur, depresi, dan penurunan motivasi.
-
Produktivitas menurun. Fokus terpecah karena selalu memikirkan kebutuhan orang lain, sehingga pekerjaan dan tugas pribadi terbengkalai.
-
Hubungan sosial yang timpang. Orang yang selalu berkorban bisa dimanfaatkan orang lain, dan hubungan interpersonal menjadi tidak sehat.
-
Dampak jangka panjang. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa menimbulkan burnout, gangguan mental kronis, dan hambatan dalam perkembangan karier atau akademik.
Namun, perilaku people pleasing bisa dikelola dengan beberapa strategi. Psikologi Central menyarankan langkah-langkah berikut:
-
Kenali batasan diri. Sadari kapan harus berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Menetapkan batasan adalah bentuk self-care yang penting.
-
Evaluasi motivasi. Tanyakan pada diri sendiri apakah tindakan dilakukan untuk orang lain atau untuk kesejahteraan pribadi.
-
Latih komunikasi asertif. Ungkapkan kebutuhan dan pendapat dengan tegas tapi sopan, sehingga tetap menjaga hubungan sosial.
-
Fokus pada self-compassion. Terima diri sendiri tanpa menuntut selalu sempurna atau diterima semua orang.
-
Coba teknik mindfulness dan self-affirmation. Meditasi, pernapasan sadar, dan afirmasi positif membantu mengurangi tekanan untuk menyenangkan orang lain.
-
Self-reflection secara rutin. Menulis jurnal atau merenung bisa membantu memahami motivasi di balik tindakan people pleasing.
-
Strategi menghadapi tekanan sosial. Buat rencana untuk menolak permintaan yang berlebihan dengan cara sopan dan tegas.
-
Cari dukungan profesional. Jika perilaku people pleasing sudah mengganggu keseharian, konsultasi psikolog bisa membantu memberikan strategi coping yang tepat.
Berkeley Wellbeing menekankan, kunci menghadapi people pleasing adalah kesadaran diri dan latihan bertahap untuk mengutamakan kesejahteraan pribadi. Dengan demikian, hubungan dengan orang lain tetap terjaga, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Pada akhirnya, people pleasing bukan tanda kelemahan, tetapi sinyal bahwa individu perlu menetapkan batasan yang sehat. Mengenali tanda-tanda sejak awal dan menerapkan strategi coping dapat membantu menjalani hidup lebih seimbang dan produktif.